Kelayakan Air Baku Air PDAM Perlu Dipantau

PDAMBENGKULU – Kelayakan air Sungai Air Bengkulu yang menjadi air baku air PDAM Kota Bengkulu perlu terus dipantau. Sebab, hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Ulayat Bengkulu menyimpulkan air sungai Air Bengkulu tidak layak untuk menjadi air baku air PDAM. “Hasil penelitian yang pernah kita lakukan, air Sungai Bengkulu yang didistribusi ke pelanggan PDAM tersebut tidak layak dikonsumsi,” terang Direktur Eksekutif Ulayat Bengkulu Oka Adriansyah, Jumat (12/4).

            Selain untuk air baku air PDAM Kota Bengkulu, sambung Oka, Air sungai Air Bengkulu tersebut juga dimanfaatkan masyarakat Bengkulu Tengah untuk keperluan rumah tangga, termasuk konsumsi. Karena itu, Pemda Kota Bengkulu dan Bengkulu Tengah jangan menyepelekannya. “Sungai Bengkulu memiliki fungsi utama sebagai sumber air minum bagi masyarakat di dua kabupaten/kota tersebut. Jadi pemerintah harus serius menangani persoalan ini,” tambah Oka.

            Karena itu, sambung Oka, Pemerintah Kota Bengkulu dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah perlu melakukan kerjasama dalam hal menangani persoalan sumber air minum tersebut. Khusus terkait PDAM, Oka menilai, perlu dilakukan modernisasi teknologi pengolahan air bersih agar air yang didistribusikan benar-benar layak dikonsumsi. “Pemerintah harus serius karena PDAM itu kan hanya sebagai operator saja,” kata Oka.

            Sementara itu, hasil pemantauan tim laboratorium lingkungan BLH Provinsi Bengkulu yang dipublikasikan melalui www. labling-provbkl.blogspot.com/2012/07/pemantauan-sungai-bengkulu.html pada 17 Juli 2012 menyimpulkan dari hasil uji parameter fisika dan kimia air menunjukkan telah terjadi penurunan baku mutu air Sungai Bengkulu dari kelas 1 (untuk air baku air minum) menjadi kelas 3 (untuk perikanan, pertanian, peternakan). Hal ini terlihat dari beberapa parameter yang berada di atas ambang baku mutu kelas satu yang telah ditetapkan (TSS di atas 50 mg/l).

            Lalu, berdasarkan hasil uji terhadap parameter biologi (plankton) mengindikasikan bahwa telah terjadi pencemaran di Air Bengkulu. Hal ini terlihat nyata dari indeks keragaman yang berkisar 0,4 sampai dengan 0,6  yang didukung juga oleh tingginya kadar logam Fe, Mn, Cr dan Cu yang berada di atas ambang batas di semua titik pengamatan.

Dari kesimpulan tersebut disarankan agar adanya pemantauan kualitas air Aungai Bengkulu secara kontinyu dan perlu adanya kajian lebih mendalam untuk memastikan bahan pencemar yang kemungkinan membahayakan kesehatan masyarakat yang memanfaatkan Air Bengkulu. (new)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*