Gedung BKD Jadi Tempat Mesum

Effendy Salim

Effendy Salim

BENGKULU - Gedung Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Bengkulu yang terdapat di Bentiring, tepatnya di belakang kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bengkulu sudah dua tahun ini dibiarkan terbengkalai. Kini kerap menjadi tempat mesum para remaja.

“Jelang berbuka puasa biasanya setiap sore, terutama malam minggu mau tarawih, ada juga beberapa remaja yang datang ke sini (gedung BKD Kota). Meski sudah ada yang tertangkap basah, tetapi bangunan itu masih dijadikan tempat maksiat,” ujar Syamsudin (46) warga sekitar lokasi gedung BKD Kota, Selasa (23/7).

Sepintas kantor yang dibangun pada 2010 menggunakan dana APBN sebesar Rp 617,5 juta itu terlihat seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan. Kondisinya tidak terawat dan di sekelilingnya dipenuhi semak belukar setinggi 2 meter. Langit-langit bangunan banyak yang runtuh, pintu dan jendelanya sebagian sudah raib. Sementara dindingnya penuh coretan. Di dalam bangunan terdapat sampah plastik, bungkus rokok, dan beberapa botol minuman yang berserakan.

Berbagai peringatan bukan tidak dilakukan, sambun Syamsudin. Tetap dia sudah kehabisan akal untuk mencegah kenakalan remaja tersebut. Bahkan petugas keamanan kantor KPU Kota juga kerap kali menegur para remaja yang sering kali kucing-kucingan. “Kalau kita sebagai masyarakat berharap pemerintah segera memanfaatkan gedung ini (BKD Kota). Kalau tidak dimanfaatkan terkesan mubazir saja biaya pembangunannya,” ujar Syamsudin.

Anggota Badan Anggaran DPRD Kota, Effendy Salim, S.Sos mengatakan, Pemda Kota sudah mengusulkan anggaran perehaban agar gedung tersebut bisa dimanfaatkan. “Anggaran dalam APBD tahun 2013 untuk perehaban gedung BKD Rp 1,3 Miliar. Dan perehaban gedung itu seharusnya sudah harus segera dimulai,” kata Effendy.

Dengan dana tersebut, Effendy berharap, mampu menyelesaikan gedung dan semua fasilitas kantor BKD. Sehingga dalam APBD 2014 bisa fokus untuk pembangunan fasilitas lainnya. “Kalau dilihat untuk sekedar merehab saja anggaran Rp 1,3 miliar itu memang terlalu besar. Tapi dana itu ujga untuk melanjutkan pembangunan yang masih terbengkalai agar aset itu dapat dimanfaatkan,” terang Effendy. (new)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*