Rabu , 26 September 2018
Home / BERITA UTAMA / Harga Anjlok, Polemik Harga Sawit Tak Kunjung Tuntas

Harga Anjlok, Polemik Harga Sawit Tak Kunjung Tuntas

BENGKULU – Pemerintah Provinsi Bengkulu belum kunjung menyelesaikan polemik sawit yang makin mencekik leher para petani. Sampai saat ini, dua pabrik milik perusahaan masih menyetop pembelian sawit dari petani yakni PT.Sendabi Indah Lestari (SIL) Kabupaten Bengkulu Utara dan PT.Bio Nusantara Teknologi Kabupaten Bengkulu Tengah.

Di beberapa pabrik milik perusahaan lain, diteranggai masih membeli sawit dengan harga yang sangat murah, alias tidak mengikuti harga yang telah disepakati antara perusahaan dengan petani yang difasilitasi oleh Pemprov Bengkulu yakni Rp 1.200/kg.

Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu yang merupakan mitra kerja Dinas Perkebunan meminta agar permasalahan ini tidak dibiarkan sampai berlarut-larut. Baik pemprov maupun pemkab harus menunjukkan ketegasan. “Memang kalau saat ini kita lihat Pemprov dan Pemkab seperti kehilangan gigi. Sudah seperti macan ompong. Bisa mengaum tapi tidak bisa menggigit,” kata Mulyadi Usman, selaku Ketua Komisi II.

Maksudnya, pemerintah harus berani memberikan tindakan tegas berupa sanksi kepada oknum perusahaan yang masih mempermainkan harga, yakni membeli TBS sawit dengan harga yang murah. Kemudian juga harus cepat bertindak mengatasi penumpukan TBS di beberapa pabrik yang dijadikan alasan perusahaan menyetop pembelian sawit dari masyarakat.

“Kita turut prihatin dengan kondisi saat ini. Tapi informasinya besok (hari ini) Pemprov akan menggelar rapat bersama seluruh bupati, perusahaan dan petani membahas masalah ini untuk dicarikan solusi jalan keluarnya. Mudah-mudahan ada penyelesaian,” kata Mulyadi.

Kerugian petani kelapa sawit di Provinsi Bengkulu ditaksir mencapai Rp 4 miliar dalam sehari. Akibat dari perusahaan pabrik minyak kepala sawit membeli tandan buah segar kelapa sawit di bawah harga terendah yang telah ditetapkan.

Kerugian itu belum termasuk kerugian ketika selisih harga ditingkat toke. Apalagi sampai ada TBS yang disortir dan lainnya. Ini dinyatakan Ketua Ikatan Petani Sawit (IPS) Provinsi Bengkulu, Edy Manshury, S.Hut, MT, kemarin.

“Rata-rata sekarang ini perusahaan hanya membeli Rp 1.000 perkilogramnya. Jadi ada selisih Rp 200 perkilogram. Rata-rata produksi TBS di Provinsi Bengkulu sehari 20 ribu ton. Jelas kerugian petani sawit Rp 4 miliar sehari. Tinggal kali saja kalau kondisi ini sampai sebulan. Itu belum termasuk kerugian selisih harga di toke,” sorot Edy.

Sementara itu, dua pabrik CPO di Mukomuko kembali menurunkan harga TBS. Padahal harga sebelumnya tidak ada satupun pabrik CPO di Mukomuko sesuai dengan harga ditetapkan provinsi.

Kasi Kemitraan dan Perizinan Budidaya Perkebunan Dinas Pertanian (Distan) Mukomuko, Sudianto mengatakan, ada dua pabrik yang menurunkan harga beli TBS ditingkat pabrik. Yakni PT. Sapta semula membeli Rp 950 perkilogram, turun menjadi Rp 930 perkilogram. Lalu PT. DDP dari sebelumnya Rp 1.040 perkilogram menjadi hanya Rp 1.010 perkilogram.

Sedangkan pabrik lainnya seperti PT. USM Rp 1.050 perkilogram, PT. KSM Rp 1.030 perkilogram, PT. MIL Rp 1.030 perkilogram, PT. KAS Rp 1.030 perkilogram, PT. AMK Rp 1.025 perkilogram, PT. SSS Rp 1.030 perkilogram, PT. SAP Rp 1.040 perkilogram, PT. BMK Rp 1.060 perkilogram dan PT. MPRA Rp 1.020 per kilogram.“Seluruh pabrik di Kabupaten Mukomuko masih membeli TBS dengan harga murah,” sampainya.

Salah satu petani kelapa sawit, Wahyudi warga Desa Lubuk Sanai III Kecamatan XIV Koto mengatakan, TBS miliknya hanya dibeli Rp 700 perkilogram oleh toke. Dari harga itu, sudah dipastikan Rp 300 perkilogramnya dirinya untuk biaya upah dodos dan biaya melansir TBS ke pinggir jalan. Kemudian Rp 200 lagi setiap kilogramnya pasti habis untuk pemeliharaan, pupuk dan lainnya bahkan biaya tersebut kurang.

“Jadi bayangkan saja, palingan kami hanya dapat Rp 200 lagi perkilogramnya. Jelas bagaimana lagi mau untung. Untuk biaya sehari-hari saja tidak cukup, apalagi untuk membiaya anak sekolah yang sekarang ini sedang sibuk-sibuknya mau masuk sekolah,” keluh Wahyudi.

Pembelian TBS Tebang Pilih

Pembelian TBS di tingkat petani ataupun toke sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) diduga tebang pilih. Padahal, petani sawit sudah mengalami banyak kerugian dari penjualan TBS yang harganya saat ini di tingkat petani paling tinggi hanya Rp 550/kg.

Marzuki, petani Desa Padang Betuah Kecamatan Pondok Kelapa mengaku kalau TBS yang dijual langsung ke PT Sawit Mulia yang terletak di perbatasan Benteng-BU dipatok dengan harga subsidi. “Harga subsidi di bawah harga penjualan umum yakni Rp 880/kg,” terangnya.

Hal ini karena TBS dari kawasan Pondok Kelapa termasuk yang diutamakan. Kendati demikian, kanyataannya saat ini masih saja petani belum bisa leluasa masuk ke dalam pabrik. Sedangkan harga TBS selain dari Pondok Kelapa masih bisa menembus di angka Rp 1000/kg. Padahal, ketetapan harga pemerintah standarnya di angka Rp 1.200/kg.

Sementara kalau menjual ke toke sawit, diakui Marzuki malah jauh menurun. Paling tinggi dihargai Rp 550/kg. Sementara untuk menjual ke PT Bio Nusantara Teknologi (BNT) sampai kemarin belum ada tanda-tanda perusahaan tersebut bakal menerima penjualan TBS. Alasannya karena stok CPO yang lama masih belum terjual, sementara modal untuk membeli TBS warga juga minim.

Sehingga sudah seminggu terakhir PT BNT tidak menerima TBS dari masyarakat. Marzuki berharap, pemerintah bisa kembali memantau. Apalagi adanya kesan tebang pilih terutama harga yang tidak sama antara petani di Pondok Kelapa dengan TBS yang berasal dari petani di luar Pondok kelapa yang dihargai penjualan umum. Padahal TBS dari masyaraakt Pondok Kelapa juga tidak kalah kualitasnya dari TBS yang berasal dari luar Pondok Kelapa.

Jika ada hitungan ongkos akomodasi dari luar Pondok Kelapa kebih tinggi, menurut Marzuki hal tersebut bukanlah alasan yang tepat. Karena banyak TBS dari Seluma, BU yang sebenarnya juga memiliki pabrik CPO ditempatnya. Sementara itu, PT SM saat akan dikonfirmasi menolak menerima kedatangan awak media.

Salah seorang karyawan di bagian penerimaan buah, Irawan mengakui memang ada perbedaan harga yang ditetapkan perusahaan untuk TBS yang diterima. Kalau untuk TBS yang berasal dekat dengan perusahaan, managemen perusahaan sudah hafal, jadi tidak mungkin bisa mengelabui pihak perusahaan.

Begitu juga sebaliknya, untuk TBS yang berasal dari luar Pondok Kelapa juga sudah ada daftar resminya oleh pihak perusahaan. “Daftar tersebut dipegang oleh menager perusahaan, kami hanya bagian menurunkan dan mendata jumlah berat buah saja,” demikian Irawan.

Petani Sawit Ancam Demo

Petani Sawit Kecamatan Ilir Talo, mengancam akan melakukan aksi demo besar-besaran ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Seluma. Jika Pemkab Seluma tidak mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan perkebunan dan Pabrik Clude Palm Oil (CPO) yang tidak mematuhi harga Tandan Buah Segar (TBS) yang telah ditetapkan oleh Pemprov Bengkulu  Rp 1.200/kg. Saat ini di kalangan petani khususnya dSeluma TBS hanya dihargai Rp 400/kg, bahkan di kecamatan Talo harga TBS hanya dihargai Rp 125 per Kilogramnya.

“Karena ini urusan perut, kami petani sawit di Kecamatan Ilir Talo ini sudah siap melakukan aksi demo tersebut, jika Pemkab masih diam saja. Tindak mengambil tindakan tegas,” ujar Andi Wijaya (51), Tokoh Masyarakat dan juga pengepul/Toke TBS di desa Rawah Indah kecamatan Ilir Talo, kepada RB kemarin (10/7).

Dikatakannya dirinya akan berkordinasi dengan petani sawit yang ada 14 kecamatan lainnya untuk menggelar aksi demo ini secara besar-besaran ini. “Saya sudah sampaikan kepada petani ataupun pengepul yang ada di kabupaten seluma, semuanya menyatakan siap untuk ikut dalam aksi ini,” ujar Andi.

Lanjutnya saat aksi tersebut nantinya, petani sawit telah kompak untuk meminta Pemkab Seluma mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang membangkang atau tidak mematuhi keputusan dan standar harga yang telah ditetapkan oleh Pemprov Bengkulu. Selain itu perusahaan perkebunan dan pabrik CPO khususnya di kabupaten seluma ini juga telah mengacuhkan keputusan rapat yang digelar oleh Pemkab Seluma beberapa waktu lalu, yang saat itu jiga dihadiri oleh pimpinan perusahaan perkebunan dan pabrik CPO yang ada di Kabupaten Seluma.

“Dalam rapat tersebut kan Pemkab Seluma meminta kepada perusahaan agar mematuhi keputusan harga yang telah ditetapkan oleh Pemprov tersebut. Namun kenyataannya, tidak satupun perusahaan yang mentaatinya bahkan untuk pembelian TBS tetap memprioritaskan hasil kebun intinya. Sehingga antrian TBS milik petani saat ini tetap panjang sama seperti sebelumnya,” papar Andi wijaya.

Sementara itu Pengepul/Toke TBS Kepala Sawit yang membuka usahanya di Kecamatan Seluma, Herwan (35) juga mengkritik sikap pemerintah khususnya Pemkab dan DPRD Seluma yang terkesan tidak peduli dengan keadaan yang dialami petani sawit saat ini.

“Jika mereka peduli, pasti ada tindakan tegas kepada perusahaan yang membangkang dan tidak mematuhi harga yang telah ditetapkan oleh Pemprov Bengkulu tersebut. Tapi kenyataannya saat ini semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing,” keluh Herwan.

Terpisah, Kapolres Seluma AKBP Jeki Rahmat Mustika, S.Ik mengatakan tidak menghalangi petani Sawit yang akan menggelar aksi demo ke Pemkab Seluma. Asalkan tujuannya jelas dan tidak berbuat anarkis yang bertentangan dengan hukum. “Asalkan tujuannya jelas dan mengajukan izin ke kita (Polres,red), sah saja. Akan tetapi jika saat aksi tersebut berbuat anarkis, kami akan tindak dan bubarkan dan pelakunya akan diproses hukum,” sampai Kapolres. (tew/hue/vla)

Baca Juga ...

AHM_CRF150L.Extreme Red. 1

Ramaikan Pasar On-Off Sport, AHM Hadirkan Varian Baru New Honda CRF150L

JAKARTA – PT Astra Honda Motor (AHM) menghadirkan varian warna baru Extreme Black pada New ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.