Minggu , 21 Oktober 2018
Home / BERITA UTAMA / Tak Ada Kontrak Prestasi Atlet

Tak Ada Kontrak Prestasi Atlet

Ketua KONI Provinsi Bengkulu Mufran Imron

BENGKULU – Maraknya atlet potensial Bengkulu yang memilih pindah membela provinsi lain disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya yang paling utama adalah tidak adanya kontrak prestasi yang diberikan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Bengkulu dan KONI Provinsi Bengkulu atas keringat yang dikeluarkan para atlet.

Hal ini diungkapkan oleh salah satu atlet berprestasi Bengkulu Nova Floua, yang saat ini dikabarkan tengah memilih DKI Jakarta sebagai pelabuhan karir olahraganya. Kendati membantah jika dirinya sudah pindah provinsi, namun atlet cabor biliar ini tidak membantah bahwa selama ini tidak ada apresiasi dan perhatian pemerintah atas prestasi atlet.

“Kalau dibandingkan dengan provinsi lain, miris sekali mas. Yang saya alami di Bengkulu, sejak 2009 tidak ada mendapatkan kontrak prestasi atau gaji selaku atlet berprestasi. Bisa dikatakan pemerintah sangat kurang perhatian terhadap para atlet berprestasi,” ujarnya kepada RB, kemarin (15/5).

Ia mengakui sejak 2009 sudah mengajukan untuk pindah provinsi, namun tidak diperbolehkan. Dan pada 2015 lalu pun kembali mencoba, namun tetap tidak diperbolehkan oleh KONI Bengkulu. Hingga saat ini dia masih setiap dengan Bengkulu walaupun tanpa apresiasi dari pemerintah.

“Suami saya atlet biliar di Jawa Barat (Jabar). Jauh banget kalau mau dibandingkan dengan Bengkulu. Karena sampai saat ini dia digaji oleh pemerintah dan mendapatkan perpanjangan kontrak sebagai atlet setiap tahunnya. Jadi selain terima gaji, atlet juga terima uang kontrak didepan,” bebernya.

Menurutnya saat ini para atlet tidak bisa dipaksa untuk sekadar loyalitas kepada daerah, dengan mengorbankan masa depan dan kehidupannya. Para atlet juga punya keluarga dan memiliki masa depan yang akan dicapai untuk kehidupan yang lebih baik.

“Saya membayangkan teman-teman atlet lainnya yang memang berhadap dari gaji atlet. Bagaimana mereka harus bertahan, sementara daerah hanya memikirkan prestasi tanpa memikirkan bagaimana periuk nasi di rumahnya agar tetap ngepul. Bagaimana atlet bisa fokus kalau kebutuhan sandang, pangan dan papannya tidak terpenuhi,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Pelatih Wushu Bengkulu Dedi Armansyah, dimana kedua putranya yakni Deni Arif Fadhillah dan Deni Daffa Arrafi saat ini resmi menjadi milik provinsi Papua dan Jawa Barat. Menurutnya Bengkulu tidak bisa memberikan garansi atas masa depan kedua putranya yang berprestasi mengharumkan nama Bengkulu selama ini. Inilah yang menjadi alasan ia mengizinkan dan menyepakati perpindahan kedua putranya ke provinsi lain.

“Jikalau ada yang mengklaim bahwa Boy (Deni Arif Fadhillah) dan I’i (Deni Daffa Arrafi) adalah atlet Bengkulu, mana buktinya diatas kertas? Selama ini kami swadaya membawa nama Bengkulu di berbagai ajang nasional dan internasioal. Namun sampai sekarang tidak ada perhatian dari pemerintah,” tegas Dedek.

Sementara Ketua KONI Provinsi Bengkulu Mufran Imron, ketika dikonfirmasi mengaku bahwa KONI Provinsi Bengkulu selama ini sudah berupaya semaksimal mungkin mempertahankan para atlet potensialnya. Bahkan KONI Provinsi Bengkulu sudah mengagendakan untuk membawa kembali pulang para atlet yang sudah pindah ke provinsi lain untuk bisa mengabdi di Bengkulu.

“Namun semua ini tidak bisa hanya dilakukan KONI Provinsi Bengkulu sendiri tanpa ada dukungan dari pemerintah. Karena KONI Provinsi Bengkulu adalah perpanjangan tangan pemerintah dalam pembinaan prestasi atlet daerah,” singkatnya. (sly)

Baca Juga ...

Jika Tidak Sesuai Prosedur Bisa Jadi Pidana, Soal Peralihan Tanah Hotel Samudera Dwinka

BENGKULU – Penyelidikan terhadap Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) atas pembelian lahan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.