Jenuk, Pertempuran di Tematang Gelanggang

SAM_3546

Lugisti Suryadinata

PEMINAT Lomba Cerita Silat Harian Rakyat Bengkulu ternyata cukup banyak. Diantara puluhan naskah cerita yang dikirim, hanya dua orang penulis yang berlatarbelakang guru. Selebihnya PNS, mahasiswa dan swasta. Kemana guru-guru bahasa Indonesia yang jumlahnya sangat banyak di Provinsi Bengkulu?

          Salah satu penulis yang berlatar belakang guru itu adalah Lugisti Suryadinata, S. Pd. Guru SMAN 9 Kota Bengkulu ini mengangkat kisah cerita silat berjudul Jenuk, Pertempuran di Tematang Gelanggang.

          Cerita Jenuk Pertempuran di Tematang Gelanggang ini termasuk keturunan para sakti Kerajaan Sriwijaya yakni keturunan dari Serunting Sakti. Kala kerajaan Sriwijaya masih ada, Serunting Sakti ini tinggal di Gerincing yang kini lebih dikenal dengan Tapak Kelam Silam Gerincing Sakti.

“Jenuk itu mempunyai arti nama pendekar aliran lurus. Seperti kehidupan warga lainnya, keluarga jenuk itu dari hasil bercocok tanam. Sejak kecil ketangkasan dan kecerdasan Jenuk sudah nampak pada dirinya. Dia pun sangat giat membantu orangtuanya baik di sawah maupun di ladang,” cerita  Lugisti Suryadinata kepada RB kemarin (10/4).

          Cerita ini mengisahkan, pada zaman dahulu kala yakni sekitar 1.860an (1,5 abad yang lalu) terlahirlah seorang anak yang gagah dan rupawan, tepatnya di Dusun Talang Durian Margo Semidang Alas yang kini telah berubah menjadi Desa Talang Durian Kecamatan Semidang Alas Maras, masuk dalam wilayah Kabupaten Seluma. Anak itu bernama Jenuk.

          Lugisti menuturkan, keberaniannya mengangkat cerita Jenuk karena dia dikenal sebagai sosok yang pengemban amanah 7 ganti 9 ilir artinya kebenaran menghancurkan kemungkaran. Meski memiliki kesaktian dengan juru-jurusnya yang hebat, Jenuk dikenal memiliki jiwa penolong.

Cerita Jenuk sendiri sudah dikenal dari zaman nenek moyang yang tinggal di Sumatera terkhusus Provinsi Bengkulu. Dan cerita ini kembali diangkat penulis untuk diikutkan dalam lomba cerita silat di Harian Rakyat Bengkulu memperebutkan hadiah total Rp 10 juta.

“Cerita ini sengaja saya angkat untuk mengingat kembali cerita dari nenek moyang dahulu, hingga kini turun menurun cerita ini masih tersimpan di anak cucu. Makanya cerita ini diangkat agar semua masyarakat tahu,” ungkap Lugisti.

          Sedangkan Tematang Gelanggang merupakan sebuah daerah di kaki bukit barisan di daerah Semidang Ulu Alas. Dulu daerah itu dibawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya yang dikuasai oleh para sakti Sriwijaya, antara lain Raja Segentar Alam, Serunting Sakti, Sipanji Gilo, Panglima Kumbang, Raden Kuning.

“Kelima itu merupakan guru Jenuk. Dan Jenuk dikenal memiliki jurus langkah 3. Maksud jurus itu adalah menghindar, menangkis, dan mengunci. Dan dulunya sampai 25 orang lawan bisa dikunci sekaligus,” tutur Lugisti.

          Selain itu lebih lanjut, Lugisti mengatakan, Jenuk juga dikenal memiliki 3 kesaktian yakni, tigas (tangan kosong berisi ilmu), yang bisa mematikan tulang punggung lawan yang bisa rontok. Lalu dua jari, jurus macan sasarannya mata dan leher. Lawan yang kena ini cirinya mata berlobang maupun leher. Dan kesaktian ketiga ialah pelakat bumi menghentikan lawan secara mendadak seperti patung terdiam.

“Dengan kesaktian inilah para penjajah Belanda yang jahat terhadap masyarakat susah untuk melawan sang Jenuk. Bahkan segala upaya para penjajah Belanda susah menangkap Jenuk,” kata Lugisti.

          Ending cerita ini, Jenuk ditangkap oleh penjajah Belanda dengan pengawalan sangat ketat. Kaki dan tangan Jenuk diborgol, dia dimasukkan ke dalam mobil tahanan lapis baja dengan pengawalan tentara bersenjata lengkap. Warga yang menyaksikan kejadian tersebut kelihatan bingung tidak tahu harus melakukan apa, mereka hanya berdiri diam. Perlahan mobil tahanan yang membawa Jenuk berjalan menuju arah Kota Bengkulu yang dibawa ke penjara bawah tanah Benteng Marlborough.

Kesesokan harinya Jenuk sudah disiapkan oleh tentara Belanda untuk menggiringnya ke tiang gantungan. Proses eksekusi Jenuk oleh eksekutor  berlangsung gagal, karena beberapa kali ditembak Jenuk tidak apa-apa. Lalu mereka segera menurunkan Jenuk ke tiang gantungan dan datang seorang Algojo dengan membawa pedang terhunus. Algojo itu menebas leher Jenuk, tapi lagi-lagi hal kejadian aneh muncul. Jangankan meregang nyawa terluka pun tidak.

Akhirnya setelah melihat kejadian aneh tersebut, mereka memutuskan untuk mengeksekusi Jenuk dengan cara dimasukkan ke dalam karung yang diikat dengan rantai baja dan diberi pemberat bola-bola baja. Mereka menggelamkan Jenuk ke lautan Samudra Hindia.

Dan akhirnya petualangan Jenuk sebagai pengemban amanah 7 anamah ganti 9 gilir  harus berakhir dengan eksekusi yang sangat mengenaskan dan memilukan. Namun tak seorang pun yang mampu memastikan apakah Jenuk benar-benar gugur saat dia ditenggelamkan tentara Belanda di lautan Samudera Hindia, sebab saat eksekusi di laut tersebut, sesuatu yang sangat aneh terjadi lagi. Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak yakni sekelebat bayangan hitam dan secepat kilat memutus rantai baja yang mengikat karung di mana waktu itu Jenuk berada kemudian karung beserta Jenuk hilang tak berbekas.

Kemungkinan besar bayangan hitam terlihat bergerak cepat itu adalah guru kelam Jenuk sendiri yakni Si Kumbang Guru Agung. Entah apa yang terjadi dengan Jenuk setelah kejadian di laut tersebut, apakah dia tetap hidup atau tidak. Hal demikian hanyalah urusan Yang Maha Kuasa.

“Tapi ada yang menyebutkan buktinya Jenuk masih hidup, dibuktikan dari asal Lintang ada yang mengaku keturunan Jenuk dengan memperkenalkan  3 Jurus jitu Jenuk saat berkunjung ke Semidang Alas Seluma yang persis sama,” tukas Lugisti Suryadinata. (new)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. aku sangat bersyukur, akhirnya kisah penting yang berjudul “Jenuk, pertempuran di Tematang Gelanggang” ini bisa terangkat juga. kuucapkan terima kasih banyak kepada media Rakyat Bengkulu. Semoga kisah ini akan membangkitkan semangat kebangsaan yang tinggi dalam mengisi pembangunan nusantara yang sangat kita cintai ini.

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: