Rabu , 26 September 2018
Home / BENGKULU SELATAN / Pembangunan SIT Seginim Terancam Gagal

Pembangunan SIT Seginim Terancam Gagal

SEGINIM – Pembangunan pesantren, Sekolah Islam Terpadu (SIT) oleh Yayasan Bengkulu Madani terancam tidak bisa dilanjutkan. Pasalnya, lahan lokasi pendirian SIT ini masih berpolemik. Pemilik lahan secara sepihak menaikkan harga jual lahan. Sementara dana untuk pelunasan lahan belum mencukupi.

Dikatakan Pembina Yayasan Bengkulu Madani, Sukirdi, M.Pd, polemik lahan ini bermula dari keterlambatan pihak yayasan untuk melunasi harga lahan Rp 220 juta. Yayasan baru membayar uang muka atas lahan tersebut sebesar Rp 46 juta dari Rp 220 juta. Berdasarkan perjanjian antara pemilik lahan dengan pihak yayasan lahan tersebut akan dilunasi akhir tahun oleh yayasan. Namun karena uang baru terkumpul Maret 2018, maka yayasan tidak bisa membayar lunas lahan sesuai dengan perjanjian.

Lantaran keterlambatan itulah, pemilik lahan menolak uang sisa untuk pelunasan dari yayasan. Menurut pemilik lahan, harga jual tanah sudah naik menjadi sekitar Rp 300 juta dengan luas 3 atau 4 hektare. Sedangkan uang muka dianggap hangus oleh pemilik lahan. “Menurut pemilik lahan  harga tanah tidak sesuai lagi perjanjian awal.  Jadi kalau mau beli tanah harga tanah berkisar Rp 300 juta dengan luasan 3 atau 4 hektare,” ujar Sukirdi, kemarin (12/6).

Ketua Yayasan Bengkulu Madani, Marhen Harjono, M.Sc juga membenarkan atas polemik lahan untuk pembangunan pesantren SIT ini. Akibatnya pembangunan mengalami stagnan karena pemilik lahan menolak menjual lahan dengan harga lama sesuai dengan perjanjaian awal. Menurutnya ini juga dikarenakan kesalahan pihak yayasan karena telat membayar sisa uang pelunasan.

“Ini juga ada kesalahan kami karena belum bisa melunasi sesuai dengan janji. Kami telat membayar sekitar 3 bulan.  Pos  dana untuk pelunasan tanah baru terkumpul bulan Maret sebesar 180 juta,” bebernya.

Hanya saja, Marhen juga menyayangkan pihak pemilik lahan yang menaikan harga, membatalkan dan menghanguskan uang muka. Padahal uang muka tersebut berasal dari sumbangan banyak pihak. Dengan dibatalkannya secara sepihak tentu banyak pihak akan dikecewakan.  Terlebih pada peletakan batu pertama beberapa waktu lalu langsung dihadiri oleh Plt Gubernur Bengkulu, Bupati dan FKPD di Kabupaten BS.

“Di sana sudah ada pondasi untuk pembangunan gedung serba guna dan material lainnya. Kami sangat kecewa sekali jika ini dibatalkan karena material dan bahan bangunan sudah kami beli dan tinggal masuk lagi habis Lebaran ini,” jelasnya.

Marhen menambahkan, pihaknya sudah mengupayakan dengan bernegosiasi dengan pemilik lahan, namun pemilik lahan tetap bertahan untuk menaikkan harga serta menghanguskan uang muka. Untuk itu dirinya berharap ada masukan dan bantuan dari pihak lain agar polemik ini bisa diselesaikan. Sehingga pembangunan bisa terus dilanjutkan.

“Secara pribadi kalau memang ada denda, saya siap membayar Rp 10 juta atas keterlambatan bayar pelunasan ini.  Karena kalau benar-benar dibatalkan kemana kami akan meletakkan barang-barang yang sudah terlanjur kami terima dan kami beli,” kata Marhen. (key)

Baca Juga ...

Duit Rp 10 Juta Raib

PINO RAYA – Sial dialami warga Desa Pasar Pino Kecamatan Pino Raya Nadiarti (48). Uang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.