Pukul Murid Pakai Kayu Jadi Metode Pengajaran

tersangka guru aniaya (3)BENGKULU – Oknum guru SDN 65 Tanjung Jaya, Bengkulu, Juhirin (46) yang menjadi tersangka kasus penganiayaan terhadap 30 muridnya, ternyata sudah biasa menggunakan cara-cara kekerasan. Dia beralasan, cara-cara fisik tersebut merupakan bagian dari metode pengajaran.

Bahkan, sebelum menempeleng 30 muridnya pada Senin (4/3) lalu, Juhirin juga pernah memukul dua orang muridnya dengan menggunakan kayu. Akibat tindakan itu, dia dilaporkan juga oleh orang tua murid yang tidak senang anaknya dipukul pakai kayu. Kini peristiwa serupa terulang kembali.

Meski begitu, Juhirin menolak disalahkan. Menurut dia, tindakannya yang menempeleng seluruh murid kelas IV itu, merupakan salah satu cara menegakkan kedisplinan anak didik. Dia menegaskan, tindakan menampar tersebut merupakan bagian dari metode pengajaran yang dia terapkan selama bertugas sebagai guru.

“Saya ini sudah 25 tahun mengabdi menjadi guru, dan memang ada dua metode untuk menyampaikan pengajaran terhadap murid. Nah saya memilih menggunakan metode lama, dan itu terbukti ampuh yakni dengan menggunakan disiplin tinggi, dan model seperti itulah. Dan itu juga berdasarkan pengalaman saya selama ini. Jadi tindakan itu tidak salah dalam pendidikan, mungkin ya salahnya kalau di mata hukum,” tegas Ju.

Ju berpendapat, tindakannya menempeleng 30 muridnya itu masih dalam batas kewajaran. Ia pun membantah kalau aksi kekerasan yang dilakukannya itu dikatakan dipicu rasa emosi. Menurutnya hal itu merupakan salah satu metode dalam pengajaran di bangku sekolah. Dan juga berdasarkan pengalamannya yang pernah berhasill mendongkrak nilai siswa dengan menggunakan cara kekerasan.

“Bukan emosi dek, itu tuh bagian dari metode pengajaran. Hasilnya luar biasa, contohnya saya pernah ditantang kepala sekolah untuk menaikkan nilai rata-rata anak menjadi 7. Dan saya gunakan sistem metode lama ini, dan berhasil. Hanya dua orang waktu itu yang saya pukul dengan menggunakan kayu. Cuma waktu itu saya dilaporkan juga, karena memukul dua anak,” tutur Ju tanpa rasa bersalah.

Kendati mengakui kalau cara menempeleng anak yang dilakukannya masih dalam batas kewajaran, Ju tetap mengakui tindakannya itu karena khilaf. Lalu apa mungkin perbuatan khilaf sampai menampar 30 anak? Ju pun mengiyakannya.  “Jangankan 30 orang, nempeleng 100 orang saja juga bisa khilaf kok. Kalian pernah gak lihat ada tabrakan beruntun, kan banyak korbannya itu kan karena khilaf juga,” tandasnya.

Bahkan, Ju pun meminta agar Undang-Undang Perlindungan Anak, perlu dilakukan revisi. Sebab, menurutnya UU tersebut berbenturan dengan profesinya sebagai tenaga pendidik. Mengingat, anak didik samasekali tidak boleh disentuh. “UU perlindungan anak itu perlu direvisi, saya rasa UU itu terlalu ekstrem. Apalagi kan, murid-murid sekarang ini terlalu dibela sama mama papanya,” ujarnya.

Terkait kasus hukum yang membelitnya, Ju pun mengaku sudah meminta maaf secara langsung kepada para orangtua murid. Namun menurutnya ada wali murid yang tetap tidak terima dengan tindakannya itu. Ditanya apakah menyesal atas perbuatannya itu, Ju pun mengiyakannya. Ia pun menyerahkan sepenuhnya pada atasannya untuk menyelesaikan persoalannya itu dengan wali murid.

“Saya hanya minta kalau persoalan ini nanti selesai, sementara ini saya tidak mau mengajar dulu. Saya minta ditugaskan di bidang perpustakaan saja, memang banyak juga yang bilang saya ini orangnya temperamental. Tapi bagi saya, kalau dulu itu memukul murid itu biasa saja untuk kemajuan prestasi murid itu sendiri. Katakanlah untuk merangsang anak itu agar cepat berkembang dengan baik,” ujarnya.(fiz/cw2)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. bukannya berkembang tambah baik,tp malah akan membuat mental anak drop,anak akan merasa ketakutan jk akan berhadapan dgn guru tsb,dan memicu anak tdk mau sekolah,sy rasa sang pak guru mesti di tatar ulang,di perlihatkan metode pengajara di sekolah islam terpadu,di sana tdk ada sedikit pun kekerasan,malah anak di jadikan partner di dlm lingkungan sekolah,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

*
*