Home / BERITA UTAMA / Diberondong dengan Senapan Serbu

Diberondong dengan Senapan Serbu

IKUT BERDUKA : Wabub Rejang Lebong ,Ibal Bastari, Kapolres RL AKBP Napitupulu Yogi Yusuf dan Kapolres Lubuk Linggau AKBP Hajad Mabrur mengunjungi rumah duka di Desa Belitar Muka, Kecamatan Sindang Kelingi,RL.

CURUP – Peristiwa penembakan lima warga Dusun IV Desa Belitar Muka, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong (Bengkulu)
panen kecaman dari berbagai pihak. Pelaku penembakan yang memberondong satu keluarga di dalam mobil hingga menewaskan 1 orang, Surini (52) dan lima lainnya mengalami luka tembak serius.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto berjanji tidak akan melindungi Brigadir K, oknum polisi yang diduga menembaki mobil
Honda City Hitam BG 1488 ON. Terungkap kalau kendaraan dengan sopir dan tujuh penumpang itu diberondong dengan senjata jenis SS1-V2.
Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 19 Februari 1965 mengatakan, personel
Satuan Shabara Polres Lubuk Linggau tersebut terbukti bersalah, akan diproses secara pidana umum

“Kalau sudah ada unsur untuk dilakukan PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat, red), akan saya lakukan. Tapi, itu setelah hasil persidangan hakim. Jadi, tidak boleh mendahului sebelum ada putusan hakim,”
kata Agung di Mapolda Sumsel, kemarin (19/4).
Mantan Kakorlantas Polri itu juga menyebut, ada 7 peluru yang dimuntahkan Brigadir K dari SS1-V2 miliknya.
Saat ini, senjata dan 7 selongsong pelurunya sudah disita dan amankan di Mapolres Lubuk Linggau.
Menurut Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1987, tim penyidik yang merupakan gabungan Direktorat Reserse
Kriminal Umum (Ditreskrimum) dan Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sumsel, masih melakukan pemeriksaan pada Brigadir K, para saksi, dan uji balistik.
“Tim juga sudah saya perintahkan untuk membawa Brigadir K ke Mapolda untuk ditahan. Saya tidak akan menutup-nutupi karena saya komitmen untuk membersihkan apa yang tidak benar,” lanjutnya.
Menurut suami Winny Charita, ada 11 saksi yang sudah diperiksa. Selain Brigadir K, Kapolsek AKP Muhammad Ismail dan perwira pengendali Ipda Fransisko Yosef (Kanit Pam Obvit Sat Shabara Polres Lubuklinggau), yang memimpin razia tersebut juga telah diperiksa.
“Hasil penyidikan Tim Polda, razia sesuai SOP. Ada perwira dalam hal ini Kapolsek-nya. Dan Juga ada papan petunjuk razia,”ujarnya.
Penggunakan peluru tajam, juga diperbolehkan saat razia. Tergantung hakikat ancamannya. “Kan tidak mungkin polisi pakai peluru karet ketika berhadapan dengan pelaku kejahatan 3 C,” lanjutnya.
Agung juga menjabarkan secara rinci kronologis kejadian tersebut. Menurutnya, sekitar pukul 11.30 WIB, ada mobil Honda City Hitam BG 1488 ON yang melintas di saat gelar razia Cipta Kondisi di jalan Fatmawati, Kecamatan Lubuk Linggau Timur 1, Selasa (18/4) siang.
Oleh personel yang melakukan razia, mobil tersebut dusuruh berhenti untuk diperiksa. “Tapi, tidak ada tanda-tanda dari mobil tersebut untuk mengurangi kecepatan dan hampir menabrak 3 personel polisi,” kata Agung.
Mobil tersebut, lanjutnya, terus melaju.
Personel sempat mencatat nopol mobil tersebut. Setelah di crosscheck Samsat, kata Agung, ternyata Nopol mobil tersebut tidak terdaftar di Sumsel. “Mobil itu seharusnya ber-flat B. Milik sebuah Yayasan di Jakarta,” katanya.
Karena mobil tersebut terus melaju, menerobos lampu merah, dan menyerempet salah satu mobil lainnya, menurut mantan kapolda Kalimantan Selatan, insting kepolisian dari personil bangkit. Para personil menduga
mobil tersebut ada kaitannya dengan pelaku 3 C (Curat, Curas, dan Curanmor), sehingga dilakukan pengejaran.
Kata Agung, ada 5 personel yang melakukan pengejaran. Tiga personel naik mobil Mitsubishi Kuda. Salah satunya Brigadir K. Mobil tersebut disopiri anggota Polantas. Dua lainnya naik sepeda motor. Namun, personel yang naik sepeda motor ini ketinggalan jauh.
Saat pengejaran, anggota sudah 10 kali memberikan tembakan peringatan.
Namun, tidak digubris. Mobil sedan Honda City Hitam BG 1488 ON tersebut, kata Agung, baru bisa dihentikan di samping Bank Mandiri unit Simpang Priuk.
Namun, lanjutnya, setelah mobil sedan tersebut berhenti, para penumpang
yang ada di dalam mobil pun tidak mau turun saat diperintahkan untuk turun. Akhirnya, terjadilah penembakan tersebut oleh Brigadir K. “Mungkin juga karena keadaan kaca yang gelap dan dinilai membahayakan.
Jadi, anggota mengambil inisiatif untuk menembak,” terangnya.
Dari penembakan tersebut, ada 6 dari 8 penumpang yang menjadi korban.
Masing-masing Dewi Erlina (40), warga Rejang Lebong, tertembak bahu kiri atas, Novianti (30), warga Lubuk Linggau Timur I, tertembak pundak kanan. Genta (2), anak Novianti, tertembak
kepala samping kiri.
Kemudian, Surini (54), warga Rejang Lebong (ibunda Dewi Erlina), meninggal dunia setelah mengalami tiga tembakan di dada. Lalu, Indrayani (33), warga Rejang Lebong, tertembak leher depan (kritis) dan dirujuk ke RSMH Palembang. Serta Diki (30), sopir, warga Rejang Lebong, tertembak di perut kiri. Sedangkan 2 penumpang
lainnya, Sumarjono (S) dan Galih luput dari tembakan. “Dari pemeriksaan terhadap 2 penumpang tersebut, saksi S mengatakan pada polisi bahwa dirinya sempat menyuruh Diki (sopir, red), untuk berhenti dari saat razia. Tapi, sopirnya tidak mau dan terus melajukan mobilnya,” tukasnya.

Minta Pelaku Dihukum Berat

Kaswan, (62), suami Surini (52), warga Dusun IV Desa Belitar Muka, Sindang Kelingi, Rejang Lebong berharap, oknum polisi yang memberondong Surini hingga tewas. Serta melukai 3 anak, 2 cucu dan 1 kerabatnya
dalam insiden di Simpang Periuk, Lubuk Linggau, Selasa, (18/4) dijatuhi sanksi berat.
‘’Keluarga kami ini hanya petani dan tukang rumput. Mengapa sampai
ditrotot (diberondong) tembakan hingga istri saya mati. Tiga anak dan 2 cucu saya juga ditrotot dan kini masih di rumah sakit. Saya sangat sedih,’’ ujar Kaswan, saat menerima kunjungan Wabup RL, Iqbal Bastari, SPd, MM, Kapolres RL, AKBP. Napitupulu Yogi Yusuf, SH, SIK dan Kapolres Lubuk Linggau, AKBP. Hajad Mabrur Pujangga,
di rumahnya Rabu (19/4).
Untuk itu, Kaswan meminta agar oknum polisi yang memberondong tembakan kepada istri, anak dan cucunya itu dapat dihukum berat. “Karena, kami ini bukan penjahat. Jadi, polisi yang menembaknya harus dihukum berat,” kata Kaswan. Mendengar ungkapan perasaan Kaswan yang diiringi linangan air mata itu, Kapolres Lubuk Linggau, AKBP. Hajad langsung memeluk Kaswan. “Atas nama pribadi dan Kapolres Lubuk Linggau, saya minta maaf. Anggota yang melakukannya saat ini sudah diperiksa di Polda Sumsel dan akan dijatuhi hukuman sesuai perbuatannya. Kita juga akan membantu biaya pengobatan keluarga Pak Kaswan yang terluka,” kata Hajad.
‘’Saksi lho pak. Bapak dengar sendiri apa yang disampaikan Pak Kapolres,’’ jawab Kaswan sambil memandangi Wabup yang terus berusaha memegangi tangan Kaswan. Bahkan, Wabup sempat memberikan air putih untuk menenangkan Kaswan.
Saat ini lanjut Hajad, kondisi 3 korban yang dirawat di RS dr Sobirin Lubuklinggau, Dewi Herlina, (40), Novianti (30), Genta (2), Galih (6) dan Diki (30) sudah mulai membaik. Sedangkan Indrayani (33) masih menjalani rawat intensif di RSUP dr.M Husen Palembang.
‘’Sebelum ke sini (rumah duka), saya lebih dulu mampir dengan korban yang dirawat di RS Sobirin. Kondisi mereka sudah mulai membaik. Nah, siang ini juga (kemarin) Pak Kapolda Sumsel menjenguk Indrayani di RSUP dr M Husen Palembang,’’ jelas Hajad.

