30 Kasus Pemalakan, Lembak Tambah Rawan

BINDURIANG – Meski jalur lintas Curup – Lubuk Linggau, khususnya di wilayah Kecamatan Binduriang (Lembak, red) sudah benar-benar kondusif dilewati kendaraan. Namun tingkat keamanan semakin rawan. Sejak pemblokiran jalan dibuka Selasa (19/6) hingga kemarin (21/6) tercatat ada 8 kasus perampokan dan pemalakan yang laporannya masuk ke Polres Rejang Lebong (RL) dan Polsek Sindang Kelingi.

Bahkan dua korban diantaranya keluarga dan istri anggota TNI. Yakni Burniat (38), warga Desa Belumai I, Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) yang merupakan kakak anggota Yonif 144 Jaya Yudha Curup. Serta istri Kapten. Arni, anggota Denpom Bengkulu. Sedangkan untuk kasus pengrusakan, penjarahan, perampokan dan pemalakan sejak pecah bentrok warga dengan polisi Minggu malam (17/6) tercatat lebih 30 kasus.

Meningkatnya aksi kejahatan ini dampak negatif dari tidak adanya polisi yang bertugas di wilayah Lembak pascabentrok. Penjagaan terbatas di Polsek Sindang Kelingi, Polsek Padang Ulak Tanding (PUT) dan Polsek Kota Padang. Sedangkan wilayah Kecamatan Binduriang yang masuk wilayah hukum Polsek PUT terbebas dari penjagaan polisi.

Kebijakan Kapolda Bengkulu, Brigjend. Pol. Burhanudin Andi, SH yang melarang personelnya masuk ke kawasan Binduriang membuat setiap kendaraan yang melintas menjadi sasaran empuk kawanan bandit perampok dan preman yang kerap beraksi di jalur lintas ini.  Terutama pengendara dari luar RL dan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan yang tidak tahu di wilayah ini sempat pecah bentrok.

 

Warga Lain Emosi

Mendapati kondisi jalur lintas Curup – Lembak yang semakin rawan kejahatan pascabentrok mendapat kecaman keras dari warga luar Binduriang. Diantaranya Toni Borneo, tokoh masyarakat Padang Ulak Tanding (PUT). ‘’Kalau Kapolda tidak segera memerintahkan polisi masuk ke wilayah Binduriang, kejahatan semakin meningkat. Sebab kejahatan yang terjadi saat ini murni pidana. Tidak ada kaitannya lagi dengan bentrok warga dengan polisi. Jadi pelaku kejahatan ini harus ditindak tegas,’’ kata Toni.

Selaku warga Lembak, ia tidak ingin nama Lembak tercoreng hanya karena ulah segelintir orang (pelaku kejahatan, red) yang ingin memperkeruh situasi. Terlepas sengaja atau tidak, tindakan polisi menembak warga dalam bentrok itu diakuinya tindakan yang salah. Tetapi tindakan polisi membiarkan terjadinya tindakan kejahatan tanpa ada penindakan, jelas melanggar tupoksi Polri selaku penegak hukum.

Hal senada disampaikan Ketua Majelis Pemusyawaratan Mahasiswa (MPM) STAIN Curup, Aditya Chandra Utama Gumay yang mendesak polisi melakukan penjagaan di setiap titik rawan kejahatan jalur lintas Curup – Lubuk Linggau. Agar jangan sampai terjadi pergolakan dari masyarakat lain. ‘’Kebijakan Kapolda pejam mata dengan kejahatan di lembak ini jelas memancing emosi warga lain. Jangan sampai warga lain bertindak dengan caranya sendiri menangani kejahatan ini,’’ pungkas Aditya.

 

Istri Perwira TNI Dirampok

Salah satu korban perampokan dan pemalakan yang terjadi Kamis (21/6) kemarin adalah Arifin Lubis (20), sopir travel Toyota Innova nopol B 868 PY, warga Jalan RE Martadinata, Kota Bengkulu.

Uang jalan Rp 1 juta di kantongnya dirampas kawanan pelaku yang berjumlah 6 orang. Termasuk kaca depan mobilnya yang pecah lantaran dihantam dengan kayu. Kawanan pelaku yang berjumlah 6 orang itu juga menggasak tas berisi handphone dan uang beserta perhiasan milik seorang penumpang yang merupakan istri Kapten. Arni, anggota Denpom Bengkulu. Termasuk 3 orang penumpang lainnya. Kerugian mencapai Rp 120 juta.

Peristiwa terjadi dini hari pukul 00.30 WIB di perbatasan Desa Belitar Muka – Desa Cahaya Negeri, Kecamatan Sindang Kelingi. Diceritakan Arifin, saat kejadian itu ia melajukan mobilnya dari arah Lubuk Linggau – Curup dari perjalanan Kota Palembang, Sumatera Selatan menuju Kota Bengkulu. Saat melintas di Tempat Kejadian Perkara (TKP), tiba-tiba saja mobilnya dihadang 6 pelaku yang mengendarai 2 motor.

‘’Tiba-tiba saja 2 motor melintang di jalan sehingga saya menginjak rem. Saat itulah kaca mobil dipukul dengan kayu dan ada pelaku yang memegang senjata api (senpi, red). Lantas pelaku menyulut api rokok ke muka saya dan meminta uang rokok. Setelah diberi, kembali pelaku meminta dompet dan yang lainnya. Setelah itu pelaku merampas semua barang-barang bawaan penumpang saya,’’ kata Arifin.

Usai menggasak seluruh barang di dalam mobil, pelaku melarikan diri ke arah Lubuk Linggau. Dikonfirmasi, Kapolres Rejang Lebong (RL), AKBP. I Ketut Yudha Karyana, S.Ik melalui Kasat Reskrim, AKP. Hardidinata mengaku sudah menerima laporan. Sampai sejauh ini tindakan yang baru bisa diambil meminta keteranan korban. ‘’Untuk pelaku masih kami selidiki dan perkara ini pasti kami tindaklanjuti,’’ tegas Hardidinata.

 

Tindak yang Langgar Protap

Sementara itu, Kapolda Bengkulu Brigjend Pol Drs. Burhanuddin Andi, SH, MH dinilai perlu memperlajari tindakan yang dilakukan anggota polisi terkait insiden bentrok berdarah dengan warga Kecamatan Binduriang, Rejang Lebong, Minggu (17/6). Bila ditemukan ada anggota yang melakukan tindakan tidak sesuai dengan prosedur tetap (protap), Kapolda harus meminta pertanggungjawaban anggota tersebut.

“Kalau berlebihan atau sudah di luar dari Protap, tentunya Kapolda harus memintai pertanggungjawaban oknum anggota yang melakukan tindakan berlebihan itu. Kapolda juga wajib memberikan sanksi kepada oknum anggota tersebut,” kata Pengamat Hukum Bengkulu yang juga Sekretaris Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Bengkulu, Elektison Somi.

Bila tindakan yang dilakukan anggota polisi tersebut sesuai protap, sambung Elektison, masyarakat harus memahami tindakan anggota polisi tersebut sebagai upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang. Bila ada dugaan pelanggaran hukum tidak disikapi aparat penegak hukum, maka bisa menjadi preseden buruk.

“Negara kita ini adalah negara hukum. Terhadap dugaan pelanggaran hukum, tentu aparat penegak hukum harus menyikapinya. Kalau tidak, berarti negara kita ini bukan lah negara hukum. Hal ini juga harus dipahami secara bijaksana oleh masyarakat, termasuk warga Kecamatan Binduriang,” kata Elektison.

Elektison menambahkan, hak-hak masyarakat di Kecamatan Binduriang tersebut wajib dihormati dan dilindungi. Namun, hak-hak masyarakat bukan warga Binduriang juga wajib dihormati dan dilindungi. Seperti hak untuk merasa aman dan nyaman saat melewati daerah Binduriang yang dikenal rawan kejahatan. Untuk itu, masyarakat di Binduriang diminta untuk menghormati dan melindungi hak masyarakat bukan warga Binduriang.

“Tentunya pula, aparat kepolisian berkewajiban untuk melindungi hak-hak masyarakat Binduriang dan masyarakat bukan warga Binduriang. Saya kira, warga Binduriang bersama aparat kepolisian juga perlu menghilangkan imej bahwa di sana sebagai daerah rawan kejahatan. Imej kurang bagus tersebut jangan dibiarkan saja,” kata Elektison. (sca/dmi)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

19 Responses

  1. negara kita bener negara hukum. yang salah di hukum.saya minta ke adilan tentangg curmon perampokan di jalan lintas curup,,,sudah 100 orang melapor tapi gak 1 motor pun kembali kepada pemiliknya.motor yang sudah di ambil dari desa curup jangan di kembalikan lagi.karna motor sebanyak 32 motor itu motor punya orang yang di rampas di curup.kami inggin kan curup di buat selaknyaknya di hukum.karna kejahatan yg di buat.sudah melebihi batas hukum.sewajarnya di tembak mati.bila aparat kepolisian tidak tegas pasukan timm brimom banyak jangan takut sama desa kecil karna lama2 tidak sampai di sini saja.lambat tahun pasti ada lagi kejahatan seperti ini.tolong di tindak lanjuti.nb: motor di tahan dulu jangan di kembalikan jika surat2 tidak sah,,,pada pemiliknya.

  2. pak polisi dan segenap warga negara yg taat hukum, izinkan kmi yg menjadi korban kejahatan di lembak menggunakan hukum rimba berhubung tidak adnya hukum negara yg berlaku disana. sekali lg mohon izin, jka nanti ada berita dri daerah lembak yg agak sadis atau benar2 sadis harap dimaklumi. trima ksh.

  3. memang kejahatan seperti itu harus di basmi dengan hukum rimba atau polisi membrantas mereka dengan tembak mati di tempatpelakunya.tolong pak kapolda pikirkan itu kalau tidak mau warga luar daerah itu menghakiminya dengan cara nya sendiri.

  4. Aktivitas ekonomi masyarakat Bengkulu akan sangat terganggu dengan kondisi ini. Kami berharap polisi bertindak segera atas gangguan keamanan yg terjadi saat ini. karena jika tidak, maka Bengkulu akan semakin tersisih karena tidak ada lagi aktivitas ekonomi yg bisa dilakukan via jalur Bengkulu – Lubuk Linggau..

  5. bndit-bandit …. memang harus di basmi dan lebih aman lagi ada kan penembak misterius seperti di tahun 1980 an atau kalau memang polisi tidak berani,,,,maka suatu saat akan terjadi perang antar suku krn ulah segelintir bandit-bandit kampug atau dusun,,,,

  6. negara kita adalah negara hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang menang, setuju kah ???…….

  7. kapolda bengkulu, kapolres rejang lebong turun saja karena anda tidak bisa menegakkan hukum. Ditangan anda hukum jadi mandul, pemalak di jalan curup-lubuklinggau 10 ribu-50 rb anda katakan wajar. sungguh keterlaluan anda berdua ini…

  8. tempat itu emang rawan dari dulu.., dan setau saya polisi ga berbuat apa apa

  9. HARUS SAMPAI KAPAN PAK KAPOLDA ?????
    ATAU HARUS TUNGGU NYAWA MELAYANG DULU BARU ANDA BERTINDAK ??????
    SUDAH TAHU KEJAHATAN MASI SAJA DIBIARKAN,ANDA HANYA MELIHAT TANPA BERBUAT UNTUK RAKYAT YA SAMA JUGA DENGAN MENDUKUNG KEJAHATAN ITU SENDIRI..TINDAK TEGAS KIRIM PETRUS 2012 KAN ANDA PASTI SUDAH ADA DATA2 PENJAHATNYA.

  10. musim liburan telah tiba,biasanya banyak wisatawan lokal dari linggau dan sekitarnya melancong ke curup dan bengkulu,tapi karena lembak masih membara,,banyak yang takut ke curu/bengkulu,,hal ini berimbas pada penurunan PAD sektor pariwisata….siapa yang salah ???

  11. wahai warga bengkulu yang ingin melintas curup-lubuk linggau …..kita harus mempersiapkan senjata demi keselamatan kita yang melintas di daerah kepala curup dan sekitar nya…. krn di daerah kepala curup dan sekitar nya kebal hukum dan demi keselamatan kita semua yg melintas daerah tersebut….wassalam warga benkulu

  12. Saya orang Lembak. Tapi betapa geramnya saya dengan ulah bandit-bandit yang beroperasi di wilayah Lembak ini. Harus diakui, sebagian mereka adalah orang Lembak dan sebagian lagi pendatang yang memanfaatkan situasi ini. Hukum jangan tunduk! Tegas! Harus TEGAS! Ini bukan masalah Lembak atau Bukan Lembak, tapi masalah hukum! Hukum harus TEGAK! Tak perlu banyak birokrasi, Pak! Incar saja pelakunya, tembak mati saja di tempat!!!

  13. Hukum jangan tunduk! Tegas! Harus TEGAS! Ini bukan masalah Lembak atau Bukan Lembak, tapi masalah hukum! Hukum harus TEGAK! Tak perlu banyak birokrasi, Pak! Incar saja pelakunya, tembak mati saja di tempat!!!

  14. pak kapolda kenapa sampai saat ini pihak kepolisian blm melakukan tindakan apapun. km masyarakat sdh sangat resah dengan aksi perampasan, pemalakan dan perampokan di lembak.bagaimana kerugian kami (Mobil dirusak, dibakar barang kami yg dijarah apa bpk kapolda mau ganti)kami sangat tdk setuju tndkan bpk yg memberikan santunan dan menaikan haji bagi keluarga pelaku)
    Pak kapolda Jabatan anda adl. amanah maka lakukan tindakan tegas tembak ditempat bg pelaku tsbt kami selalu mendukung polisi. hidup Polri

  15. Kita harus bijak dalam menangani masalah ini. Ayah saya asli Rejang sedang Ibu asli Lembak. Apakah kita masih mau berseteru dengan masalah yang dibuat segelitir orang? Kita tidak diperkenankan untuk mengedepankan emosional dan sentimen kesukuan. Kalau seperti ini caranya, mungkin rumah tangga dalam keluarga kami akan berantakkan. Saya juga geram dengan aksi tidak bermoral ini. Hanya saja ada hal lain yang juga harus kita faham, ada juga para pendatang yang memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan. Buktinya dalam berita sebelumnya juga ada keterlibatan warga lain. Bagian dari suku Musi, suku Rejang juga ada. Kita tidak sedang berbicara tentang SUKA apa dan MANA tapi tentang siapa pelakunya! Sudahlah, biarkan saja proses hukum kita yang “KOLOT” dan “LELET” ini berlaku. Kita ciptakan saja suasana yang kondusif. Kalau kita bersikap seperti mau hukum rimba, dll, justru kita memperkeruh masalah. Solusinya: TEMBAK MATI saja pelakunya!!!

  16. Pak kapolda, daerah itu memang rawan dari puluhan tahun yang lalu, dari sejak personil polisi dan fasilitas polisi yang kurang memadai, kenapa sekarang personil sudah banyak dan fasilitas sudah memadai, masih juga rawan ?? ada apa ini, serius gak kerjanya.

    Memberantas para kriminAL itu gampang, caranya kerjasama dengan Kodam Sriwijaya,melintaslah di daerah2 rawan tersebut dengan penampilan masyarakat biasa. begitu para kriminal beraksi, tindaklah mereka, minimal tembak tempurung lutut atau siku tangannya.
    Lakukan hal ini secara rutin setiap minggu dengan jadwal yang sporadis.Tidak perlu razia ke rumah rumah warga, malah menimbulkan masalah lebih besar.

    Masalah dana operasional, ngobrol ngobrol aja sama Plt Gubernur Bengkulu dan Bupati Rejang Lebong, mereka pasti mendukung, karena jalur rawan tersebut merupakan salah satu urat nadi Ekonomi Provinsi bengkulu.

    Ganyang para Bandit, jangan hanya ganyang teroris.

    BRAVO….. SELAMAT MENCOBA.

  17. yth kapolda bengkulu BRIGJEN POL.DrsBURHANUDINAMDI SH.MH kami berharap jln lintas bengkulu lubuk Linggau di amankan pasca benterok masa dengan polisi di kepala curup,polisi yg bertugas di wilayah kepala curup cahaya negeri belitar dan kecamatan sendang harus di mutasi keluar dairah,,,masukan personel baru,laku kan M,u dengan pemerintah setempat seperti di wilayah lubuk linggau singkut apa bila masyarakat melakukan penodongan pemerasan pengeniayaan TIMBAK DI TEMPAT dan pengumuman ini dibuat surat edaran dan di tempel di kantor2 dan rumah perankat desa,,,ini suda lama terjadi dan sangat sadis,,,,,,,,,,

  18. Untuk Solusi masalah ini adalah sbb:
    1. Lakukan dialog dengan perwakilan masarakat yaitu RT, RW, Kades dan Camat bersama KDH setempat.
    2. Kemukakan apa yang diinginkan warga ?Berikan bantuan langsung ke desa berupa proyek atau apa saja atau lapangan kerja, yang kiranya menjadi keinginan warga.
    3. Buat komitmen dengan masyarakat bahwa kalau ada permasalahan di daerah jangan bertindak anarkis yang mencelakai warga tidak bersalah yang melintas daerah tsb. Lakukan acara temu warga dengan pemimpinnya untuk saling maaf dan memaafkan.
    4. Kalau hal ini sudah dilakukan, rasanya selesai deh persoalannya. Tapi kalau masih ada pemalakan namun warganya tidak peduli dan masa bodoh…maka….tidak ada kata lain daerah ini…maaf..adalah tidak lebih dengan bangsa israel saja….

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*