Kisah Heroik Panglima Ratu Samban

Darwin

Darwin

“SERANGAN sudah berjalan selama tiga hari berturut-turut. Tentara Belanda bergelimpangan tewas mengenaskan. Sang Panglima kemudian menarik mundur seluruh pasukannya ketika menjelang Magrib tiba dan kembali ke markas mereka yang terletak di antara Sungai Serut dan Sungai Hitam. Tempat itu mereka beri nama Gelanggang Sabung Nyawo.”

Itulah salah satu bagian akhir cerita silat karya Darwin Susianto yang mengisahkan kisah heroik Panglima Ratu Samban. Cerita silat itu berjudul “Geger di Negeri Sembilan” dan akan diikutkan dalam Lomba Cerita Silat yang diadakan Harian Rakyat Bengkulu memperebutkan hadiah total Rp 10 juta.

Selama ini, banyak orang hanya kenal nama saja “Panglima Ratu Samban.” Tapi tidak pernah mengenali siapa sosok yang legendaris itu. Darwin Susianto dalam cerita silat karangannya mengangkat kembali mutiara terpendam itu melalui kisah heroik lewat pertempuran yang melibatkan pendekar muda dari Jenggalu dan Selebar.

Bengkulu ternyata sangat kaya akan sejarah. Bila mempelajari kisah hero Panglima Ratu Samban dalam menumpas penjajah, sangat dimengerti bila pemerintah kemudian mengabadikan nama Ratu Samban sebagai salah satu nama Kecamatan di Kota Bengkulu.

Sama halnya seperti nama Ratu Agung, Gading Cempaka, Singaran Patih, Muara Bangkahulu, Selebar, Sungai Serut, nama Ratu Samban sangat erat kaitannya dengan sejarah Bengkulu yang sangat digandrungi bangsa Eropa, sampai-sampai Inggris mendirikan Benteng besar di daerah ini.

Soal kisah perlawanan Panglima Ratu Samban yang gagah berani itu, Darwin Susianto menulis ceritanya di bagian lain: “Saat pasukan Belanda yang ada di markas sibuk meladeni dua pasukan tadi. Pasukan dari laut pun segera tiba. Dipimpin langsung oleh Hulubalang Rajo Kelabu. Selanjutnya pasukan dari arah Selatan ikut pula ambil bagian dengan sejata bambu runcing serta senapan hasil rampasan mereka. Tentara Belanda kabarnya banyak yang tewas dan kocar-kacir menyelamatkan diri. Ada pula yang terjun ke laut dan sebagian melarikan diri ke arah Dan Tak Sudah. Jerit kematian serta desing peluru dan gemerincing sejata tajam saling bersahutan. Api berkobar di mana-mana. Dentuman mortir dan ledakannya pun demikian pula. Kabarnya sang Gubernur Jenderal Belanda juga ikut terbunuh dalam serangan itu.”

Darwin mengaku sengaja mengangkat kisah sejarah perlawanan Panglima Ratu Samban dengan maksud agar kisah tersebut tidak tenggelam. Bila tidak pernah diangkat ke permukaan, sejarah Bengkulu akan hilang tenggelam. Karena itu, menurutnya, pemerintah harus lebih pro aktif untuk mengangkat sejarah-sejarah terpendam tersebut.

“Sejarah tidak boleh dilupakan. Karena dari situ kita bisa banyak memetik pelajaran. Saya prihatin, saat ini generasi muda Bengkulu sendiri banyak tidak mengenali sejarah Bengkulu sendiri. Ini akibat pengaruh masuknya budaya-budaya asing, sehingga budaya dan sejarah sendiri dilupakan,” ujar Darwin.

Dalam cerita yang ditulis ini, lanjut Darwin, mengisahkan kegagahan Panglima Ratu Samban dalam mengusir penjajah dari Bumi Bengkulu, tempat dimana  Sang Panglima dilahirkan. Panglima yang bernama Mardjati atau dalam bahasa Rejang disebut Mardjathei itu merupakan tokoh sentral sekaligus pahlawan. “Jiwa kepahlawanannya membuat dia memberontak terhadap kekejaman kaum penjajah,” kata Darwin.

Dia memberi apresiasi kepada Harian Rakyat Bengkulu yang telah mengadakan lomba cerita silat Bengkulu. Melalui lomba ini, lanjut Darwin, sejarah-sejarah Bengkulu bisa terangkat kembali lewat sebuah kisah atau cerita silat.

Bila Jawa Barat terkenal dengan cerita “Tangkuban Perahu” yang mengisahkan Sangkuriang ingin menikahi ibu kandungnya, Jawa Timur terkenal dengan cerita “Perang Bubat” yang mengisahkan pertempuran antara sang patih Gaja Madah melawan Maharaja Linggabuana dari Sunda, Sumsel terkenal dengan cerita “Si Pahit Lidah,” Sumatera Barat terkenal dengan cerita “Si Malin Kundang,” menurut Darwin Susianto Bengkulu juga bisa terkenal dengan cerita “Panglima Ratu Samban.”

“Asal terus diangkat ke permukaan, saya yakin kisah-kisah sejarah di Bengkulu banyak yang menarik dan heroik. Selama ini tidak pernah tergali saja,” katanya.  (iks)

banner 468x60

2 Responses

  1. FAJAR BITRA ZUHES (@fajar_admajaya)8 April 2013 at 1:33 pmReply

    terus angkat cerita rakxat dan kultur budaya kita . Sem0ga bengkulu tetap jaya

  2. hengky bambang supriyatno (bambang hengky)30 Maret 2014 at 7:53 pmReply

    sangat menarik kisah heroik “PANGLIMA RATU SAMBAN” saya sebagai film maker sangat tertarik jika ada yang mau mendanai saya siap mewujudkan dalam sebuah film dokudrama

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: