Bukti Perjuangan Ratu Samban

f9-fenmomena (3)BENGKULU Utara yang dikenal sebagai Bumi Ratu Samban rupanya bukan hanya sekadar mitos. Ada bukti otentik perjuangan Ratu Samban dalam menghadapi penjajah Belanda sekitar tahun 1870-an yang hingga saat ini masih terpampang jelas di Bengkulu Utara. Bahkan ada tugu yang dipercaya sebagai makam salah satu petinggi tentara Belanda kala itu, Van Amstel dan VW Castens. Keduanya berhasil dibunuh Ratu Samban.

 Tugu tersebut saat ini berada tepat di depan Puskesmas Pembantu Desa Bintunan Kecamatan Batik Nau. Sebelumnya berada di pinggir pantai namun dipindahkan lantaran nyaris hanyut akibat abrasi laut.

 Di dinding tugu layaknya batu nisa tertulis jelas nama pejabat Belanda dalam bahasa Belanda. Bahkan tertulis tanggal 2 September 1873 yang diyakini seagai hari kematian dua pejabat tersebut di tangan Ratu Samban sebagai bukti perlawanan masyrakat Bengkulu Utara atas penjajahan Belanda.

 Camat Batik Nau Markisman mengungkapkan, tugu tersebut sebagau bukti sejarah kepahlawanan Ratu Samban. Berdasarkan cerita secara turun menurun, perlawanan yang dilakukan Ratu Samban hingga menewaskan kedua penjajah tersebut terjadi di laut Bintunan Kecamatan Batik Nau.

 “Saat itu kedua penjajah itu tengah berkunjung ke Bengkulu dan diserang oleh Ratu Samban yang menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. Kedua petinggi penjajah itu tewas setelah ditebas Ratu Samban bersama pasukannya dengan parang,” terang Markisman.

 Hal ini menurutnya adalah sejarah yang tidak bisa dibantah. Selain tugu ia juga yakin masih ada beberapa hal lain yang menunjukan adanya aktivitas penjajahan di BU termasuk perlawanan masyarakat setempat. “Tugu itu kita lestarikan sebagai bukti sejarah. Di sana jelas tertulis dalam bahasa Belanda,” demikian Camat.

 Sementara itu, Wawan salah satu perawat Pustu yang juga tinggal tepat di depan tugu tersebut mengaku jika tugu tersebut diyakini di dalamnya tertanam kepala dan baju milik petinggi Belanda. “Kalau cerita yang berkembang di masyarakat seperti itu (Ada kepala dan baju,red), tapi kepastiannya saya tidak tahu,” kata Wawan.

 Meski sudah lama tinggal di rumah yang di depannya tugu Belanda tersebut, ia mengaku tidak pernah mendapatkan gangguan ghaib ataupun hal-hal yang ganjil yang dilakukan warga di lokasi tersebut. Bahkan meski peniggalan masa lalu, namun tugu itu tidak terkesan angker karena berada di halaman rumah.

 “Selama ini tidak ada yang aneh yang saya alami, biasa saja. Tapi memang tugu ini sejak dipindahkan seperti ini, tidak pernah dipugar,” demikian Wawan.

 Pantauan RB, Tugu setinggi 2 meter ini memang terlihat kusam dengan cat warna putih yang mengelupas. Di sekeliling tugu terdapat lantai beton sehingga orang bisa berdiri berdampingan dengan tugu. Sayangnya beberapa lantai sudah rusak tanda lama tak diperbaiki. Meskipun seharusnya tugu ini bisa menjadi asset wisata sejarah.(qia)

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: