Pengolahan Limbah Tambang Emas Disegel

Kanit Tipiter Satreskrim Polres Lebong Bripka Haryono menyegel lokasi pengolahan limbah tambang emas tradisional dengan memasang police line di sekitar lokasi. WANDA/RB

Kanit Tipiter Satreskrim Polres Lebong Bripka Haryono menyegel lokasi pengolahan limbah tambang emas tradisional dengan memasang police line di sekitar lokasi. WANDA/RB

PINANG BELAPIS – Penyidik Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polres Lebong, Rabu (17/7) kembali mendatangi areal lokasi pengolahan tambang limbah emas di Desa Air Kopras Kecamatan Pinang Belapis. Hal ini dilakukan guna mengumpulkan barang bukti tambahan, terkait ditetapkannya empat warga sebagai penambang emas ilegal.

Empat tersangka yang sudh ditetapkan dalam kasus ini masing-masing Su (27) warga Jalan Perintis Kemerdekaan KM 7 Metro Makasar Sulawesi Selatan, Mu (38) warga Jalan Damba Sidrap Kecamatan Maritanggae Makasar, JG (44) warga Jalan  Buatulinae Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara Sulawesi Utara dan DS (28) warga Desa Lebong Tambang Kecamatan Lebong Utara, saat ini masih ditahan. Mereka ditangkap polisi di lokasi pengolaham limbah emas, pada Senin (15/7) malam.

 Kapolres Lebong AKBP Roh Hadi, S.IK didampingi Kabag OPS AKP Ruri Roberto, SH, S.IK melalui Kasat Reskrim AKP Abdu Arbain didampingi Kanit Tipiter Bripka Haryono, saat ini dilokasi penambangan telah disegel, ditandai dengan dipasangnya garis polisi (police line) di lokasi penambangan. Artinya, areal tersebut tertutup oleh aktivitas apa pun selama proses penyidikan dilakukan polisi.

 Dikatakan Abdu, penyegelan dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB. ‘’Kita sekaligus melakukan pengumpulan barang bukti tambahan di lokasi serta mengambil keterangan beberapa warga sebagai saksi,’’ ujarnya.

 Adapun beberpa barang bukti tambahan yang berhasil diamankan kemarin, diantaranya satu unit timbangan, satu unit tempat penggorengan, blower, beberapa tong besi untuk alat penampungan, mesin gelundung (alat pengolahan emas tradisional.red) dan dynamo. ‘’Serta beberapa peralatan dan mesin lainnya yang digunakan dalam aktivitas pengolahan limbah,’’ kata Abdu.

 Lebih jauh Abdu menjelaskan, keempat tersangka penambang ilegal yang sudah ditahan itu dijerat pasal 48 huruf (a) jo pasal 158 UU Nomor 04 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. ‘’Aktivitas yang dilakukan mereka sudah berlangsung lebih kurang 10 hari hingga 3 bulan. Mereka melakukan pengolahan satu areal di tiga pondok berbeda,’’ imbuh Abdu.

 Penyidik kemarin juga melakukan pengembalian berbagai barang yang sempat diamankan, namun dianggap tidak ada kaitannya dengan kasus yang diselidiki. Diantaranya galon air, peralatan masak, peralatan mandi serta beberapa barang lainnya. ‘’Kasus ini masih dalam pengembangan dan kita masih akan mendalami sejauh mana aktivitas pengolahan ini dilakukan oleh para tersangla,’’ demikian Abdu.(dtk)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*