Senin , 20 November 2017
Home / BERITA UTAMA / Terbukti Tampar Dokter – Ketua Dewan Lebong Divonis Percobaan

Terbukti Tampar Dokter – Ketua Dewan Lebong Divonis Percobaan

DISIDANG: Ketua DPRD Kabupaten Lebong, Teguh saat duduk di kursi pesakitan PN Lebong, kemarin (17/10).

PELABAI – Terjawab sudah nasib Ketua DPRD Kabupaten Lebong, Teguh Raharjo Eko Purwoto, SE. Kasus penganiayaan ringan yang menimpanya harus berujung ke Pengadilan Negeri (PN) Lebong. Bahkan politisi Nasdem itu dinyatakan terbukti menampar dr. Ide, dokter internship RSUD Lebong. Atas perbuatannya, Teguh divonis pidana penjara 1 bulan dengan masa percobaan 3 bulan.

‘’Terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan ringan yakni melanggar pasal 352 ayat (1) KUHP,’’ kata Hakim Tunggal Pengadilan Negeri Lebong, Zetphania, SH, MH usai membacakan amar putusan, kemarin (17/10).

Namun dijelaskannya, hukuman itu tidak harus dijalani. Tetapi jika dalam waktu tiga bulan ke depan terdakwa mengulangi perbuatannya atau pidana lain, pelaksanaan hukuman akan ditinjau kembali. Atas putusan itu, terdakwa didampingi penasihat hukumnya, Humisar Tambunan, SH menyatakan terima dan tidak akan melakukan perlawanan hukum atau banding.

Dalam persidangan, penyidik Satreskrim Polres Lebong selaku kuasa penuntut umum menghadirkan 5 saksi. Antara lain, dr. Ide selaku korban dan 2 saksi yang ada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) saat kejadian, yakni dr. Yenni Absah dan bidan Fenny Herlina, A.Md.Keb. Juga dr. Anggi Christian selaku dokter yang mengeluarkan visum dan Syamsul Hadi, sopir terdakwa.

Di hadapan hakim, korban menerangkan, sebelum kejadian dirinya bersama 2 orang dokter lainnya tengah menangani pasien anak yang kemasukan lintah pada hidungnya. Saat itulah terdakwa datang ke ruangan IGD RSUD Lebong sembari menanyakan apakah ada dokter yang menangani pasien anak itu. Pertanyaan itu dijawab dr. Sigit, salah satu dokter di RSUD Lebong ‘’Saya dokter, ini dokter dan ini dokter,’’ ujar korban menggambarkan kronologis kejadian.

Mendengar jawaban itu, dengan nada meninggi terdakwa bertanya kepadanya apakah dirinya tersinggung. Dijawabnya, dirinya tidak tersinggung. Lantaran tidak kenal dengan terdakwa, ia sempat bertanya kepada dr. Sigit siapa terdakwa. Dari dr. Sigit itulah ia tahu terdakwa adalah pimpinan legislatif di Kabupaten Lebong.

Setelah kejadian di ruangan IGD itu, terdakwa pergi melalui pintu belakang dan tak lama setelah itu mengajaknya ikut. ‘’Di selasar rumah sakit ada dua kursi yang saling berhadapan. Saat saya duduk, dia (terdakwa, red) memukul paha kiri saya dan mengatakan kamu tahu siapa saya. Saya tawab tidak tahu,’’ ungkap korban.

Saat itulah terdakwa menampar pipi kiri korban dengan tangan kanannya sembari mengatakan bahwa dirinya adalah Ketua DPRD Lebong. Saat bersamaan, muncul dr. Yenni yang langsung protes ke terdakwa. Namun terdakwa berdalih ia tidak menampar dan menyebut korban mudah tersinggung. Lalu korban dan dr. Yenni meninggalkan terdakwa dan selanjutnya melapor ke Polsek Lebong Tengah.

Sementara di hadapan hakim, terdakwa mengaku sangat menyesali perbuatannya. Namun, dirinya tetap bersikukuh bahwa dirinya tidak menampar korban. Ia hanya menowel pipi korban. Sebagai bentuk penyesalannya, ia sudah melakukan upaya damai secara kekeluargaan. Bahkan ia mendatangi pihak keluarga korban, baik yang ada di Lebong maupun yang ada di Bengkulu, termasuk penasihat hukum korban.

‘’Jadi jauh sebelum perkara ini bergulir ke ranah hukum, saya sudah berupaya melakukan penyelesaian kekeluargaan,’’ ujar terdakwa. Atas penjelasan masing-masing pihak, hakim sempat menyarankan agar terdakwa dan korban berdamai. Namun ditegaskannya, perdamaian di hadapan hakim itu tidak akan berpengaruh terhadap proses hukum yang tengah berjalan.

Perdamaian itu hanya sebagai bentuk antisipasi tidak terjadi sengketa berkepanjangan antara korban dan terdakwa setelah putusan pengadilan dibacakan. Perdamaian itu juga sebagai bentuk bahwa kedua belah pihak sama-sama mematuhi dan menghargai putusan pengadilan. ‘’Jadi alangkah baiknya jika berdamai,’’ kata hakim. Setelah itu sidang sempat diskor 1 jam dan akhirnya hakim membacakan putusan.

Teguh : Cukup Saya Jadi Korban

Ditemui usai sidang, Ketua DPRD Kabupaten Lebong, Teguh Raharjo Eko Purwoto, SE mengaku dirinya terima putusan hakim. Ia sangat menghargai apa yang menjadi keputusan hakim. Baginya itu sebuah proses dan konsekuensi hukum yang harus diterima dan dijalaninya.

Dipastikannya ia tidak akan melakukan upaya banding. Ia juga mengaku menyesal atas perbuatannya. Hanya saja ia merasa kasusnya itu dipolitisir. Kalaupun itu benar, ia berharap cukup dirinya yang menjadi korban. Jangan sampai kasus serupa menimpa orang lain.

‘’Jika memang ada kepentingan politik di dalamnya, cukup saya yang mengalami dan menjadi korbannya. Tidak perlu ada korban-korban lainnya,’’ kata Teguh. Ia juga mengaku tidak akan mempersoalkan permasalahan kasusnya yang diduganya telah dipolitisir oknum yang sengaja mencari keuntungan. Harapannya, cukuplah kasus yang menimpanya itu berakhir di persidangan.

Sementara Hendri Awansyah, SH penasihat hukum dr. Ide mengaku sangat menghargai putusan hakim. Baginya putusan hakim telah memenuhi rasa keadilan bagi kliennya. Termasuk memberi pelajaran kepada masyarakat bahwa perlakuan hukum itu sama. ‘’Siapapun dia, ketika melanggar hukum harus ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku,’’ tukas Hendri.

Terkait perdamaian yang disarankan hakim, lanjut Hendri, kliennya setuju dan membuka pintu selebarnya. Bahkan ia sendiri sangat berharap keduanya saling berdamai. Intinya, substansi permasalahan sudah selesai karena sudah dibuktikan dalam persidangan dan sudah divonis oleh hakim. ‘’Namun perlu dipahami, apa yang kami tempuh murni semata ingin mendapatkan keadilan. Tidak ada intervensi dari pihak manapun,’’ tutup Hendri. (sca)

Baca Juga ...

Bertaruh Nyawa, Digulung Ombak Sudah Biasa

Kita sering melihat batu kecil indah dijajakan di pinggir jalan, khususnya di daerah pesisir pantai. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *