Home / PRO OTONOMI / Usut 56,8 Ton Pupuk Palsu

Usut 56,8 Ton Pupuk Palsu

Polda Akan Hadirkan

Saksi Ahli dari Unib

BENGKULU – Terkait upaya pengusutan 56,8 ton pupuk palsu oleh Polres Kepahiang, Polda Bengkulu berencana akan menghadirkan saksi ahli pertanian dari Universitas Bengkulu (Unib). Tujuannya untuk mengetahui apa dampak yang ditimbulkan dari pupuk palsu tersebut.

 Kapolres Kepahiang AKBP. Iskandar dan Kabid Humas AKBP. Sudarno, S.Sos, MH kemarin mengatakan secepatnya saksi ahli dimintai keterangannya. Saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Unib untuk mendapatkan saksi ahli itu.

“Tujuannya untuk menjelaskan dampak pupuk palsu itu bahayanya apa sehingga nanti masyarakat bisa hati-hati kalau menggunakan pupuk karena tekstur, warna dan kemasanya sama dengan yang aslinya, nanti ahli pertanian yang akan menjelaskannya,” ujar Kabid Humas, kemarin sore (19/3) sekitar pukul 16.30 WIB.

 Ditambahkan Kapolres Kepahiang, untuk Tempat Kejadian Perkara (TKP) gudang dan toko pupuk tersebut berada di Desa Bukit Barisan, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang. Pupuk yang berhasil diamankan itu sebanyak 56,8 ton. Rincian 10 ton berhasil diamankan dari dalam truk merupakan pupuk TSP 36 tanpa dilengkapi label Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian polisi juga berhasil menyita 40 ton lainnya darii gudang yang terdiri dari 2 ton pupuk merek Mutiara Sawit, 2 ton pipuk Poska, 2 ton NPK, 1,5 ton NKCL Makota dan 34,5 ton pupuk berbagai merek lainnya.

 Kemudian sebanyak 6,5 ton lainnya ditemukan di dalam toko yakni tiga jenis masing-masing 1,5 ton TSP 36, 300 Kg Mutiara Sawit, dan pupuk berbagai merek sebanyak 5 ton. “Truk yang bermuatan 10 ton tersebut baru datang dari Pulau Jawa. Untuk pemiliknya atas nama Fa, sudah diamankan guna dilakukan penyidikan,” kata Kapolres.

 Selain pemilik gudang, Fa (30) polisi juga mengamankan YA (30) selaku sopir truk, Fe (26) kernet truk, dan Su (38) penjaga toko pupuk di Kepahiang. Keempatnya hingga saat ini masih diamankan di Polres Kepahiang guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

 Dijelaskan kapolres, pupuk palsu tersebut sudah sempat tersebar di kios-kios penjualan di kawasan Kabupaten Kepahiang dan sekitarnya. Untuk sementara pihaknya masih menunggu hasil laboratorium yang diperkirakan baru akan keluar 3 minggu kedepan.

“Kalau dari pengakuan pemilik gudang kegiatan itu sudah berlangsung satu tahun terakhir. Dia membeli pupuk itu seharga Rp 60 ribu perkarung dan dijualkan lagi di kios-kios Rp 100 ribu per karung,” katanya.

 Penyidik bakal menjerat tersangka dalam kasus ini dengan Pasal 37 ayat (1) jo Pasal 60 huruf f Undang-undang RI Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan jo Pasal 8 Huruf a Undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Kemungkinan ada (gudang lain) karena itu termasuk murah dan dijual tidak akan tahu, maka kita akan lihat kandungannya, jangan sampai merugikan masyarakat,” jawab Kapolres terkait ada indikasi gudang pupuk palsu lainnya.(zie)

Baca Juga ...

Payung Hukum Bisnis Syariah Semakin Kuat

JAKARTA – Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan sembilan fatwa baru di bidang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.