Home / BENGKULU SELATAN / Dewan Temukan Kolam Limbah PT BSL Tak Layak

Dewan Temukan Kolam Limbah PT BSL Tak Layak

SIDAK: Ketua DPRD BS Yevri Sudianto bersama rombongan DPRD, DLHK, manajemen PT BSL melihat langsung kolam pengelolaan limbah milik PT BSL, Senin (14/5).

KEDURANG ILIR – Menindaklanjuti keluhan masyarakat dugaan pencemaran sungai Air Mertam di Kecamatan Kedurang Ilir dari limbah Crude Palm Oil (CPO) PT BSL, DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) menggelar inspeksi mendadak (sidak), Senin siang (14/5). Sidak dipimpin langsung Ketua DPRD BS, Yevri Sudianto.

Diikuti anggota DPRD BS lainnya Isurman, SH, Parizal, serta rombongan DPRD lainnya Ketua DPRD BS melihat langsung pengelolaan limbah, terutama limbah cair CPO. Mulai dari kolam 1 hingga kolam terakhir, yaitu kolam 12. Kedatangan rombongan Ketua DPRD BS ini langsung disambut manajemen, dan Dinas lingkungan Hidup Kehutanan (DLHK) yang lebih dulu tiba di lokasi pabrik.

Dari pantauan langsung DPRD, diungkapkan Yevri politisi PDI Perjuangan ini ada temuan pada 2 kolam yang dinilai belum layak. Terindikasi mencemari sungai Air Mertam yang dikeluhkan masyarakat setempat berubah warna kehitaman dan berminyak.

“Kolam 3 itu kurang tinggi, kalau hari hujan bisa meluap. Juga pada kolam 5 kita temukan rembesan. Dari kolam inilah yang kita perkirakan rembesannya masuk ke sungai,” kata Yevri usai melihat langsung kolam limbah milik PT BSL, kemarin.

Dengan adanya temuan ini, sambungnya, Yevri minta manajemen PT BSL bisa membenahi dan memperbaikinya. Sehingga kedua kolam jadi lebih layak untuk menjadi tempat penampungan limbah cair CPO. Begitu juga dengan cerobong asap yang dianggap belum standar juga diharapkan bisa diperbaiki untuk mengurangi bau kurang sedap berasal dari cerobong asap PT BSL. Termasuk PT BSL harus lebih memperhatikan masyarakat di sekitar lokasi pabrik, melalui program CSR agar lebih ditingkatkan.

“Kita mendukung investor masuk ke BS, tapi minta investor menjaga lingkungan bersama-sama. Harusnya keberadaan investor ini ada azas manfaatnya, tapi hanya azas mudharatnya itu yang tidak kita harapkan,” bebernya.

Kepala Dinas LHK, Erwin Muchsin, S.Sos, juga mengakui adanya temuan 2 kolam limbah tersebut, serta cerobong asap belum memenuhi standar. Untuk itu pihaknya memberikan waktu kepada manajemen untuk memperbaiki temuan-temuan tersebut selama 6 bulan. Sedangkamn untuk Program CSR, setelah perda ini direalisasikan nantinya dari masuk ke daerah bisa dikembalikan berapa persen ke desa.

“Kolam 3 dan kolam 5 betul ada temuan, kita beri waktu 6 bulan bagi BSL membenahinya. Untuk sampel 2 bulan sekali kita bawa ke lab provinsi. Besok (hari ini, red) kita bersama masyarakat akan mengambil sampel untuk diuji,” terang Erwin ditemui di lokasi pabrik.

Sementara manajer PT BSL Ahmad Syaiful menyatakan siap memperbaiki kolam dan cerobong asap sesuai disarankan DPRD BS dan DLHK. Sementara untuk perubahan warna sungai Air Mertam, Syaiful membantah bahwa perubahan tersebut terjadi karena sungai sudah tercemari limbah buangan CPO dari PT BSL. Menurutnya sebelum limbah dari kolam terakhir dibuang ke sungai pihaknya sudah memastikan limbah sudah memenuhi baku mutu atau syarat untuk bisa dibuang ke sungai.

“Sungai Air Mertam itu bukan kita saja yang makainya. Kita sudah pastikan kalau limbah yang kita buang ke sungai masih memenuhi ambang batas. Sistem pengelolaan limbah kita sudah sesuai aturan yang ada,” pungkasnya.(key)

Baca Juga ...

Masih Ada Guru di BS Belum Menerima TPG

KOTA MANNA – Ratusan guru di Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) belum menerima Tunjangan Profesi Guru ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *