Polres Mulai Tarik Pasukan

BINDURIANG – Situasi keamanan di Lembak, khususnya di Kecamatan Binduriang, Rejang Lebong (RL) semakin kondusif. Jalur lintas Curup – Lubuk Linggau kembali lancar lantaran badan jalan sudah benar-benar bersih dari kayu dan batu yang sempat dijadikan media pemblokiran jalan oleh warga. Aktivitas perkumpulan warga di titik-titik jalan yang sempat diblokir juga sudah mulai berkurang.

Pantauan RB, tidak ada lagi warga yang berjaga di kawasan Desa Pelalo dan Desa Cahaya Negeri, Kecamatan Sindang Kelingi. Namun untuk titik Desa Kepala Curup dan Desa Simpang Beliti, Kecamatan Binduriang masih terlihat belasan warga yang berkumpul sembari membersihkan sisa potongan kayu di tepi jalan yang sengaja dibakar warga saat jalan diblokir.

Untuk kasus penjarahan dan perampokan yang dimanfaatkan oknum tak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi pascabentrok warga dengan polisi, terhitung kemarin (20/6) sudah nihil. Namun penarikan uang (uang jalan, red) kepada pengendara yang melintas oleh sekumpulan warga yang berjaga di bekas titik-titik pemblokiran jalan masih berlangsung. Itu sesuai pengakuan beberapa pengendara yang melintas.

Sementara untuk 3 korban tembak yang masih dirawat di RSUD M Sobirin, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan hingga malam ini dinyatakan masih dalam perawatan. Ketiganya adalah Sapri (28), warga Desa Simpang Beliti, Budiono dan Rizal, keduanya warga Desa Kepala Curup. Artinya untuk korban tewas dalam insiden ini hanya Ardan alias Cik Udan (19), warga Desa Kampun Jeruk.

Mendapati kondisi yang berangsur membaik ini, Kapolres RL, AKBP. I Ketut Yudha Karyana, S.Ik mulai menarik pasukan yang disiagakan di Polsek Sindang Kelingi sejak Minggu malam (17/6) secara bertahap. Hingga tadi malam pasukan yang tersisa tidak sampai 30 orang, yakni mereka yang benar-benar personel yang bertugas di Polsek Sindang Kelingi.

‘’Benar, saya sudah menarik pasukan yang semula disiagakan di Polsek Sindang Kelingi. Kami menilai situasinya sudah mulai kondusif. Tampak dari arus lalu lintas yang semakin lancar. Memang tujuan kami melakukan penjagaan agar arus lalu lintas bisa kembali lancar. Agar jangan sampai pengendara yang merasakan dampak negatif dari insiden ini,’’ kata Kapolres kepada RB.

Sementara untuk membantu pemulihan situasi di Kecamatan Binduriang, Kodim 0409 RL tetap menyiagakan puluhan personel di 3 titik yang sempat dijadikan markas pertahanan warga. Yakni di Desa Kepala Curup, Desa Simpang Beliti dan Desa Kampung Jeruk. ‘’Sesuai kesepakatan dengan warga, pasukan baru saya tarik setelah kondisi di sini (Binduriang, red) benar-benar kondusif,’’ tegas Dandim 0409 RL, Letkol. Inf. Yanto Kusno Hendarto.

 

Seluruh Kerusakan Dilaporkan ke Mabes

Sementara untuk kerusakan yang ditimbulkan akibat insiden bentrok itu, diakui Kapolres RL, AKBP. I Ketut Yudha Karyana, S.Ik belum dihitung secara keseluruhan. Baru aset Polres RL saja yang bisa dihitung. Itupun belum terdata seluruhnya. Diantaranya 1 unit Truk Pengendalian Massa (Dalmas) dan Pos Polisi Taba Padang yang hangus terbakar serta belasan kendaraan operasional di luar kendaraan pribadi polisi yang ringsek berat akibat lemparan batu. Diperkirakan kerugian mendekati Rp 1 miliar.

‘’Yang pasti semua kerusakan ini akan kami laporkan ke Mabes Polri. Begitu juga dengan kerusakan lainnya, seperti kendaraan masyarakat yang menjadi korban pascainsiden bentok ini. Laporan-laporan korban juga tetap kami tindaklanjuti, baik penjarahan maupun perampokan dan pengrusakan. Namun sampai sejauh ini masih kami tampung dulu laporannya,’’ tegas Kapolres.

Dari pantauan RB, setidaknya ada 30-an kendaraan warga yang dirusak, baik saat bentrok berlangsung maupun saat jalan diblokir warga. Tidak hanya itu masih ada puluhan laporan pengendara yang mengaku menjadi korban penjarahan dan perampokan. Termasuk truk fuso bermuatan karet mentah yang dibakar warga lantaran sopirnya tidak mau menutup badan jalan saat pemblokiran masih berlangsung.

//

Warga Sesalkan Pengembalian Motor

 

Meski di satu sisi bertujuan meredakan konflik, keputusan Kapolda Bengkulu, Brigjend. Pol. Burhanudin Andi, SH mengembalikan 10 unit motor tak berdokumen yang diduga hasil kejahatan kepada warga Binduriang sangat disayangkan sebagian masyarakat. Diantaranya muncul pertentangan dari Ketua Majelis Permusyawaratan (MPM) STAIN Curup, Aditya Chandra Utama Gumay.

‘’Kami sangat kecewa dengan keputusan Kapolda. Polisi jangan tanggung dalam menegakkan hukum. Sangat jelas tujuan polisi menjemput motor yang diduga hasil kejahatan di Binduriang itu merupakan suatu bentuk penegakkan hukum. Kok bisa hukum tidak berlaku di suatu daerah. Ada apa ini? Apakah dengan mengembalikan motor itu polisi bisa menjamin jalur lintas Curup – Lubuk Linggau aman dari kejahatan?,’’ tegas Aditya.

Jika polisi kendur dengan aksi massa tidak menutup kemungkinan pola yang sama diterapkan masyarakat daerah lain. Ketika polisi hendak menegakkan hukum, dengan mudah warga melakukan perlawanan dengan mengerahkan massa. Sehingga bagi suatu daerah yang dinilai ekstrim hanya hukum rimba yang berlaku karena polisi tidak menegakkan hukum dengan adil.

‘’Kalau sudah begitu jangan heran aksi kejahatan semakin merajalela. Belum lagi aksi perlawanan warga kepada aparat itu sangat jelas ada sanksi hukumnya. Yakni pasal 212 KUHP tentang melawan petugas. Polisi jangan hanya menindak warga yang lemah saja. Bentrok ini merupakan sejarah terburuk di tanah RL. Lebih buruknya lagi tercipta negosiasi antara aparat dengan pelanggar hukum,’’ papar Aditya. (sca)

 

 

HML Kecam Tindakan Represif Kepolisian

Sementara itu, bentrok berdarah yang melibatkan aparat kepolisian dengan warga di Kecamatan Binduriang Rejang Lebong mendapat sorotan tajam dari Himpunan Mahasiswa Lembak (HML). HML mengecam tindakan represif aparat kepolisian yang menyebabkan tewasnya satu warga Lembak.

“Kami meminta kepada Bapak Kapolda Bengkulu untuk segera merealisasikan seluruh tuntutan masyarakat Lembak. Sesuai dengan kesepakatan antara aparat kepolisian Rejang Lebong dengan masyarakat Lembak,” tandas Ketua Umum HML, Yafenza Ade.S Zikri, tadi malam.

Menurutnya, peristiwa tersebut tidak boleh terulang kembali.  Siapapun aparat kepolisian yang terbukti melakukan pelanggaran harus ditindak. Dan tidak boleh pandang bulu. Agar memberikan efek jera. “Untuk itu, kami meminta kepada Mabes Polri untuk melakukan dan melaksanakan penegakan supermasi hukum. Atas dugaan pelanggaran hukum dan HAM yang dilakukan oleh aparat kepolisian Rejang Lebong terhadap warga Lembak,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Umum HML, Herleza Zurlani. “Kami meminta semua pihak terkait bekerjasama dengan masyarakat Lembak untuk memulihkan dan menjaga situasi di wilayah Lembak agar kembali kondusif,” tutup Herleza. (ble)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

6 Responses

  1. KEPOLISIAN HARUS BERTINDAK TEGAS,YANG MELAWAN TANGKAP.WARGA …. SUDAH KETERLALUAN ORANG YANG TIDAK TAHU MENAHU JADI KORBAN PERAMPOKAN DAN PERUSAKAN KENDARAAN,SEDANGKAN WARGA …. YANG TERBUKTI TIDAK MEMILIKI DOKUMEN KENDARAAN MALAH MEREKA LINDUNGI DAN MERUSAK FASILITAS NEGARA.DIHARAPKAN UNTUK PIHAK KEAMANAN UNTUK TEGAS JANGAN LOYO BILA PERLU TEMBAK DITEMPAT AGAR MEREKA JUGA JERA.

  2. Ini namanya pramuka bukan polisi, mau2nya diatur ama para kriminal

  3. Seharusnya Kapolda tidak mengembalikan 10 buah sepeda motor yang tidak ada surat2, karena ini merupakan presiden buruk trehadap penegakan hukum di bumi bengkulu, dan yang paling di khawatirkan lagi… kalau tanah bengkulu menjadi tempat pelarian kejahatan kendaraan bermotor di Indonesia.

  4. seharusnya seperti itu,tpi kapoldanya cemen.malah pakek dikembaliikan barang yang benar2 bukan milik warga(barang hasil curian)entar kalau ada sanak saudara mereka yang dirampok baru tau rasa.contoh tuh kapolda sumsel,saat membrantas para penjahat di daerah lintang,tembak mati di tempat aja para perampoknya biar berkurang tuh para perampok,tuk apa menghargai nyawa perampok yang hina libih hina dari anjing dan para koruptor

  5. Setuju atas comment loe org semua. Lebih baik punya 1 warga baik daripada 100 warga kriminal.

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: