Menag: IAIN Jangan Kalah Dengan PT Umum

Peresmian alih status STAIN menjadi IAIN Bengkulu. MASRIYADI/RB

Peresmian alih status STAIN menjadi IAIN Bengkulu. MASRIYADI/RB

BENGKULU – Masyarakat Bengkulu terutama keluarga besar  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu berbahagia. Setelah bertahun-tahun diperjuangkan, akhirnya alih status Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi IAIN Bengkulu diresmikan, Rabu (13/3).

Peresmian dilakukan oleh Menteri Agama (Menag) RI Dr. H. Suryadharma Ali, M.Si di Gedung STQ. Dalam kesempatan itu Menag berharap IAIN Bengkulu tidak menjadi perguruan tinggi agama Islam yang tertinggal. Saat ini tidak sedikit perguruan tinggi agama Islam yang kalah dibandingkan perguruan tinggi umum.

“Untuk itu saya berupaya mengajak untuk merubah paradigma pendidikan. Ada kesalahan pemahaman tentang pendidikan Islam. Selama ini banyak dipahami hanya sebatas pendidikan agama saja. Agama dikhususkan lagi untuk pendidikan berkaitan dengan bidang studi fikih, Alquran dan tafsir Alquran, lalu tauhid dan sejarah dalam Islam. Jadi dibatasi seperti itu. Padahal pendidikan Islam itu dilandasi dan sumber Alquran, tidak memisahkan diri dengan ilmu lain. Jadi alquran, tidak sempit dengan masalah alam, ilmu berkaitan alam,” kata Suryadharma Ali memperjelas pernyataanya usai memberikan pidato.

Sambung Suryadharma, kebanyakan pihak memahami Alquran hanya sebatas agama saja. Padahal dalam Alquran, sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk “memikirkan kejadian langit dan bumi”. Untuk memikirkannya, bukan hanya satu dua ilmu. Tetapi dapat dengan ribuan ilmu.

“Kita harus mengimplementasikan ayat (Alquran, red) itu. Sehingga bukan sekedar belajar agama saja, atau hubungan manusia dengan Allah saja. Oleh karenanya, juga lembaga perguruan tinggi agama Islam, hendaknya membuka kajian Islam dengan ilmu lain. Kaitkan itu, jangan pisahkan. Dan jawabannnya kita harus mengintegrasikan pemahaman keilmuan. Agama dipahami sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dipahami sebagai hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam,” tukasnya.

Setelah alih status STAIN menjadi IAIN resmi diubah, dia berharap kajian keislaman di IAIN semakin meluas.  “Saya berharap program studi terus bertambah. Mengaitkan agama dengan ilmu lain. Sehingga Islam menjadi sumber peradaban,” tambah Suryadharma Ali.

Dalam peresmian kemarin juga dihadiri oleh Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah, Rektor IAIN Dr. H. Sirajuddin, M.Ag, MH, Walikota Bengkulu H Helmi Hasan, Bupati Bengkulu Tengah Fery Ramli, GM RBTv Dedy Wahyudi, SE, tokoh agama, dosen dan ribuan mahasiswa IAIN.

Kepada ribuan mahasiswa IAIN, Suryadharma Ali juga berpesan agar dapat berprestasi dan berkontribusi bagi daerah dan negara. Serta bermoralkan Islam. Jebolan mahasiswa IAIN harus dapat tampil beda.

“Dan terus berpedoman pada Alquran. Kurikulum, juga harus dipelajari. Diatas semua itu adalah Alquran. Mahasiswa harus jadi barisan yang kuat. Tidak roboh, diterjang ombak negatif. Tidak runtuh diterjang arus negatif. Saya sedih kalau ada mahasiswa perguruan tinggi agama Islam menggugat dosennya. Demo merusak kampusnya. Karena itu bukan perilaku orang Islam. Saya berharap aksi radikal tidak terjadi di IAIN Bengkulu,” tandas Suryadharma Ali.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah mengatakan seperti janji Pemda Provinsi dulu, bila alih status STAIN menjadi IAIN telah resmi, maka asset Pemda Provinsi yang ada di lingkungan wilayah IAIN akan dihibahkan. Pihaknya akan secepatnya mengurus proses hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam sambutannya Gubernur Junaidi juga mengatakan yang dia baca pertama kali saat membika koran bukanlah berita, termasuk berita cawagub. Melainkan melihat ucapan peresmian alih status IAIN.

“Saya juga berharap kepada FKPD di jajaran Pemda Provinsi juga mengucapkan selamat (melalui media massa, red). Itu adalah bentuk kegembiraan kita atas peresmian alih status ini,” tegas Junaidi.

Tidak jauh berbeda dengan pidato Menag, Junaidi juga berharap agar IAIN menjadi perguruan tinggi yang dapat terus berkembang dengan mengedepankan jati diri sebagai lembaga akademis. Dengan tidak sebatas sebagai lembaga pendidikan agama. Namun tetap bersumber dari Agama.

“Harapan saya, IAIN dapat menyiapkan SDM yang berkualitas dan handal, membuka jaringan yang seluas-luasnya, baik dengan universitas lokal, antar provinsi maupun luar negeri. Serta memperluas lapangan ilmu pengetahuan. Bukan hanya mengkaji Islam, tetapi juga ilmu pengetahuan secara menyeluruh. Dengan mengembangkan ilmu umum, sifatnya akademis,” tambah Junaidi.

Sementara Sirajuddin mengatakan berdasarkan persetujuan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN dan RB) bertanggal 05 juli 2012, ditetapkan bahwa IAIN Bengkulu memiliki 3 fakultas  dan program pascasarjana S2  dengan 16  program studi. Fakultas  yang dimaksud adalah Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam, Fakultas Tarbiyah dan Tadris, serta Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Arab. Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam, terdiri dari Jurusan Syariah dan Jurusan Ekonomi Islam dengan Prodi Ahwal Syakshsyiyyah, Mu’amalah, Ekonomi Syariah dan Perbankan Syariah dan lain-lain.

“Seiring dengan kebutuhan memperkuat layanan akademik pasca alih status IAIN Bengkulu, pada 14 Maret 2013 akan menerima sk izin pendirian 10 program studi baru, 9 prodi untuk jenjang strata satu (S1) dan 1 prodi untuk jenjang strata dua (S2),” kata Sirajuddin. (ble)

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: