Sabtu , 23 September 2017
Home / BERITA UTAMA / KPK Sita CCTV Pengadilan Tipikor

KPK Sita CCTV Pengadilan Tipikor

SATU DUS DOKUMEN: Tampak tim KPK membawa dokumen setelah menggeledah PN Bengkulu.

BENGKULU – Pascamenetapkan tiga tersangka, yaitu Hakim Tipikor Bengkulu Suryana, Panitera Pengganti Hendra Kurniawan, serta satu penyuap Syuhadatul Islami, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mendatangi Pengadilan Negeri Tipikor di Sungai Rupat, Senin (11/9). Tim berjumlah 8 orang datang menggeledah pengadilan berlangsung 7 jam, mulai pukul 09.00 WIB sampai  pukul 16,00 WIB.

Pengamatan RB, penggeledahan ini berlangsung tertutup. Tangga lantai dua dijaga petugas berambut cepak tanpa bersenjata lengkap. Hanya internal pengadilan yang bebas masuk, sementara tamu atau media dilarang. KPK tiba pukul 09.00 WIB, langsung bertemu dengan Pjs Ketua PN Bengkulu, Admiral, SH, MH. Dengan menunjukkan surat resmi pimpinan KPK, petugas langsung geledah  ruang Hendra.

Ada 4 ruangan yang dimasuki tim KPK, ruangan Suryana, ruang Hendra Kurniawan, ruang hakim Henny Anggraini dan keempat ruang Closed Circuit Television  (CCTV) pengadilan. Selain menyita beberapa dokumen penting, CCTV menjadi petunjuk KPK melakukan pengembangan. Sebagaimana dalam CCTV tersebut, diambil rekaman tanggal 6 September 2017, rekaman pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, keluarga Wilson datangi PN. Rekaman CCTV ini memperkuat terjadinya pemberian suap di lembaga peradilan tersebut. Diduga uang suap diberikan via panitera kepada Hakim Suryana.

Dibenarkan Admiral, jika dalam CCTV dari beberapa sudut ruangan. Ada beberapa orang datang menemui Hendra, yang diduga tersangka Syuhadatul Islami dan oknum kepala sekolah, Si. Sementara pukul 09.30 WIB, Hendra Kurniawan masuk ke ruangan Suryana dan melakukan pertemuan. Di atas pukul 11.30 WIB, Hakim Zeni Zenal Muttaqien keluar dari ruangan dan menentengi tas milik hakim Suryana. Seperti rilis KPK beberapa waktu lalu, saat mendatangi kediaman Suryana, tas tersebut berisi uang Rp 40 juta yang diduga suap.

“KPK menyita rekaman yang diduplikatkan 2. Rekaman tertanggal 6 September 2017, dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB. KPK tidak bilang kepada kami isi di rekaman itu. Tapi bisa dilihat dari file aslinya, ada yang datang menemui Hendra. Selanjutnya Hendra kumpul dengan Suryana, terus Zeni Zenal membawa tas Suryana,” papar Admiral, didampingi humas PN, Immanuel, SH, MH.

Selain CCTV kata Immanuel, dua billing dokumen dan 2 meja masing-masingnya milik Suryana dan Hendra, sebelumnya biling kedua tersangka disegel Kamis lalu. Namun ruangan hakim Henny, hanya dicari dokumen. Setelah 7 jam menggeledah, tim KPK berhasil mengangkut 1 dus dokumen langsung dibawa ke Polda Bengkulu.

Admiral mengatakan, penggeledahan didampingi humas Pengadilan. KPK membawa dokumen penting, dokumen yang berkaitan dengan perkara Wilson, serta beberapa dokumen di ruang Hendra dan Suryana. “Penggeledahan sudah selesai. Sebanyak 1 dus dokumen yang dibawa petugas KPK.  Diambil di brangkas milik Hendra dan ibu Hakim Suryana. Dokumen yang berkaitan dengan Wilson tentunya,” jelas Admiral.

Tim KPK berkumpul di ruang mediasi hakim Adhock, lanjut Admiral. Usai geledah, tim KPK membuat surat panggilan pemeriksaan terhadap 2 hakim, pertama hakim Zeni Zenal Muttaqien, SH, MH dan hakim Adhock, Henny Anggraini. “Berita acara sudah kami teken. Sebelum KPK keluar dari pengadilan. Ada 2 surat panggilan pemeriksaan saksi, ya Ibu Hakim Henny dan hakim Zeni Zenal,” terang Admiral.

Terlepas dari masalah penggeledahan dan OTT. Admiral juga menyatakan, jika kasus OTT kedua ini memberikan tamparan yang keras bagi Pengadilan Negeri. Dia berharap cukup terakhir OTT terjadi pengadilan Bengkulu, dengan harapan ke depan Pengadilan Bengkulu dapat mempertahankan akreditasi. “OTT membuat repot banyak orang. Memang tidak menganggu aktivitas, tapi dibuat malu,” paparnya.

Humas Pengadilan Negeri Bengkulu, Immanuel, SH, MH, menambahkan, dibalik OTT KPK, ada beberapa kejadian yang sempat menganggangu konsentrasi sidang di pengadilan Negeri.

Namun sejak setijab jabatan Wakil Ketua, segala tanggungjawab Ketua Pengadilan Nonaktif, Kaswanto,SH, MH, diambilalih wakil Ketua yang jabat sebagai ketua sementara. “Termasuk sidang. Majelis yang ada pak Kaswanto akan digantikan oleh pak Admiral. Suryana digantikan pak Joner Manik,” imbuh Immanuel.

Henny:

Saya Tidak Terlibat

Sementara Wartawan RB berhasil wawancara Hakim Adhock, Henny Anggraini, SH, MH, yang namanya sempat dikaitkan dengan kasus OTT. Dengan tenang, kemarin Henny menyatakan masa bodoh dengan tanggapan orang lain. Karena di kasus OTT, dia sama sekali tidak terlibat dan tidak tahu ada suap di balik putusan Wilson. “Ya, saya tidak tahu, apalagi terlibat. Sudah sampaikan ke penyidik KPK,” ucap Henny.

Namanya sempat dibahas di media, menurut Henny silahkan saja. Tapi dia tetap meminta, agar tidak fitnah dan asumsi yang menyudutkan namanya. “Ingat ya, asumsi tidak bisa dijadikan bahan menjerat seseorang. Yang harus jelas itu fakta dan bukti. Saya tidak takut atau khawatir, apalagi was-was. Toh, saya tidak ikut terlibat. Bodoh amat. Soal asumsi orang silahkan. Jangan menuduh,” tegas Henny.

Henny mengakui putusan Wilson dia yang membuat dan menulis, karena memang tugas. Namun soal ada transaksi di balik putusan itu, Henny kembali menegaskan dia benar-benar tidak tahu. “Saya berani memberikan HP ke penyidik KPK. Silahkan lacak dan silahkan cek. Soal putusan, ya itu sudah sesuai hasil musyawarah. 1 tahun 3 bulan sudah berat jika tuntutan JPU, 1 tahun 6 bulan,” jelas Henny.

Terkait pemanggilan ke Polda Bengkulu dari tim KPK. Henny membenarkan sudah mendapatkan surat. Termasuk temannya Hakim, Zeni Zenal Muttaqien, juga dapat.  Tapi kata Henny, pemanggilan itu sendiri karena dia satu majelis dengan Suryana menangani kasus Wilson. “Saya akan jawab seadanya saja. Saya siap menjelaskan, dan saya tetap berusaha tenang dan nyaman hingga ditanya KPK nanti,” ucapnya.

Terpisah Zeni Senal Muttaqien juga menyatakan dirinya juga mendapat panggilan. Bisa jadi katanya pemanggilan itu berkaitan dengan tas yang diantarnya ke rumah Suryana dan dititipkan dengan mertua Suryana. “Saya siap memberi keterangan. Yang saya tahu hanya soal titipan tas itu. Saya tidak tahu isinya ada uang suap. Sebelumnya keterangan ini sudah disampaikan ke tim KPK Kamis,” tutupnya.(rif)

Kejadian Terekam dalam CCTV Pengadilan Tipikor Bengkulu pada 6 September 2017 pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

 

  1. Sekitar pukul 08.00 WIB diduga Keluarga Wilson, Syuhadatul Islamy mendatangi Pengadilan Tipikor Bengkulu bersama oknum kepala sekolah, Si.
  2. Keduanya menuju lantai 2 menemui Panitera Pengganti Hendra Kurniawan.
  3. Pukul 09.30 WIB Hendra Kurniawan masuk ke ruangan Hakim Suryana dan melakukan pertemuan.
  4. Di atas pukul 11.30 WIB, Hakim Zeni Zenal Muttaqien keluar dari ruangan hakim dan menentengi tas milik Hakim Suryana yang diduga berisi uang.

 

NB: Berdasar rillis KPK uang Suryana berisi uang Rp 40 juta yang diduga suap atas putusan perkara korupsi anggaran rutin DPPKA Kota tahun 2013 dengan terpidana Plt Kepala DPPKA Kota Wilson.

 

Baca Juga ...

Perkara Suap Menguat

BENGKULU– Perkara dugaan suap terhadap Gubernur Bengkulu (nonaktif), Dr. H Ridwan Mukti, MH menguat. Penegasan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *