Datang Tengah Malam Sidak Suluk, Klarifikasi Soal Naik Haji

Kajati Bengkulu Chanifuddin bersama Bupati Rejang Lebong Syherman mendatangi jemaah suluk tengah malam.TUSDA/RB

Kajati Bengkulu Chanifuddin bersama Bupati Rejang Lebong Syherman mendatangi jemaah suluk tengah malam.TUSDA/RB

Tim Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Provinsi Bengkulu yang dipimpin langsung oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Bengkulu, Chanifuddin, SH mendatangi lokasi bangunan penyelenggaraan Suluk, Sabtu Malam (27/7) sekitar pukul 23.00 WIB. Apa saja temuan Sidak tengah lama itu. Berikut laporannya.

TUSDA ADHAM, Curup

Kedatangan PAKEM tersebut untuk memastikan dan mengetahui pastinya kegiatan zikir jemaah Tarekat Naqsyabandiyah atau yang kerap disebut Suluk di Desa Suka Datang Kecamatan Curup Utara. Dari hasil kunjungan, Pakem meminta agar panitia penyelenggara suluk menambah faslititas kesehatan sebagai salah satu syarat pelaksanaan kegiatan tersebut.

Pakem Bengkulu yang beranggotakan Ketua MUI Bengkulu, Kesbangpolinmas Bengkulu meninjau langsung lokasi didampingi oleh Bupati RL, H. Suherman, SE, MM serta Pakem Kabupaten RL yang diketuai oleh Kajari Curup, Sri Susilawati SH. Tim mendatangi serta melihat langsung satu persatu ruangan yang digunakan jemaah Tarekat Naqsyabandiyah untuk menjalankan ibadah suluk. Mulai dari ruang zikir tempat tidur ruang besar untuk zikir dan salat berjamaah serta sejumlah fasilitas yang lainnya. Bahkan, Pakem juga mengikuti langsung pemberian materi Zikir yang disampaikan oleh guru Tarekat Naqsyabandiyah, Buya Rasyid Syah Fandi kepada jamaahnya.

“Saat ini, kita sedang melaksanakan gelombang kedua pelaksanaan zikir. Peserta yang ada tidak sebanyak gelombang pertama yang mencapai 500 orang lebih. Gelombang kedua ini hanya diikuti oleh 149 orang peserta. Paling jauh berasal dari Bandung, Jawa Barat,” ujar Wakil Ketua Tarekat Naqsyabandiyah, M. Edi.

Usai meninjau lokasi pelaksanaan suluk dan mendengarkan langsung materi suluk, Pakem Bengkulu dan Kabupaten RL serta Bupati RL melakukan dialog langsung dengan para guru Tarekat Naqsyabandiyah mengenai berbagai aktivitas yang dilaksanakan para jemaah.

Salah satu pertanyaan yang muncul dari Pakem yaitu mengenai imej yang berkembang di masyarakat yang mengatakan jika di gedung tarekat tersebut dilaksanakan kegiatan naik haji bagi jemaah.

Menanggapi hal itu, Buya Fandi mengatakan jika imej tersebut salah. Pasalnya, yang ada adalah naik Kaji atau naik tingkat pelajaran. Hal ini bahkan telajh dirapatkan oleh para guru tarekat untuk mengubah istilah tersebut sehingga tidak salah arti di masyarakat. Termasuk, memperbesar ukuran kelambu yang sebelumnya berukuran 1 x 1 meter menjadi 1,5 x 1,5 meter bagi jemaah yang akan melaksanakan zikir.

“Kami juga akan mencoba membatasi jumlah peserta yang akan mengikuti kegiatan ini tahun mendatang,” ujar Buya Fandi.

Pada akhirnya, Kajati Bengkulu, Chanifuddin, SH dapat memahami kegiatan tersebut. Namun satu hal Chanifuddin meminta agar panitia penyelenggara dapat lebih baik memberikan pelayanan bagi para jemaah peserta, seperti kesehatan, makan dan minum serta pelayanan yang lainnya.

“Kita sudah lihat sendiri secara langsung. Tidak ada penyimpangan keagamaan pada kegiatan ini. Saya mendukung kegiatan ini. Hanya saja panitia harus lebih maksimal memberikan pelayanan jemaah khususnya kesehatan,” ungkap Chanifuddin.

Sementara itu, Bupati RL, Suherman mengatakan agar tahun mendatang peserta tidaj hanya dibekali hasl pemeriksaan dokter. Perlu ditambahkan persyarakat cek up kesehatan secara menyeluruh bagi peserta.

“Kalau ada yang sudah punya kendala sakit atau kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, jangan diizinkan untuk mengikuti kegiatan ini,” tambah Suherman.(cuy)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. smoga allah slaluu memberikan kesehatan agar slalu bisa memmimpin suluk tahun beriktnya,,, amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*