Wabup: Ini Musibah

Wabup Rejang Lebong, Iqbal Bastari, SPd, MM, saat mengunjungi rumah Surini di Desa Belitar Muka, Sindang Kelingi, Rejang Lebong, berusaha menenangkan keluarga besar Surini dan masyarakat desa. ‘’Ini musibah. Kita semua tidak menghendaki peristiwa ini terjadi. Sedangkan dampak dari insiden ini kita selesaikan dengan baik,’’ kata Wabup yang hadir di rumah duka bersama istrinya, Rabu, (19/4).
Dalam kunjungan itu, Wabup juga memberikan santunan untuk keluarga Kaswan. ‘’Kita doakan semoga keluarga Pak Kaswan yang menjalani perawatan di RS Sobirin Lubuklinggau dan RSUP dr M Husen Palembang dapat
cepat sembuh,’’ ujar Wabup.

Diki, Sopir Sekaligus Pemilik Mobil

Sopir sekaligus pemilik mobil ‘’maut’’ Honda City warna hitam B 1488 ON, Diki (33), merupakan kerabat Surini.
‘’Diki itu mengaku berasal dari Cirebon dan bekerja sebagai tukang buku. Awalnya, Diki, kenal dengan Sasih, anak bungsu saya. Ketika itu, Diki menginap di masjid desa saat bulan Ramadhan tahun 2016 lalu. Sedangkan anak saya aktif di masjid,’’ kata Kaswan.
Setelah itu, Diki diajak mampir ke rumah Surini. Diki mengaku menjual
buku ke Curup, Kepahiang, Kota Bengkulu, Bengkulu Selatan. Serta Lubuk Linggau, Pagar Alam dan Lahat.
“Saya sendiri tidak tahu dimana alamat Diki itu. Yang jelas selama 6 bulan ini dia tinggal di rumah saya,” tutur Kaswan.
Makanya, lanjut Kaswan, ketika teman saudaranya, Joko di Muara Beliti melaksanakan hajatan, Surini bersama 3 anak dan 2 cucunya berniat kondangan. Sekaligus mengunjungi Joko dan tetangganya untuk menghadiri
khitanan anak Dewi Erlina, putri sulung Kaswan-Surini. ‘’Untung saja saya tidak ikut. Anak bungsu saya, Sasih dan Lina juga tidak ikut. Kalau saya ikut mungkin sudah kena trotot (berondong) juga,’’ tutur Kaswan.
Sopir Nyaris jadi Bulanan Keluarga Sementara itu, Diki, sopir mobil Honda City Nopol BG 1488 ON, hampir
menjadi bulan-bulanan pihak keluarga korban yang emosi. Hal itu terjadi saat keluarga korban berdatangan
ke rumah sakit di Lubuk Linggau. Sebab, Diki sudah diingatkan agar berhenti saat dikejar aparat kepolisian. Namun entah mengapa, Diki terus nekat melajukan mobilnya meski polisi sudah mengeluarkan tembakan peringatan. (jpg/rhy)

 

Baca Juga ...

Duka Partiana, Istri Indrayani yang Tewas Tertembak Polisi

Partiana (32), istri Indrayani (33) tidak menduga suaminya akan meninggal setelah diterjang 2 peluru yang ...

Komentar
harianrakyatbengkulu.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

  1. Basaruddin Sidik

    Saya sangat senang sama RB meski tdk ada koran aslinya bertianya dapat akses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *