Kurikulum 2013 Masih Jadi Pro Kontra

Luapan kegembiraan terlihat dari raut wajah siswa SD Negeri 5 Kota Bengkulu usai pengumuman kelulusan, Sabtu (8/6) lalu. MASRI/RB

Luapan kegembiraan terlihat dari raut wajah siswa SD Negeri 5 Kota Bengkulu usai pengumuman kelulusan, Sabtu (8/6) lalu. MASRI/RB

KURIKULUM pendidikan di Indonesia sepertinya masih belum menemukan formulasi yang tepat. Gonta-ganti kurikulum tampaknya masih menjadi hal yang lumrah.

Seperti sekarang, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berubah menjadi kurikulum 2013. Namun sayangnya hingga kini perubahan kurikulum tersebut masih menjadi pro dan kontra. Padahal penerapan implementasi kurikulum 2013 ini akan dimulai tahun pelajaran 2013/2014 ini, 15 Juli mendatang.

Anggota Komisi III DPRD Kota yang membidangi pendidikan Effendy Salim, S.Sos menilai, pro kontra itu muncul lantaran penerapannya yang terkesan terburu-buru. “Pelaksanaan kurikulum baru dengan waktu yang singkat pasti menjadi kendala sebagian guru. Mereka belum siap, bahkan ada mungkin yang belum mengerti serta memahami kurikulum baru itu,” ungkap Effendy.

Menurutnya, untuk menerapkan kurikulumbaru diperlukan uji coba dan sosialisasi yang dilakukan secara terbuka. Paling tidak bisa melibatkan pihak terkait yang berkompeten, seperti forum akademik, masyarakat pelaku pendidikan dan pihak lain yang memiliki kapasitas menilai. “Sejauh ini apakah uji coba itu sudah dijalankan dengan baik,” tanya Effendy.

Dia menilai, pergantian kurikulum belum mampu menunjukkan perubahan kualitas pendidikan yang signifikan. “Saya pikir belum akan terlalu berpengaruh. Dulu juga beberapa kali gonta-ganti kurikulum, tapi tak ada perubahan berarti terhadap mutu pendidikan,” katanya.

Pengamat pendidikan Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) Adi Asmara, M.Pd menuturkan, kurikulum menentukan kualitas baik buruknya suatu program pendidikan. “Kurikulum merupakan panduan pokok, yang menjadi kiblat bagaimana suatu pendidikan dilaksanakan. Baik dalam metode pengajaran, evaluasi, perencanaan pengajaran, pengadaan dan evaluasi buku-buku teks dan lain-lain,” ungkapnya.

Pentingnya kurikulum, sehingga penyusunannya bukanlah hal yang mudah. Memerlukan kajian yang mendalam dari berbagai disiplin ilmu. Penyusunan kurikulum harus jauh dari kepentingan kelompok atau golongan maupun kepentingan politik tertentu. “Kurikulum harus berada pada posisi yang netral, ilmiah, dan tepat guna. Serta menggunakan metode-metode pendidikan yang mutakhir,” ujarnya.

Sementara itu, sejak Indonesia merdeka tercatat telah terjadi 11 kali perubahan kurikulum. Kurikulum yang pertama kali dipakai yakni tahun 1947 Kurikulum Rencana Pelajaran. Kemudian berganti menjadi Kurikulum Rencana Pendidikan Sekolah Dasar tahun 1964, Kurikulum Sekolah Dasar tahun 1968. Artinya pada zaman Orde Lama (Orla) atau zaman Presiden Soekarno berkuasa, terjadi 3 kali perubahan kurikulum.

Pada Orde Baru (Orba) atau zaman kekuasaan Presiden Soeharto, terjadi 5 kali pergantian kurikulum. Mulai dari Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) tahun 1973, Kurikulum Sekolah Dasar tahun 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Revisi Kurikulum 1994 pada tahun 1997.

Lalu pada zaman reformasi, jika Kurikulum 2013 diberlakukan artinya terjadi 3 kali perubahan kurikulum. Pertama, Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 dan terakhir Kurikulum 2013 yang akan segera diberlakukan. Pelaksanaan penerapan kurikulum 2013 ini bisa dipantau secara online melalui laman kurikulum.kemdikbud.go.id. (rei)

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: