Home / BERITA UTAMA / Jelang Pencoblosan, Uang Palsu Beredar

Jelang Pencoblosan, Uang Palsu Beredar

PRESS RELESE :  enam orang tersangka pengedar dan pencetak uang palsu yang diamankan Unit Reskrim Polsek Gading Cempaka diback-up Satuan Reskrim Polres Bengkulu.

BENGKULU – Di tengah geliat pesta demokrasi jelang pencoblosan Pilawakot Bengkulu pada 27 Juni mendatang, marak beredar uang palsu di Kota Bengkulu. Bahkan enam orang tersangka pengedar dan pencetak uang palsu yang diamankan Unit Reskrim Polsek Gading Cempaka diback-up Satuan Reskrim Polres Bengkulu. Dari para tersangka, Rp 73 juta uang palsu pun diamankan.

Adapun keenam tersangka yang diamankan tersebut, yakni MM (28) warga Desa Segara Jaya Kecamatan Taruna Jaya Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat, MJ (24) warga Desa Pring Baru Kecamatan Talo Kecil Kabupaten Seluma, NA (16) seorang pelajar SMK kelas 1 warga Jalan Pantai Tais Kecamatan Seluma Selatan, WD (24) seorang mahasiswi warga Desa Padang Rambun Kecamatan Seluma, HA (20) warga Desa Taba Mulan Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang, dan EA (32) warga Kelurahan Bumi Ayu Kota Bengkulu.

Kapolres Bengkulu AKBP Prianggodo Heru Kunprasetyo, SH, S.IK didampingi Kapolsek Gading Cempaka Kompol Rudi Marwah mengungkapkan, keenam tersangka merupakan komplotan pengedar uang palsu di wilayah Kota Bengkulu. Bahkan sejak bulan Maret 2019, keenam tersangka ini sukses mencetak sebanyak Rp 178 juta uang palsu yang terdiri dari pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap keenamnya, mereka sudah 3 kali mencetak uang palsu tersebut. Pertama pada tanggal 28 Maret 208 dan terakhir pada 10 April 2018. Total uang palsu yang mereka cetak mencapai Rp 178 juta, dan yang berhasil kita amankan sebagai barang bukti hanya Rp 73 juta. Sementara sisanya sekitar Rp 105 juta sudah mereka edarkan di tengah masyarakat,” beber Heru dalam keterangan persnya di Mapolres Bengkulu kemarin (23/2).

Namun terkait apakah ada hubungannya perkara peredaran uang palsu ini dengan perhelatan Pilwakot mendatang, Heru menegaskan sejauh ini pihaknya belum menemukan adanya indikasi ke arah tersebut. Menurutnya berdasara pemeriksaan yang dilakukan, peredaran uang palsu tersebut dilakukan keenam tersangka ke warung-warung atau toko-toko yang tidak memiliki scanner uang palsu.

Diungkapkan Heru, penangkapan atas keenam tersangka setelah pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat ke Mapolsek Gading Cempaka. Pasca menerima laporan tersebut unit reskrim Polsek Gading Cempaka dibackup Satua Reskrim Polres Bengkulu langsung meninjau Tempat Kejadian Perkara (TKP) yakni di Kelurahan Lingkar Barat Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu, tepatnya di kontrakan milik MM.

“Yang pertama kita amankan adalah MM dan HA di Jalan Bhakti Husada Kelurahan Lingkar Barat, pada Sabtu (21/4) lalu sekitar pukul 02.30 WIB dini hari. Dari keduanya, kita menemukan sejumlah uang yang dibungkus dalam kantong plastik, dan disimpan dalam box motor yang dikendarai keduanya. Uang tersebut belum kita hitung saat itu, dan keduanya pun langsung kita bawa ke Mapolsek Gading Cempaka,” beber Heru.

Dari penangkapan kedua tersangka, aparat pun langsung melakukan pengembangan. Dan sekitar pukul 03.00 WIB aparat berhasil mengamankan MJ dan WD yang tengah berada di kost milik MM di Jalan Timur Indah Raya Kota Bengkulu. Dari keduanya aparat berhasil menyita kertas HVS, isolatip, pisau cutter, gunting dan penggaris.

Setelah mengamankan MJ dan WD, sekitar pukul 05.00 WIB aparat kemudian mengamankan NA di kostnya di Kelurahan Air Sebakul. Dari tangan NA aparat mengamankan uang yang diduga palsu sejumlah Rp 2,6 juta yang terdiri dari 25 lembar pecahan Rp 100 ribu dan 2 lembar pecahan Rp 50 ribu.

Selanjutnya setelah melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap tersangka MM, HA, MJ, WD, dan NA, pada pukul 17.00 WIB sore harinya aparat berhasil menangkap EA di kediamannya di Kelurahan Betungan. Dari tangan EA, aparat berhasil menyita uang yang diduga palsu sejumlah Rp 2,55 juta dalam pecahan Rp 100 ribu sebanyak 11 lembar dan Rp 50 ribu sebanyak 29 lembar. Dan kemudian barang bukti dan tersangka pun digelandang ke Mapolsek Gading Cempaka.

“Berdasarkan pengakuan keenam tersebut, mereka sudah 3 kali mencetak uang palsu. Pertama sebanyak Rp 22 juta, kedua Rp 16 juta, dan ketiga Rp 140 juta, atau dengan total Rp 178 juta. Dari jumlah itu kita berhasil mengamankan Rp 73 juta, dan sisanya ada yang dibawa oleh rekannya berinsial RD yang saat ini masih DPO dan kabur ke Pulau Jawa, dan sisa lainnya sudah dibelanjakan ke warung-warung dan toko-toko,” terang Heru.

Lebih lanjut Heru mengungkapkan, saat ini keenamnya masih menjalani pemeriksaan secara intensif di Mapolres Bengkulu. Keenamnya pun disangkakan dengan pasal 244 dan 245 KUHP, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

“Untuk itu kita juga mengimbau kepada masyarakat, agar berhati-hati dalam bertransaksi keuangan. Pastikan uang yang kita gunakan untuk bertransaksi adalah uang yang asli. Dan jikalau ada masyarakat menemukan uang yang diduga palsu, langsung melaporkan ke jajaran kita,” pungkasnya.

Paslon Bisa Dianulir

Sementara itu, ditemukannya uang palsu di Kota Bengkulu, membuat  Panitia Pengawas (Panwaslu) Kota Bengkulu mengambil langkah cepat memperketat pengawasan di lapangan. Mereka mengantisipasi peluang money politics.

Anggota Panwaslu Kota Ir. Sugiharto mengaku prihatin apabila sampai uang palsu yang ditemukan diduga untuk kepentingan pilwakot.  Pihaknya terus melakukan penelusuran dugaan money politics di lapangan. Meskipun sejauh ini belum ada temuan di lapangan dari panitia pengawas kecamatan (panwascam) ataupun panitia pengawas kelurahan (PPK).

“Sejak awal kita terus memperingatkan tim ataupun paslonnya sendiri untuk tidak melakukan politik uang. Bahkan kita juga sudah melakukan deklarasi bersama politik uang itu. Jadi jangan coba-coba untuk melakukan hal itu,” kata Sugiharto.

Menurut Sugiharto, jika ditemukan ada tim sukses ataupun paslon walikota dan wakil walikota yang terbukti  sengaja melakukan politik uang atau kecurangan lainnya, langsung bisa menganulir paslon atau dicoret dari pencalonan Pilwakot. “Jika ada barang bukti dan saksinya, kemudian hasil pemeriksaan dari Gakkumdu juga terbukti (melanggar). Kami akan langsung merekomendasikan calon bersangkutan (pencoretan),” ujarnya.

Dijelaskan Sugiharto, semua pihak harus mengawasi agar pemilihan walikota/wakil walikota Bengkulu 2018 berjalan tanpa praktik politik uang dan politisasi SARA. Untuk itu peran penting masyarakat sekitar sangat dibutuhkan dalam pengawasan akan bahaya politik uang.

“Ya semua pihak untuk tolak dan lawan politik uang sebagai sarana meraih simpati pemilih, menggunakan hak pilih secara cerdas berdasarkan program kerja. Karena politik uang dapat merusak citra demokrasi pilkada. Jadi jika ada yang menemukan politik uang cepat melapor agar bisa cepat ditindaklanjuti,” tegasnya.

Untuk pengusutan perkara, lanjut Sugiharto, waktu tiga hari ditambah waktu dua hari untuk memutus perkara pelanggaran sejak laporan diterima. Dalam proses pemeriksaan, Panwas akan memeriksa pelapor, terlapor, saksi dan KPU selaku penyelenggara Pilkada. “Justru itu kami ingatkan setiap paslon tidak coba-coba curang melakukan money politics ataupun black campaign. Pastikan tim di lapangan bekerja dengan benar,” pungkasnya.

Sementara itu Komisioner KPU Kota Bengkulu, M. Alim, S.sos mengatakan, terkait soal apabila ada pasangan calon (paslon) melakukan pelanggaran seperti money politics tersebut merupakan ranah Panwaslu yang menindaknya. “Jika terbukti melakukan pelanggaran maka nanti Panwaslu yang mengeluarkan rekomendasi soal pelanggaran itu yang disampaikan ke KPU. Kemudian apabila terbukti kuat bisa saja paslon itu dicoret,” ungkapnya.

Disisi lain, Sekretaris Komisi I DPRD Kota Hamsi, AMd meminta agar pihak penyelenggara gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya money politics jelang Pilwakot demi menjaga pelaksanaan Pilkada yang jujur dan bersih. “Harus ada kegiatan sosialisasi yang isinya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat secara rutin. Sehingga bahaya money politics nanti dapat dicegah sejak dini. Dan terciptalah Pilwakot yang jujur dan bersih,” terang Hamsi.

Ditambahkan Hamsi, Salah satu sasaran sosialisasi yang harus benar-benar diperhatikan khusus adalah kalangan pedagang dan nelayan sebagai mata pencaharian terbesar penduduk Bengkulu. Dari kalangan itulah, umumnya para calon yang tidak profesional mencari celah kecurangan.

“Makanya kita berharap mulai dari sekarang harus ada pemberian pendidikan politik kepada masyarakat dalam rangka mengikis budaya MP itu. Untuk itu sekarang kita menunggu peran KPU untuk giat melakukan sosialisasi di lapangan,” bebernya.(new)

6 Tersangka Pengedar Uang Palsu

  1. MM (28) warga Desa Segara Jaya Kecamatan Taruna Jaya Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat.
  2. MJ (24) warga Desa Pring Baru Kecamatan Talo Kecil Kabupaten Seluma
  3. NA (16), pelajar SMK kelas 1, warga Jalan Pantai Tais Kecamatan Seluma Selatan
  4. WD (24), mahasiswa, warga Desa Padang Rambun Kecamatan Seluma
  5. HA (20), warga Desa Taba Mulan Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang
  6. EA (32) warga Kelurahan Bumi Ayu Kota Bengkulu

Baca Juga ...

SMPN 1 Kota Bengkulu Mendominasi

BENGKULU – Hasil ujian nasional (Unas) tingkat SMP/MTs tahun ini membuat sumringah Kepala SMPN 1 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *