Selasa , 12 Desember 2017
Home / BERITA UTAMA / SERENING MACAM KEHIDUPAN RAKYAT PESISIR

SERENING MACAM KEHIDUPAN RAKYAT PESISIR

Oleh: Rolly Gunawan
Oleh: Rolly Gunawan

KOTA Bengkulu, hampir sepertiga dihuni masyarakat pesisir yang nota bene adalah penduduk asli kota Bengkulu mulai dari pesisir Pulau Baai sampai ke Pasar Bengkulu,dari masa kemasa sampai zaman kekinian masih merupakan masyarakat yang sumber-sumber penghasilan dan peningkatan taraf hidupnya berasal dari hasil Laut.

Berangkat dari gambaran itu tidak aneh jika terjadi kelambanan dalam memacu dan memicu kualitas masyarakat yang ideal baik itu dari segi pendidikan, ekonomi, wawasan, peluang dan Informasi.

Akan tetapi itu bukan berarti masyarakat ini tidak peduli akan kelayakan taraf hidup yang lebih baik, malah sebaliknya generasi kekinian banyak memiliki potensi-potensi, pencerahan dan semangat untuk membangun serta menerobos kelambanan-kelambanan tersebut dari semua aspek. Upaya-upaya terobosan tersebut semakin hari kiana nmpak peningkatannya.

Mulai dari home industry baik makanan, sandang dan tehnologi informasi yang semakin marak membongkar sekat-sekat kelambanan tersebut sehingga mereka dapat melihat seberapa jauh ketertinggalan itu harus mereka kejar sehingga setara dengan masyarakat maju pada umumnya.

Upaya-upaya tersebut harus terus mendapatkan support dan sugesti dari berbagai pihak. Terutama pemerintah. Sehingga tidak hanya mengandalkan lautan sebagai wadah untuk berinteraksi peningkatan ekonomi. Tetapi juga harus ada peluang-peluang progress yang kuat dan menjanjikan sebagai inkubator yang pas untuk masyarakat pesisir lokal. Kalaupun harus masih menggunakan petensi hasil laut, maka konsep dan kemasan kedepan hendaknya lebih bernilai spektakukler dan memiliki nilai jual yang mampu meningkatkan taraf hidup dan siklus ideal dari masyarakat lokal tersebut.

Kembali kita menelaah fenomena sebuah keluarga penduduk pesisir yang kebutuhan keluarga dan anak-anaknya digantungkan hanya dengan Kearifan hasil Laut, maka sudah bias dipastikan peluang-peluang, peningkatan gizi, pendidikan dan kebutuhan sehari-hari akan tersendat-sendat bahkan mengkhawatirkan.

Pola semacam ini tidak lebih hanya pemenuhan kebutuhan sebatas Perut belum bias beranjak kepada peningkatan kualitas masyarakat ideal dan berkualitas, karena bergantung kepada siklus penghasilan yang semata-mata rejeki yang didapat hanya berharap-harap untuk pergi kelaut (mencari nafkah) dari pagi hingga sore dengan mengandalkan perangkat, kendaraan dan alat yang sangat sederhana.

Itu juga bergantung kepada kondisi cuaca (angin badai, hujan) memberikan lampu hijau kepada para nelayan yang dalam 1 (satu) bulannya ada 2 (dua) minggu dihambat dengan terpaksa tidak melaut untuk mencari nafkah. Belum lagi jika phisik yang tidak memungkinkan dan kondisi seperti ini semakin hari semakin melemah karena faktor usia yang rentan. Belum lagi akan disibukan dengan setiap bulannya harus memenuhi tagihan-tagihan dan kewajiban kerumah tanggaan serta biaya-biaya pendidikan yang konon katanya semua gratis.

Biaya pelayanan kesehatan serta sandang pangan. Anak-anak dalam keluarga yang pola hidupnya seperti ini hanya mampu melihat masa depannya dari pinggiran pantai kepada kejauhan lautan nan luas diujungnya ada cahaya mentari sore (sunset) berkilauan ibarat mimipi-mimpi yang sayup-sayup akan kesampaian.

Keluarga masyarakat pesisir ini sudah menjalani peradaban tersebut sudah beratus-ratus tahun dengan begitu sabar berharap kapankan taraf hidup yang tercerahkan akan sampai ke anak cucu mereka. Sebagian lagi berjalan kehidupan normal secara standar dan yang selainnya menjalani hari-harinya dengan sesak dan penat, sehingga nantinya akan lahir generasi-generasi yang keras dan kurang kepedulian serta kepekaan sosial karena tidak dilandasi dengan pendidikan yang cukup serta akan diperparah jika terjadi perhatian yang sangat minim dari orang tua.

Pertanyaannya, apakah fenomena ini akan dibiarkan saja sehingga hanya bergantung kepada sunnatullah atau kebiasaan peradaban, pada hal resiko yang akan sangat mengkhawatirkan generasi seperti ini akan tergilas kepada dampak kemajuan zaman yang negative serta terjerumus kepada prilaku asing dan tabu kental akan kepentingan- kepentingan yang menjerumuskan?

Belum lagi akan diperparah mengenai masalah tempat tinggal masyarakat pesisir dan tidak jelas tanah kepemilikan tempat tinggal dan legalitasnya yang semestinya menjadi baiti jannati bagi kehidupan kecil mereka sehingga mereka dapat menjaga ketentraman dan kenyaman berumah tangga dimana akan lahir beranak pinak di tanah kelahirannya yang sangat mereka cintai.

Kita berharap secara Bijak agar hal ini dapat menjadi sebuah keseriusan serta perhatian terhadap serening macam Kehidupan Masyarakat Pesisir Kota Bengkulu yang membutuhkan Konsep dan Upaya agar tidak terus larut dari siklus seperti gambaran diatas. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mereka seperti membuka pabrik-pabrik berskala lokal.

Home industry dapat menyerap tenaga kerja masyarakat dengan berbagai produk jajanan oleh-oleh para tamu yang berasal dari hasil laut. Termasuk pernak pernik menu yang beraneka ragam makanan lokal yang memiliki ciri khas dan rasa yang unik. Buat pabrik-pabrik batik tulis/tenun khas Bengkulu ‘’kain besurek’’ berskala besar dengan berbagai motif/design, serta kualitas bahan yang menggiurkan oleh para tamu dan konsumen. Sehingga dapat menyerap tenaga kerja masyarakat lokal yang terampil, kemudian memunculkan kembali inovasi makanan kue ‘’juada’’ khas Bengkulu yang semakin hari hilang diperedaran.

Kita yakin juada bisa menjadi menu favorit para tamu dari luar dengan rasa dan selera yang beragam dan moderen tetapi dengan tidak meninggalkan ciri khas makanan asli masyarakat Bengkulu. Nantinya diharapkan juga dapat membantu untuk membuka peluang-peluang restaurant/kafe ramah lingkungan namun beradabsebagai lokasi kuliner serta menyediakan perumahan sederhana dengan dukungan atau solusi lahan/lokasi rumah yang telah mereka huni secara legal dan sah dengan secara aturan yang adil dan bijak. Serta membantu perangkat, alat dan kendaraan laut yang memadai untuk nafkah mereka atau kelompok masyarakat secara aman bagi keselamatan dan merata secara teknis pengelolaannya.

Kemudian jadikan pulau-pulau terdekat sebagai objek wisata yang dibanggakan oleh masyarakat lokal dengan fasilitas boat yang memadai dan standar untuk para tamu wisata. Pulau  harus terjaga dari erosi dan tangan-tangan yang merusak lingkungan agar tidak hilang dan memudar eksistensinya yang dapat menjadi icon sekaligus dapat merangsang sugesti para tamu untuk meramaikan kota Bengkulu yang kita cintai ini. Harapan kita semua terobosan-terobosan dan gebrakan seperti ini harus sudah ada pada tangan-tangan pemangku kebijakan kedepan agar lebih baik dan secara cerdas.

Mari bersama sama saling berangkulan dari semua pihak sehingga sinergi seperti ini dapat membuahkan terobosan-terobosan yang spektakuler untuk masyarakat pesisir kita yang ramah, cerdas, beradab dan inovatif.(**)

Penulis adalah Pemerhati Kota Bengkulu

Baca Juga ...

Mendagri Restui Mutasi

BENGKULU – Rencana  Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Dr. drh. H Rohidin Mersyah, MMA melakukan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *