Pedagang Pasar Subuh Tetap akan Direlokasi

Helmi Hasan

Helmi Hasan

BENGKULU – Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan, SE mengatakan, secara perlahan akan tetap melakukan relokasi pedagang pasar subuh ke Pasar Baru Koto II. Apalagi, Pemda Kota telah mendapatkan dukungan dari beberapa Fraksi di DPRD yang disampaikan dalam rapat paripurna. “Ya akan tetap kita relokasikan ke Pasar Baru Koto. DPRD kan sudah mendukung dan memberikan saran dan pendapat ke Pemkot. Jadi saran itu akan ditindaklanjuti segera,” kata Helmi, Rabu (26/6).

Helmi mengemukakan hal tersebut saat diminta tanggapan penolakan Koalisi Mahasiswa Pro Rakyat (Kompor) terhadap rencana relokasi pedagang pasar subuh ke Pasar Baru Koto yang mendatangi DPRD Kota Bengkulu. Saat berdialog dengan Anggota DPRD, Kompor meminta agar pedagang pasar subuh di KZ Abidin tidak direlokasi. Bila tetap ingin direlokasi, pedagang harus dimasukkan ke Pasar Tradisional Modren (PTM).

Menurut Koordinator Kompor Dino Andeska, alasan walikota bahwa aktivitas pedagang pasar subuh di jalan KZ Abidin bertentangan dengan Perda No 3 tahun 2008, sangat pilih kasih. Selain itu, jalan KZ Abidin II itu bukanlah jalur angkutan umum. Begitu pula terkait masalah kebersihan, Kompor menilai, masalah kebersihan di kawasan KZ Abidin II bukan kesalahan pedagang, melainkan kelalaian Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta CV Barokah yang mengelola kebersihan.

“Lokasi tempat relokasi kan itu tidak strategis, kemudian daerahnya merupakan lokasi perkonomian lemah. Kemudian bangunan di lantai II itu dinilai tidak akan mampu menampung seluruh pedagang. Bisa mengakibatkan bencana ambruk. Banyak konsumen juga enggan ke pasar,  yang parah lagi tidak didukung dengan jalur angkutan umum yang strategis,” kata Dino.

Dalam kajian Kompor, sambung Dino, rencana relokasi pedagang pasar subuh tersebut bertentangan dengan UU No 5 tahun 1998 tentang larangan keras monopoli persaingan usaha antara pasar modern dengan pasar tradisional, pasal 28 UUD 1945, tujuan pembentukan Negara RI yakni kesejahteraan umum dan Perpres No 112 tahun 2007 tentang penataan pasar tradisional dan pasar modren. “Jadi kalau walikota tetap melakukan relokasi, jelas akan mnganggu stabilitas kenyamanan dan keamanan Kota Bengkulu. Lalu akan menimbukan kesenjangan sosial sesama pedagang, melahirkan kriminalitas akibat banyak pengangguran jika relokasi dilakukan,” ujar Dino.

Ketua Komisi III DPRD Kota Suimi Fales, SH, MH mengatakan, pihakya akan bersedia memfasilitasi segala bentuk keinginan pedagang dan pemerintah daerah. “Selama ini kami menduga persoalan pasar subuh sudah tuntas dengan adanya toleransi dari walikota berjualan sampai pukul 08.00 WIB. Kenyataannya, pedagang tetap gelisah, tidak ada kejelasan sampai kapan mereka diberikan kesempatan itu. Selama ini tujuan pemkot juga menertibkan itu besar kemungkinan untuk mendukung program meraih adipura. Namun apapun alasanya, DPRD akan mendukung semua persoalan ini bisa diselesaikan dengan tidak merugikan satu sama lain,” kata Suimi. (che)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Janjinya idak digusur kan Insya Allah !!!!klo dah jadi ya direlokasikan bukan digusur…..Calak Nian Wong Sikok neh!!!!DPRD yang mendukung yo Fraksi dio tulah….!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*