Sabtu , 23 September 2017
Home / MUKOMUKO / Hujan Deras, Sedikitnya 50 Rumah Warga Terendam

Hujan Deras, Sedikitnya 50 Rumah Warga Terendam

BANJIR: Banjir melanda Desa Retak Ilir dan Sibak, kemarin malam (9/9).

IPUH – Hujan deras di Kabupaten Mukomuko menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat. Sedikitnya 50 unit rumah terendam. Ini diakibatkan luapan sungai dan drainase serta gorong-gorong yang tersumbat.

Informasi terhimpun RB, terbanyak rumah yang terendam banjir yakni di Desa Retak Ilir Kecamatan Ipuh. Jumlah rumah yang terendam sedikitnya 30 unit. Dengan 10 unit rumah terparah terkena dampak, lantaran ketinggian air mencapai sekitar dua meter. Ini dikatakan Kades Retak Ilir Syahril saat dikonfirmasi RB, kemarin (9/9).

Diterangkan Syahril, air yang merendam sejumlah rumah warga di desanya berasal dari luapan air Sungai Besah yang datang dadakan. Sehingga warga tidak punya waktu banyak untuk menyelamatkan barang-barang dalam rumah. Sehingga ada beberapa warga yang hanya membawa pakaian yang ada di badan saat mengungsi.

Puncaknya, air merendam puluhan rumah warga sekitar pukul 22.30 WIB Sabtu malam (9/9). Dan air baru mulai menyusut pukul 02.00 WIB dini hari (10/9). Sejumlah warganya mengungsi ke masjid dan bermalam di masjid Desa Retak Ilir.

“Hanya baju di badan, ngungsi dan tidur di masjid. Mau pulang percuma, karena rumah masih terendam dan tidak ada yang sempat diselamatkkan. Hanya beberapa warga yang masih punya waktu mengeluarkan barang. Kedalaman air dua meter,” terang Syahril.

Tidak hanya pemukiman, sejumlah hewan peliharaan warga jenis ayam juga banyak mati. Kemudian jembatan yang menghubungkan Desa Retak Ilir dengan Desa Pasar Ipuh Kecamatan Ipuh juga bergeser sehingga nyaris jatuh ke dasar sungai.

Dipastikan jembatan yang menghubungkan Desa Retak Ilir dengan Desa Pasar Ipuh Kecamatan Ipuh sempat bergeser.  Sehingga nyaris jatuh ke dasar sungai. Dipastikan saat ini mobil tidak bisa lagi melalui jembatan tersebut. Akibat kejadian banjir ini, ditaksir kerugian materiil mencapai Rp 500 juta.

“Untuk pastinya, kami masih mendata kerugian warga. Kami hanya menghitung kerugian warga kami saja. Kalau soal jembatan penghubung yang rusak parah, Pemkab yang tahu,” jelas Syahril.

Banjir juga menerjang Desa Sibak, Tanjung Medan, dan Pulau Makmur. Termasuk di Desa Pulau Payung. Di Tanjung Medan, diinformasikan Danramil Ipuh Kapten Inf. Yon Anison mengatakan, paling sedikit ada 7 rumah warga yang terkena. Sedangkan di Desa Sibak awalnya terdata ada empat rumah, tapi belakangan ada 10 rumah.

“Di Desa Sibak, yang meluap anak Sungai Jungur yang alirannya melewati Desa Sibak. Dilaporkan, ada dua kulkas warga rusak. Namun sekitar pukul 22.00 WIB air mulai surut,” terang Danramil.

Sedangkan banjir di Desa Tanjung Medan disebabkan dari luapan Sungai Air Pisang. Di desa ini banjir merendam tujuh rumah dengan ketinggian air mencapai sekitar 60 cm. “Sekitar pukul 17.20 WIB hujan turun dengan curah yang cukup tinggi. Sehingga sekitar pukul 18.30 WIB mengakibatkan anak sungai Air Pisang meluap, dan merendam 7 unit rumah yang terletak di sekitar aliran anak sungai,” jelas Danramil.

Untuk banjir di Desa Pulau Payung hanya rendam  beberapa rumah disebabkan gorong-gorong yang ada tidak mampu dialiari air yang debitnya besar. Sedangkan di Desa Pulau Makmur merendam lima rumah yang disebabkan meluapnya Sungai Batang Muar.

“Kondisi air meluap sekitar pukul 21.30 WIB. Tetapi sekitar sejam kemudian mulai surut. Warga tidak sampai mengungsi, karena ketinggian air setinggi mata kaki orang dewasa,” jelas Kades Pulau Makmur, Ramli.(hue)

Baca Juga ...

Butuh Bangun Bronjong

IPUH – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementarian Agama (Kemenag) Provinsi Bengkulu mengharapkan campur tangan Pemkab Mukomuko ...

Komentar
harianrakyatbengkulu.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

  1. Perlunya Draenase yang sesuai dengan ketentuan Tata Ruang yang benar. Serta jalan pun tak terawat hanya menunggua turun bantuan dari pemerintah saja, tidak ada keperdulian masyarakat sekitar, untuk merapihkankanya/hanya membiarkan saja. Bahkan jalan raya sudah jadipun rusak kembali, jalan-jalan tertutup oleh, ranting-ranting pohon tidak ada yang perduli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *