Selasa , 14 Agustus 2018

MENGAIS REZEKI: Warga bersama anaknya mengumpulkan batu bara di Sungai Bengkulu Desa Tanjung Raman Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Benteng.

BENTENG– Masyarakat biasa yang mencari batu bara di aliran Sungai Bengkulu Desa Tanjung Raman Kabupaten Bengkulu yang dulunya sampai ratusan orang mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, saat ini sudah banyak yang meninggalkannya. Masih ada yang terpaksa mengelutinya karena tidak ada alternatif untuk menjadi sumber pemasukan untuk keluarga.

Seperti yang dilakoni oleh Rumiyati (38) IRT asal Desa Sukarami Kecamatan Taba Penajung. Meski tidak lagi besar menghasilkan rupiah, hal ini tetap ditekuni dan menjadikan batu yang selalu dicarinya di aliran  Sungai Bengkulu di Desa Tanjung Raman Kecamatan Taba Penanjung sebagai mata pencahariannya. Harga yang perkarung hanya dihargai Rp 4-7 ribu, hanya bisa dipendam dalam hati saja karena menyuarakan sudah berulang kali dan seperti tak terdengar oleh pihak terkait.

“Mau kerja apalagi, sawah dan kebun kami juga tidak ada lagi,” ujarnya.

Dijelaskan Rumiyati, dirinya setiap hari mampu mendapatkan tak kurang dari 5 karung baru bara. Jika dulu harga perkarung bahkan sampai Rp 30 ribu, setiap hari dirinya sanggup mendapatkan uang sekitar Rp 150 ribu. Namun kini harga maksimal hanya Rp 7 ribu saja, jika dihitung hanya mampu mendapatkan uang Rp 35 ribu perhari. Berendam dari pukul 08.00-17.00 WIB. Atau 9 jam berendam di sungai.

Hal itu, belum termasuk pengeluaran lain. Misalnya saja, jika harus mengojek harus mengeluarkan uang kembali sebesar Rp 10 ribu. Belum juga termasuk pengeluaran lain untuk laluk pauk.

Rumiyati menyadari untuk penghasilan tersebut belum bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan belum termasuk jerih payah ketika harus mengajak anak-anak untuk ikut mencari batu bara di sungai.

Saat ini, Rumiyati bingung harus mencari pekerjaan lain. Karena, teman-temannya juga sudah banyak yang memutuskan berhenti pascabatu bara yang tidak bisa dijual lagi melalui perorangan.

Memang, untuk beberapa batu bara yang banyak terdapat menumpuk di tepian jalan lintas Benteng-Kepahiang di sekitaran Desa Sukarami, saat ini kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi ditampung. Sementara para pengumpul yang kebanyakan toke biasa juga tidak bisa menjual karena terkendala izin. Izin pertambangan menjadi kendala untuk penjualan batu bara. Jika dipaksakan, maka akan berhadapan dengan proses hukum.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Sutadi. Pria yang sudah dua tahun mencari batu bara sungai, memutuskan tetap menjalani rutinitas berendam mulai dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 setiap harinya. Jika hari sedang baik maka bisa mendapatkan tak kurang dari 10 karung batu bara sungai. Namun, hal tersebut tak selamanya bisa baik, jika musim hujan, bisa libur sampai berhari-hari. Karena air sungai pasca hujan tidak bisa dilakukan pencarian batu bara. Hal itu akan membahayakan jiwa pencari batu bara.

“Kalau dulu, saat harga masih diatas Rp 20 ribu, ratusan orang berendam di aliran sungai untuk mencari batu bara,” terangnya.

Saat ini, hanya ada beberapa orang saja. Itupun setiap hari tak lebih dari 15 orang lagi yang rutin mencari batu bara karena tidak ada alternatif pekerjaan lain.

Memang, untuk hasil yang didapatkan sampai saat ini lancar pembayarannya oleh toke batu bara karungan. Namun, jika melihat sampai saat ini tidak bisa menjual karena terkendala izin pertambangan, bukan hal mustahil Sutadi juga akan berhenti seperti rekan-rekannya yang sudah memutuskan berhenti mencari batu bara disungai.

Sutadi berharap pemerintah bisa membantu untuk memperlancar penjualan batu bara karungan ini. Karena, saat masih memiliki nilai jual yang masuk diakal, ratusan orang yang berarti bisa menjadi ribuan orang yang bisa hidup dari batu bara karungan yang dicari di dasar sungai. Hal ini juga tidak merusak atau mengambil yang ada di tambang batu bara. Masyarakat hanya memanfaatkan limbah batu bara yang diperkirakan terbawa arus saat adanya arus yang deras yang berasal dari hujan di hulu sungai.

Suara yang sudah berulang kali disampaikan dengan menggelar pertemuan dengan pemerintah mulai dari Kabupaten sampai Provinsi, sampai saat ini belum ada kejelasan. Pihak perusahaan tambang yang mau membantu malah seperti melecehkan. Untuk batu bara yang diperolah masyarakat tersebut bisa diterima melalui pihak tambang hanya dengan harga Rp 2500 saja untuk setiap karungnya. Hal ini jelas sekali ditolak oleh masyarakat. Masyarakat lebih memilih menjual kepada toke yang harganya lebih tinggi ditingkat toke biasa.

Harga yang rendah tersebut, juga menjadi keluhan para toke batu bara. Salah seorang toke batu bara warga, Suyanto asal Kota Bengkulu mengaku sampai saat ini untuk batu bara dari warga yang berhasil dikumpulkannya memang belum bisa terjual. Kendala izin penjualan yang harus dilengkapi dengan izin pertambangan tentu tidak dimiliki oleh toke biasa. Padahal, Suyanto mengaku sudah cukup banyak mengeluarkan uang untuk membeli batu bara karungan. Namun, sampai saat ini pemerintah belum bisa memutuskan untuk memberikan solusi.

“Kalau kami berhenti membeli maka warga yang mencari juga akan kehilangan pekerjaan,” katanya.

Suyanto berharap, pemerintah secepatnya bisa membantu. Karena, hal ini sudah berlangsung sejak tahun 2017 lalu. Kalau usaha batu bara sungai ini ditutup, maka ribuan orang akan kesulitan pekeraan. Sementara, warga yang tidak memiliki usaha lain jumlahnya yang sampai ribuan orang menggantungkan pendapatan dari usaha pencarian batu bara sungai ini.(**)

Baca Juga ...

Kawasan Ekowisata Desa Waerebo Kini Dapat Mengakses Internet

WAEREBO – Direktorat Peningkatan Sarana dan Prasarana bekerja sama dengan PT. Pasifik Satelit Nusantara melalui ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.