Kapolda: Pemda Harus Support Sarana Lembak

Kapolda Burhanuddin

BENGKULU – Kapolda Bengkulu Brigjen Pol. Drs. Burhanuddin Andi SH, MH mengatakan ada beberapa hal yang harus dipikirkan pasca insiden bentrok di perbatasan Bengkulu – Lubuk Linggau beberapa waktu lalu. Khususnya lokasi utama di daerah Lembak yang sudah menjadi rahasia umum terkenal sebagai daerah yang kerap terjadi kriminalitas.

“Mungkin perbuatan kriminal yang terbanyak di Bengkulu ada di sana (Lembak, red). Namun kita tidak bisa langsung bertindak di sana. Ada beberapa yang harus kita lakukan. pre-emptif, preventif, dan represif. Kalau kita cuma preventif terus kapan selesainya masyarakat di sana untuk berbuat. Tentunya juga ada pre-emptif, ada pembinaan dari pemerintah di sana. Dari pemerintah daerahnya, tentang pembangunan sarana di sana, pembangunan rohani. Ini perlu dipikirkan,” terang Kapolda yang akrab disapa Puang tersebut.

Kapolda mengaku sudah melakukan rapat koordinasi (rakor) dengan seluruh Muspida, termasuk Bupati Rejang Lebong Suherman beserta staf ahlinya. Hasilnya, dari rakor itu disepakati khusus di daerah Lembak harus dipikirkan persoalan sarana pembangunan.

Selain itu, Kapolda juga mengimbau terkait kebutuhan patroli di daearh Konflik. Khususnya patroli terpadu antara masyarakat dengan polisi dan TNI. Lalu dibentuk juga Forum Komunikasi Pembela Rakyat (FKPR) sebagai langkah preprentif. “Represifnya, tetap kita bertindak jika ada pelaku-pelaku yang belum sadar. Ini yang harus diajukan. Dan melakukan pembinaan-pembinaan ke depan di sana,” lanjut polisi dengan bintang satu dipundaknya itu.

 

Bentuk Pengajian

Keterbatasan jangkauan pihak kepolisian dalam melakukan pembinaan setidaknya dapat diback-up oleh pemerintah daerah yang lebih tahu daerahnya. Mengingat Lembak, meskipun belum jadi kabupaten, namun bagaimanapun masih bagian daripada kabupaten Rejang Lebong.

“Bersama-sama di sana melakukan pembinaan. Mungkin dengan melaksanakan Dai-dai Kamtibmas. Atau mengadakan ikatan di masjid seperti pengajian. Barangkali ini sangat diperlukan. Atau membuka lapangan kerja yang mudah disana. Itu adalah imbalannya yang sangat-sangat bijaksana untuk kita ke depan nantinya,” imbau Kapolda.

 

Prosedur Pusat

Terkait tuntutan dari warga setempat yang meminta Kapolda mencopot Kapolres Rejang Lebong, AKBP. I Ketut Yudha Karyana, S.Ik, tidak dapat dilakukan seperti membalikkan telapak tangan. Mengingat prosedur dan ketetapan yang beracuan langsung pada Mabes Polri membutuhkan sejumlah proses panjang untuk memberhentikan seorang Kapolres.

“Tidak bisa seperti itu. Tetap harus melakukan prosedur, ada institusi ada Mabes Polri. Semuanya, apapun itu harus melalui prosedur. Setiap Muspida tentu memiliki bahan pertimbangan sebelum memutuskan,” beber mantan wakapolda Banten tersebut.

 

Tidak Ada Desa Kebal Hukum

Sementar itu, terkait adanya indikasi Polisi yang dicekal, Kapolda menilai sudah dapat diatasi secara perlahan. Namun Kapolda menyesalkan jika memang ada indikasi desa yang merasa kebal hukum. Mengingat setiap daerah bagian dari NKRI perlu diteggakkan hukum.

“Masa mau dibiarkan. Ya dibubarkan saja polisi kalau tidak ada lagi hukum yang perlu ditegakkan. Kalau ada satu desa yang dianggap desa kebal hukum, ya bubarlah Indonesia ini. Saya minta masyarakat memahami ini. Jika ada satu desa yang tidak menginginkan hukum ditegakkan di sana, berarti itu bukan warga negara Indonesia,” tegas Kapolda.

 

Terus Diperiksa

Terpisah, Kabid Propam Polda Bengkulu AKBP Hendrik Marpaung memastikan pihaknya terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap sejumlah anggota dan pejabat polisi yang diduga terlibat dalam aksi bentrok berdarah tersebut. Namun Hendrik belum dapat memberitahukan hasil dari pemeriksaan tersebut, mengingat ada puluhan anggota polisi yang harus diperiksa.

“Masih panjang pemeriksaannya. Hingga saat ini sudah ada sekitar 60 daftar polisi yang harus diperiksa. Bisa saja bertambah tergantung dari hasil pemeriksaan. Nanti kalau sudah keluar hasilnya pasti kami beritahukan,” janji Kabid Propam.

Terkait kedatangan Divisi Propam dari Mabes Polri, Hendrik tidak menampik hal tersebut. Namun Hendrik enggan menyebutkan sejauh mana keterlibatan tim dari Mabes yang disebutkan hanya untuk melakukan supervisi ke Bengkulu. ”Hanya Supervisi saja. Kemarin (Kamis, red) sudah pulang ke Jakarta,” demikian Kabid Propam. (mrx)

banner 468x60

19 Responses

  1. pro penegakan dan ketegasan hukum24 Juni 2012 at 1:09 amReply

    rasa nya semua desa diperlakukan sama dlm pembangunan di RL. tp utk pengecekan tak bisa berjalan sbb utk kesana apartur pemda tdk berani… (kebal hukum) Pemda Harus Support Sarana Lembak berarti harus aman dulu baru bisa membangun… Forum Komunikasi Pembela Rakyat (FKPR)berarti hrs ada komunikasi? apa mrk mau? komunikasi dgn TNI dan Polri aja tak di gubris total~~~ kembali lah pada tupoksi kebijakan yg pro penegakan dan ketegasan hukum utk ciptakan keamanan…

  2. Dede24 Juni 2012 at 4:17 pmReply

    Pak kapolda mohon bikin pos pos polisi di titik titik rawan …jangan sampe ada penjarahan atau pemalakan lagi di daerah Lembak,jangan duduk2 aja pak dan bicara pak.Bapak harus lihat sendiri kondisi nya seperti apa sekarang,banyak warga daerah lain kena jarah dan mobil kaca nya pecah.Kalo begini terus keadaannya daerah lain yang mau berkunjung ke RL jadi takut..mohon di terbit kan di koran redaksi nya.

  3. Ready Divant24 Juni 2012 at 7:37 pmReply

    setuju pak Kapolda, Akhlak harus diperbaiki..HARUS !!!! orang lembak aja ogah ditugaskan di sana..bgm orang dari luar… ampun…ampun

  4. nusantara25 Juni 2012 at 3:08 pmReply

    APARAT YANG DI ATAS HANYA BISA DIAM SEBAB BUKAN KELUARGANYA YANG DIPALAKIN ATAU DITODONG,COBA KALAU ISTRINYA ATAU KELUARGANYA PASTI DA KAYAK KEBAKARAN JENGGOT..SUDAH TAHU MOTOR TANPA DOKUMRN EH MASIH JUGA DIKEMBALIKAN,KALAU NTAR ADA HUKUM RIMBA JANGAN SALAHKAN MASYARAKAT.

    • Arif S. Hamdanas28 Juni 2012 at 12:41 pmReply

      Saudara Hamba ALLAH, terima kasih telah berkenan untuk membuka mata bahwa tidak semua orang Lembak tak bermoral. Tapi pelaku kejahat itu AMAT SANGAT TIDAK BERMORAL. Saya sangat menyayangkan hal itu. Pembenahan dan pemikiran pemecahan solusi sangat kompleks untuk dipikirkan. Semoga kita semua dapat bahu membahu mengatasi konflik ini. Yang ingin dengan gaya HUKUM RIMBA, silakan. Tapi harus ditujukan pada para pelaku. Yang ingin bawa senjata untuk menjaga diri silakan. Saya sangat setuju. Beri saja mereka PENGHAJARAN.

      Saudara Alex, saya setuju dengan Anda. Anda benar. Terkadang ‘pencarian kambing hitam’ itu menjadi tradisi Lembak. Ini tanggung jawab saya juga saya rasa. Sepulangnya saya di tanah rantau demi menempuh pendidikan, semoga ada pembenahan di wilayah saya. Faktor pendidikan dan ekonomi yang sangat minim di wilayah kami menjadi faktor pembentuk ‘tabiat buruk’ itu. Pendidikan anak untuk generasi unggul adalah solusi jangka panjang yang sangat tepat, seperti yang Saudara katakan. Sayangnya hanya segelintir dari kami yang dapat menyenyam pendidikan. Masyarakat, pemerintah, dan kita semua, wajib berperan membenahi pola pikir masyarakat di Lembak. Untuk para pelaku kejahatan, kita serahkan saja pada aparat kita yang semoga saja TIDAK LELET dan TIDAK AROGANSI.

  5. link gaw25 Juni 2012 at 10:53 pmReply

    bupati rejang lebong berani gak ya masuk ke wilayah lembak untuk meredam gejolak???….

  6. heri jaya26 Juni 2012 at 7:46 amReply

    selamat pagi bapak kapolda….pak,hendak nya di daerah palak curup yang di dahuluin permasalahan penegasan hukum krn kondisi disana tidak kondusif khusus kita yang selalu melintas di daerah palak curup dan sekitar nya n dari pada mengutamakan permasalahan kapolres…..kalau bapak tidak tegas untuk menindak pelaku kejahatan maka daerah tersebut benar-benar kebal huikum n maka kami pun yang selalu melewati daerah tersebut akan memakai hukum rimbah demi keselamatan kami semua….wassalam

  7. edi26 Juni 2012 at 10:32 amReply

    pak kapolda, mintak tolonglah kami ini,daerah kami sudah ngak aman lg.carila jalan keluarnya.

  8. Arif S. Hamdanas26 Juni 2012 at 9:49 pmReply

    Saya orang Lembak. Tapi betapa geramnya saya dengan ulah bandit-bandit yang beroperasi di wilayah Lembak ini. Harus diakui, sebagian mereka adalah orang Lembak dan sebagian lagi pendatang yang memanfaatkan situasi ini. Hukum jangan tunduk! Tegas! Harus TEGAS! Ini bukan masalah Lembak atau Bukan Lembak, tapi masalah hukum! Hukum harus TEGAK! Tak perlu banyak birokrasi, Pak! Incar saja pelakunya, tembak mati saja di tempat!!!

  9. donny27 Juni 2012 at 4:42 amReply

    saya asli kepala curup,,,saya juga sebenarnya prihatin dg apa yg terjadi di daerah saya akhir2 ini,,,namun perlu saudara2 ketahui,,bahwa tak ada asap jika tak ada api,,.
    mengapa saya katakan demikian ?
    pertama,,desa kami masuk wilayah kabupaten rl,,namun sepengetahuan saya selama ini tidak pernah ada kegiatan yg bersifat membangun dari pemerintah daerah terhadap daerah kami,,hal ini terjadi karena dendam politik pemimimpin daerah ini terhadap kami. kami seperti anak tiri yg tidak diperhatikan,padahal sumber daya alam desa/daerah kami sangat besar…yg juga turut menyumbang APBD,,buat daerah ini,,,hal ini yg membuat kami terkadang menjadi anti pati /anti terhadap orang yg bukan berasala dari daerah kami…
    pelaku kejahatan kebanyakan bukan dari golongan yg kurang mampu,mereka melakukan kejahatan terkadang karena ingin diperhatikan,,,ingin menunjukan bahwa di daerah lembak masih ada penghuninya,bukan daerah kosong yg tak perlu di perhatikan…oleh karena itu saudara2 jangan langsung menghakimi bahwa semua masyarakat lembak itu jahat,,dan tak bermoral,hal itu akan menambah saakit hati orang2 lembak,,jangan kejahatan yg dilakukan segelintir orang lalu menilai semua masyarakatnya tidak bermoral…
    tip aman lmelewati daerah lembak:
    1.jangan pernah melintas di malam hari,,terutama sendiri,,itu bunuh diri.
    2.jika berkenderaan,,cobalah selalu berklompok,,jangan coba2 melints sendirian,atau ingin menunjukan bahwa anda jago,,,atau coba coba.
    3.berkenderaan jangan pernah sok sokan,,,ngebut,,,atau bergaya macama macam,,,,anda tak kan selamat,,
    4.tetap selalu waspada,

    terima kasih

    • Hamba Allah27 Juni 2012 at 6:39 pmReply

      saya mengerti apa point yg anda maksud. tp yg jadi pertanyaan sekarang, kalo pemerintah yg dituju, knp orang lain yg melintas jadi sasaran? mereka yg tidak tau akan pokok permasalahan jadi sasaran dan pelampiasan pihak2 tertentu yg anda maksud. kalau disebut sebagai oknum, kok banyak yg melakukan tindak kejahatan, sepertinya terencana dan sudah di koordinasi. padahal, kebanyakan orang yg melintas disana melihat dan mempertanyakan juga, knp dan apa yg terjadi di daerah itu sehingga rawan. tidak smua yg melintas di daerah kepala curup arogan, saya yakin masih menghormati daerah2 perlintasan di manapun itu. agree, tidak smua orang lembak tidak bermoral, tp sampai kapan warga tersebut berubah pemikirannya jika ingin diperhatikan oleh pemerintah, bukan dengan cara kekerasan, tp lakukanlah dengan bijak, negara ini negara hukum, segala sesuatunya diatur dengan undang2, lakukanlah dengan apa yg menjadi jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yg sopan, santun, rukun, dsb.
      Trimakasih atas tips perjalanannya, sangat membantu. akan sangat membantu lagi jika dari pihak warga welcome terhadap pengguna “jalan negara”. bukan “welcome” dengan melakukan tindak kejahatan / kekerasan bagi yg diluar warga lembak. salam hangat.

  10. alex27 Juni 2012 at 11:16 amReply

    haloo saudara dony,…klo mau desa nya maju atau terkenal (dikenal orang)bukan seperti itu caranya,…,..caranya dengan menciptakan anak-anak yang pintar, bependidikan, dan mencetak anak2 yang berkelas itu solusinya,..tapi klo mo terkenal dngan cara memalak atauapapun sjenisny itu namanya kejahatan,….ini jaman 2012 kok gaya nya msih gaya orang primitif,….smoga orng sana sadar tntang hal ini,..amin,…thanks

  11. Arif S. Hamdanas27 Juni 2012 at 12:52 pmReply

    Kita harus bijak dalam menangani masalah ini. Ayah saya asli Rejang sedang Ibu asli Lembak. Apakah kita masih mau berseteru dengan masalah yang dibuat segelitir orang? Kita tidak diperkenankan untuk mengedepankan emosional dan sentimen kesukuan. Kalau seperti ini caranya, mungkin rumah tangga dalam keluarga kami akan berantakkan. Saya juga geram dengan aksi tidak bermoral ini. Hanya saja ada hal lain yang juga harus kita faham, ada juga para pendatang yang memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan. Buktinya dalam berita sebelumnya juga ada keterlibatan warga lain. Bagian dari suku Musi, suku Rejang juga ada. Kita tidak sedang berbicara tentang SUKA apa dan MANA tapi tentang siapa pelakunya! Sudahlah, biarkan saja proses hukum kita yang “KOLOT” dan “LELET” ini berlaku. Kita ciptakan saja suasana yang kondusif. Kalau kita bersikap seperti mau hukum rimba, dll, justru kita memperkeruh masalah. Solusinya: TEMBAK MATI saja pelakunya!!!

    • walius zalikin27 Juni 2012 at 10:29 pmReply

      saya sangat setuju klu pelkunya di tembak mati.
      jangan maling ayam saja yg di tembak

  12. walius zalikin27 Juni 2012 at 10:27 pmReply

    ini semua menandakan aparat kepolian kita tidak tegas dalam memberatas kejahan polisikita hayabisa menangkap maling ayam n menilang orang yg lemah.
    kasus ini harus segerah di selesaikan sebap akan berdampak sangat besar bagi masyrakat umum.
    ayo semangat polisi jgn lempem kayak kerupuk.
    gilaran nilang semangatnian
    klu la perang cak ini saling slahkan.

  13. sulek28 Juni 2012 at 1:46 amReply

    dengan hormat,segala kebijaksanaan pak kepala kapolda,setempat…kami usulkan yang salah itu di hukum dengan bener.kalau ada desa yg tidak tau hukum itu bukan warga indonesia itu bener.hanya saya minta kepada BPK kapolda untuk memberikan tugas yang bisa mengatasi masalah ini,,,jangan sampai kejadian ini terulang lagi.terima kasih.hormat saya….

  14. sulek28 Juni 2012 at 1:54 amReply

    dan juga saya mau tanya kenapa motor yang sudah di tangkap sama polisi.bener2 motor gak ada suratnya kenapa di kembalikan lagi pak?,,,,,itu berarti ketegasan tidak ada,,,,

  15. Tun Jang29 Juni 2012 at 7:27 amReply

    Persoalannya menurutku, adalah watak. Watak tersebut terbentuk dari sejak kecil, warisan orang tua. Dan didikan orang tua, dan lingkungan juga akhirnya kita lihat beginilah hasilnya. Untuk merubah watak ini apa bisa dirobah dalam waktu sekejab? Atau adakah ceramah dari ustadz yang dapat mereka dengar? Atau haruskan untuk merubah watak itu dengan peluru panas?

  16. bayu12 Juli 2012 at 7:39 amReply

    askum.
    pak kapolda tolg amankan daerah lembak.tlng bkin posko polisi disana.terimah kasih banyak

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: