Sabtu , 23 September 2017
Home / BERITA UTAMA / Program Seribu Rumah PNS Salah Sasaran

Program Seribu Rumah PNS Salah Sasaran

SIDAK: Komisi II DPRD Kota Bengkulu saat sidak ke lokasi pembangunan seribu rumah untuk PNS kemarin (12/9).

BENGKULU – Komisi II DPRD Kota Bengkulu kemarin (12/9) siang, melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait banyaknya laporan dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) tentang program seribu rumah untuk PNS yang dinilai belum berjalan dengan baik.

Sidak yang dipimpin Ketua Komisi II DPRD, Baidari Citra Dewi, diikuti anggota Iswandi Ruslan, Heri Ifzan, M. Awaludin, Mardensi dan Zulaidi tersebut, langsung menuju ke lokasi pembangunan seribu rumah di Kelurahan Bentiring tak jauh dari perumahan Korpri. Hasil sidak itu, dewan menerima laporan program seribu rumah bagi PNS lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) gagal.

Pasalnya program rumah yang seharusnya diperuntukkan untuk PNS, namun dipertengahan perjalanan malah bisa diambil oleh masyarakat kalangan manapun. Bahkan terungkap juga saat sidak, pengerjaan pembangunan rumah dilakukan oleh pengembang baru dilakukan sekitar lima unit. Padahal, program tersebut sudah dicanangkan Walikota H. Helmi Hasan, SE sejak 2015 lalu.

“Program seribu rumah PNS ini sudah di launching walikota sejak tahun 2015 lalu, yang mana progress awalnya dewan itu ikut terlibat. Program itu hanya untuk PNS dengan kategori penghasilan rendah. Tapi kok sekarang malah pihak pengembang membebaskan program ini diperuntukkan untuk masyarakat umum,” kritik Heri Ifzan.

Menurut Heri, sejak awal dicanangkannya program seribu rumah bagi PNS tersebut, ia sudah mengkritik program tersebut rawan manipulasi data penerima. Sebab bisa saja namanya PNS yang punya, tapi malah kalangan pejabat atau kalangan PNS mempunyai rumah lebih dari satu.

“Makanya hari ini (kemarin, red) kita cek ke lokasi langsung. Eh ternyata kita menemukan fakta di lapangan bahwa program ini malah diperuntukkan bagi masyarakat umum. Jadi wajar jika PNS melapor ke kita, pas kita cek benar apa yang kita curigakan sebelumnya. Jadi kita minta jangan ada lagi embel-embel program seribu rumah PNS itu,” tuturnya.

Senada disampaikan Baidari Citra Dewi. Ia mengatakan banyak laporan yang diterima dari kalangan PNS yang berpengasilan rendah justru susah untuk mendapatkan rumah subsidi tersebut. “Jika memang tidak lagi namanya program seribu rumah PNS, ya jangan ada lagi kaitan namanya yang seperti itu. Sebab ini akan membuat bingung berbagai kalangan,” celetuk Baidari.

Anggota Komisi II lainnya, Mardensi sangat menyayangkan jika program seribu rumah bagi PNS dipertengahan jalan berbeda pelaksanaannya. “Kalau pihak masyarakat umum boleh mengambil rumah disini, artinya bukan lagi seribu rumah PNS dong. Tapi ini sudah menjadi rumah subsidi masyarakat. Dan pemerintah kota harus menyampaikan ini secara terang menderang,” ketus Mardensi.

Sementara Iswandi Ruslan menimpali, persoalan ini harus segera diluruskan. Pihaknya akan menjadwalkan pemanggilan pihak terkait untuk memperjelas soal program seribu rumah PNS tersebut. “Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Karena ini menyangkut dewan sebagai pengawas fungsi kontrol pemerintah,” jelas Iswandi.

Terkait temuan sidak dewan itu, Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota, I Made Ardana, ST, MT berkilah. Menurutnya, program rumah ini merupakan program tidak hanya kalangan PNS saja, melainkan program rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Dimana saat ini pengelolaannya dikelola langsung oleh pihak pengembang PT Tiga Putra Mandiri Bengkulu.

“Yang jelas jika PNS yang masih berkeinginan silakan mendaftar ke pihak pengembang dengan catatan PNS golongan 4. Dan ini program MBR (masyarakat berpenghasilan rendah), termasuk juga tukang bakso atau pedagang lainnya bisa mengambil. Karena ini program MBR,” ungkap Made yang juga mantan Kabid Cipta Karya Dinas PUPR kota ini.(new)

Baca Juga ...

Perkara Suap Menguat

BENGKULU– Perkara dugaan suap terhadap Gubernur Bengkulu (nonaktif), Dr. H Ridwan Mukti, MH menguat. Penegasan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *