Curhat ke Pengurus BEM, Firman Buka Kartu di Pengadilan

Firman-Tiba-Di-Bengkulu-Masri-9xxxxxxxBENGKULU – Dugaan adanya keterlibatan pihak lain atau pejabat Unib terkait kasus pembobolan uang kas Unib sebesar Rp 5,2 miliar dengan tersangka mantan bendahara  M Firman Azhari alias Boy semakin kuat.  Setelah memberi pengakuan kepada kuasa hukumnya, sekitar pukul 10.00 WIB Selasa (4/6), Firman kembali curhat kepada utusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unib yang membezuknya di ruang tahanan Polda.

          Firman tetap dengan pendiriannya bahwa apa yang dilakukannya dengan menyelewengkan uang kas Unib, melibatkan pejabat di Unib.  Ia juga sudah mengakui secara jantan bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan dia siap mempertanggungjawabkannya di mata hukum.

          Tersangka yang dijerat UU RI No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pasal 1, 2, 3 dan 9 tersebut mengakui dirinya belum membuka lebar-lebar siapa saja yang terlibat itu karena masih sayang dengan Unib. Namun Firman berjanji akan membuka kartu trupnya dengan membeberkan semua fakta di depan majelis hakim saat sidang di Pengadilan Tipikor nanti.

‘’Jadi kami memang hari ini (kemarin, red) dari BEM Unib pertama kali membesuk Firman. Tujuan kami ingin melihat kondisinya pasca ditangkap. Kemudian kami ingin tahu cerita dari tersangka sendiri mengenai kasus yang dialaminya. Kemudian juga kami ingin meminta agar tersangka menyebutkan dan membeberkan siapa saja yang terlibat di Unib itu. Kemudian dikemanakan uang tersebut. Kami juga selama ini tidak banyak bicaara karena tak ingin berdampak ke penerimaan siswa baru di Unib nantinya. Kemudian citra Kampus semakin terpuruk,’’ kata Kementerian Politik BEM Unib Taufik Romadhan kepada RB kemarin (4/6)

Dikatakan Taufik, dari hasil percakapannya dengan tersangka, diketahui bahwa pertama, tersangka tetap meminta agar mahasiswa tetap kompak dan tenang. Kemudian kondisinya semenjak ditangkap itu tetap sehat. Firman masih memendam atau belum ingin menceritakan ke publik mengenai keterlibatan petinggi di Unib itu karena tak ingin citra kampus biru tercemar.

Walaupun tersangka juga sempat mengakui kalau semenjak kasus ini dirinya menjadi tertekan. Namun pilihannya belum mau menyebutkan nama-nama orang yang terlibat, semata-mata demi yang terbaik bagi Kampus Unib.

          Hanya saja Firman tetap tak ingin penyidik cuma menetapkan dirinya sebagai tersangka tunggal. Sebab menurutnya dirinya bukanlah tersangka atau penikmat tunggal terhadap kasus itu.

Mahasiswa Akan Aksi

          Menurut Taufik Romadhan, pihaknya selaku mahasiswa juga tidak akan tinggal diam. Untuk itu dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan aksi untuk meminta agar pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini untuk dinonaktifkan. Karena pihaknya tak ingin orang-orang yang sudah mengakui kelalaiannya itu tetap dip[ertahankan. Sebab dikhawatirkan akan terulang kembali.

‘’Dia (Firman,red) tetap bercerita dengan kami bahwa memang ada petinggi yang terlibat. Tapi dia belum mau menyebutkan nama atau identitas orangnya. Termasuk mengenai pembagian uangnya. Semua itu akan dibukanya secara jelas ke publik setelah di pengadilan. Sehingga tahu kronologis yang sebenarnya. Bahkan tersangka sudah cukup lama ingin curhat mengenai kasus yang dialaminya itu,’’ ungkap TAufik.

Pantau Persiapan PIlrek

Masih menurut Taufik, kendati tersangka menjalani penahanan di Polda, dirinya tetap mengikuti dan terus memantau proses tahapan menjelang pemilihan rektor (Pilrek). Untuk itu dirinya tak ingin persoalan kasus yang dihadapinya dijadikan ajang politik menghadapi Pilrek.  Firman juga sudah menerima diberhentikan dari PNS Unib. Karena itu, menurut Taufi, Firman tidak akan menuntut.

‘’Dia juga tetap membaca koran mengenai Pilrek. Ia tak ingin nantinya setelah dibebarkannya siapa yang terlibat dikaitkan dengan Pilrek,’’ cerita Taufik.

Di tempat terpisah Kuasa Hukum tersangka Petrus Leatomu, SH.MH mengakui belum mendapati keterangan atau pengakuan klienya mengenai larinya uang Rp 3,7 M. Sebab kliennya hanya mendapatkan sejak tahun 2010-2011 itu sebesar Rp 1,5 miliar. Untuk itu pihaknya menilai bahwa penyidik menerapkan pasal 55 terhadap kliennya berarti akan ada tersangka lainnya yang ikut bersama-sama atau turut serta.

          Indikasi itu memang sejak awal sudah diungkapkan kliennya bahwa semua proses pencarian uang sudah diketahui beberapa petinggi Unib.  Ia juga masih menunggu hasil pemeriksaan penyidik mengenai aliran serta sisa uang di rekening kliennya.

          Ditanya mengenai surat pernyataan yang diteken Firman bahwa dirinya siap bertanggungjawab, menurut Petrus itu bukanlah barang bukti yang bisa dianggap sah. Sebab satu surat itu belum bisa dikatakan bukti jika tidak ada faktor pendukung lainnya.

‘’Sekarang klien kami belum mau menyebutkan nama yang terlibat itu karena dia laki-laki dan gentle. Tapi di pengadilan nanti semuanya terbongkar,’’ tegas Petrus.

  Pejabat Diperiksa

Disisi lain hingga kemarin (4/6) penyidik Direskrimsus Polda Bengkulu tetap melakukan proses penyidikan dan penyelidikan serta pemeriksan. Bahkan pukul 10.00 WIB kemarin dua pejabat Unib dipanggil dan diperiksa yakni Ketua LIPI Unib, Jo dan bendahara pengeluaran Unib.  Selain diperiksa, keduanya juga membawa berkas alias dokumen terkait dengan proses pengeluaran dana tersebut.

‘’Sampai saat ini aliran uang itu ke mana saja masih kami telusuri. Begitu juga dengan sisa uang di rekening tersangka juga belum didapati karena masih butuh persetujuan dari pimpinan BCA dan BRI pusat. Penetapan siapa tersangka tambahan juga belum dilakukan, sebab proses pemeriksaan saksi-saksi kembali belum tuntas,’’ tegas Direktur Reskrimsus Kombes Pol Mahendra Jaya.(che)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: