Home / BENGKULU SELATAN / Pelaku Cabul Balita Divonis Dua Tahun

Pelaku Cabul Balita Divonis Dua Tahun

PROTES: Usai sidang keluarga balita korban cabul protes putusan hakim Dini yang memvonis terdakwa 2 tahun penjara, lebih ringan 5 tahun dari tuntutan, Kamis (20/4).

KOTA MANNA – Kericuhan terjadi usai sidang putusan perkara cabul dengan korban balita sebut saja Manis (4), Kamis (20/4) sekitar pukul 13.00 WIB. Keluarga korban tidak terima atas putusan hakim Dini Anggraini, SH, yang hanya memberi vonis hukuman 2 tahun penjara untuk terdakwa inisial AS (15) pelajar SMP sederajat di Kecamatan Kedurang.

Puluhan keluarga korban yang hadir ke PN Manna untuk mendengar langsung vonis hakim tidak serta merta melayangkan protes di ruang sidang. Kericuhan baru terjadi setelah sidang usai dan di luar ruangan sidang. Keluarga tidak terima vonis 2 tahun dari hakim tunggal yang jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Bengkulu Selatan (BS) yang menuntut terdakwa dihukum 7 tahun penjara.

“Tak terima ia (terdakwa) hanya dihukum 2 tahun. Saya berharap dia dihukum seberat-beratnya, minimal sama dengan tuntutan jaksa. Akibat perbuatannya anak saya yang masih balita sekarang mengalami trauma psikis. Sering nangis saat malam dan takut sendiri,” ujar ibu korban sembari menahan isak tangis di temui di PN Manna, kemarin (20/4).

Senada dengan bibi korban, Dewi, pihak keluarga merasa putusan majelis hakim tidak adil bagi korban keponakan kandungnya. Putusan hakim dinilai hanya melindungi terdakwa dengan alasan masih di bawah umur dan masa depan terdakwa masih panjang. Sementara itu dampak perbuatan terdakwa menyebabkan trauma psikis pada korban yang masih balita tidak sepenuhnya menjadi pertimbangan hakim.

“Anak kami (korban-red) masih balita masih umur 4 tahun. Kami merasa hakim tidak adil, hanya melindungi sepihak saja. Trauma yang dialami anak kami karena perbuatan terdakwa harusnya jadi pertimbangan hakim untuk menghukum terdakwa dengan berat,” kata Dewi menahan emosi.

Dirinya berharap, hakim di Pengadilan Tinggi (PT) Bengkulu dapat menerima banding jaksa dan menghukum terdakwa dengan hukuman seberat-beratnya minimal sesuai dengan tuntutan jaksa kurungan penjara 7 tahun.

Pantauan RB kemarin, situasi di PN Manna cukup mencekam dengan pengawalan beberapa anggota Sat Binmas Polres BS. Perwakilan keluarga korban sempat menemui Wakil Ketua PN Manna Zulkarnaen, SH karena Ketua PN sedang dinas luar, untuk mempertanyakan langsung soal vonis hakim Dini Anggraini tersebut.

Tidak puas dengan jawaban dari wakil PN Manna dan Humas, perwakilan keluarga korban juga langsung menuju pintu keluar gedung PN dengan muka emosi sembari berteriak “PN Manna pelindung kejahatan”.

“PN Manna pelindung kejahatan. Ini tidak akan selesai sampai di sini. Kami dari pihak keluarga akan menggiring terus perkara ini hingga harapan kami agar terdakwa dihukum seberat-beratnya terwujud,” ujar Mursalin terlihat marah.

Situasi makin panas, lantaran senyuman dan celetukan honorer di PN Manna bahwa hukuman 2 tahun terdakwa sudah cukup saat berada di ruang tunggu tak jauh dari  keluarga korban membuat keluarga korban salah paham dan bertambah emosi. Salah satu keluarga korban mempertanyakan maksud dan perkataan honorer tersebut. Lantaran tak mau memperkeruh situasi, honorer tersebut langsung meninggalkan tempat.

Keluarga korban yang marah berupaya mengejar dan mencari tahu identitas honorer tersebut. Wakil Ketua PN Manna Zulkarnaen yang mendengar keributan langsung keluar dan berupaya menenangkan pihak keluarga. Zulkarnaen berjanji akan mengkonfirmasi langsung arti senyuman dan perkataan honorer itu. “Dia (honorer-red) memang karyawan di sini, jadi tanggungjawab saya. Saya rasa tidak ada maksud apa-apa, memang karakternya suka senyum,” uajr Zulkarnaen.

Saat dikonfirmasi prihal putusan hakim Dini Anggraini, lanjut Zulkarnaen, pimpinan tidak bisa mengintervensi putusan hakim. Hakim memutuskan berdasarkan temuan fakta persidangan dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Tentunya vonis 2 tahun itu, sudah dipertimbangkan dengan matang oleh hakim dan adil bagi kedua pihak. Pertimbangan khusus dari hakim Dini memvonis hanya 2 tahun, karena terdakwa masih di bawah umur.

“Ini perkara anak tak bisa disamakan dengan terdakwa dewasa. Kalau tidak puas dengan putusan hakim, silahkan ajukan banding. Soal pernyataan keluarga korban bahwa PN Manna pelindung kejahatan itu hak masyarakat, sebagai bahan intropeksi diri kita,” jelas Zulkarnaen.

Sementara Kajari BS Rohayatie, SH, MH melalui Kasi Pidum Joni Astriaman, SH, menegaskan JPU sudah mengambil sikap untuk mengajukan banding. Sikap ini sudah disampaikan langsung JPU Luthiarti pada persidangan dengan agenda putusan kemarin. “Jaksa banding karena vonis setengah dari tuntutan jaksa. Kita tuntut 7 tahun, divonis 2 tahun. Paling tidak vonis  hakim yang kita harapkan minimal 5 tahun,” demikian Joni.(key)

Baca Juga ...

2 Versi, Kades PAW Terancam Tidak Sah

  KOTA MANNA – Posisi Kepala Desa (Kades) Pergantian Antar Waktu (PAW) dipilih melalui musyawarah ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *