Petualangan Empat Pendekar Desa

Dewi Purnamasari Pengarang Cerita Silat Empat PendekarxxxxKECANTIKAN Putri Gading Cempaka dikenal luas sampai ke negeri Aceh. Hal ini menarik minat Pangeran Muda dari Negeri Serambi Mekkah itu dan bermaksud melamar sang Putri. Hanya saja karena sang Putri memiliki tambatan hati yang lain, pihak kerajaaan Aceh memaklumatkan perang guna merebut sang putri.

          Perangpun berlangsung seru. Pasukan Aceh merengsek maju hingga ke suatu tempat yang oleh orang Bengkulu dikenal dengan nama Bukit Aceh. Bukit itu menurut cerita dari mulut ke mulut berada di sekitar jembatan Pasar Bengkulu yang menghubungkan Kelurahan Pasar Bengkulu dengan kawasan yang dulunya masih merupakan sebuah muara di sekitar Laut Pasar Bengkulu.

Masyarakat Bengkulu menamakan daerah itu dengan nama Bukit Aceh untuk  mengenang peperangan antara orang Bengkulu melawan pasukan dari kerajaan Aceh. Darah tumpah diantara kedua belah pihak.

          Dahulu kawasan itu kerap dipakai warga Bengkulu yang hobi memancing saat menyalurkan hobi. Karena terdesak perang, dengan ditemani seorang dayang pengasuhnya  sang putri terpaksa meninggalkan kerajaan dan berlari hingga menghilang di Gunung Bungkuk.

Masih menurut cerita, jika cuaca sedang cerah. Masyarakat sering melihat seberkas sinar biru dari arah Gunung Bungkuk, tempat terakhir kali sang Putri menghilang. Kisah pasca peperangan ini diangkat oleh Dewi Purnamasari, PNS Pemprov Bengkulu dalam sebuah cerita silat berjudul “Petulangan Empat Pendekar Desa.”

Pascapertempuran di bukit Aceh tersebut, digambarkan terjadi kekacauan luar biasa di Pusat Kota. Hulubalang kerajaan dari Sungai Serut yang berhasil menyelamatkan diri dari kekacauan, meminta kesediaan tokoh persilatan yang memiliki padepokan silat di Kawasasn Utara Bengkulu. “Padepokan itu diketuai Pakoale yang terkenal memiliki kesaktian berupa jurus Macan Serilang Sakti,” katanya.

Dikisahkan, Pakoale memiliki empat orang murid masing-masing bernama Talakosa, Gading Muda, Sekamerah dan Bala Besi. Mereka ini berasal dari suatu Desa yang berada tidak jauh dari padepokan.

Berbekal ilmu pedang tinggi dan jurus Silat Macan Serilang Sakti, keempat pendekar muda, itu membasmi para penjahat. Banyak tokoh silat dari aliran hitam berhasil ditumpas. Hanya seingat penulis terdapat satu tokoh aliran hitam yang begitu digjaya dengan nama, Pitak Hitam.

Pitak Hitam ini sebetulnya memiliki kesaktian yang dapat diimbangi oleh keempat pendekar. Hanya saja lantaran Pitak Hitam banyak memiliki pengikut. Membuat pitak sulit dikalahkan. Dikisahkan dalam cerita silat itu, keempat Pendekar dalam menumpas kekacauan di dalam Kota membutuhkan waktu cukup lama hingga nama kerajaan berganti sebanyak tiga kali. “Kisah pendekar ini cukup panjang mulai dari nama Kerajaan masih Sungai Serut, berganti menjadi Muara Bangkahulu dan kalau tidak salah berganti nama menjadi Sungai Lemau,“ kata Dewi.

Diakui Dewi, membuat cerita silat bukan perkara mudah. Tetapi karena termotivasi ingin mengenalkan nama-nama tempat di Bengkulu yang sudah cukup melegenda membuat dirinya tetap menuntaskan cerita silat karangannya. “Saya ingin mengenalkan kepada generasi muda bahwa nama-nama yang ada di Kota-Kota Bengkulu itu banyak diambil dari nama-nama sejarah seperti misalnya jalan Sungai Serut, PO Ratu Agung, yang ternyata nama-nama sejarah di Bengkulu,“ katanya. (iks)

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: