Rabu , 26 September 2018
Home / BENGKULU SELATAN / Plt Bup Janji Bakal Panggil Pabrik CPO

Plt Bup Janji Bakal Panggil Pabrik CPO

KOTA MANNA – Menindaklanjuti pertemuan kepala daerah dan manajemen pabrik CPO di gedung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu, Rabu (11/7), plt Bupati Bengkulu Selatan (BS) Gusnan Mulyadi, SE, MM dalam waktu dekat ini akan memanggil manajemen pabrik CPO di Kabupaten BS untuk melakukan koordinasi.

“Menindaklanjuti hasil kesepakatan rapat dengan Plt Gubernur, kita (pemkab) akan segera memanggil pihak PMKS (Pabrik Minyak Kelapa Sawit) di BS untuk pelaksanaan keputusan rapat,” kata Gusnan Mulyadi.

Dijelaskan plt bupati, dalam kesepakatan  rapat difasilitasi Pemprov Bengkulu diperoleh beberapa keputusan penting. Meliputi, diantaranya pabrik CPO harus kembali beroperasi secara normal, kecuali bagi pabrik dengan tampung tanki penyimpanan penuh. Juga memberlakukan harga TBS Rp 1.200,- per kilogram. “Kesepakatan harga yang ditetapkan harus diikuti oleh seluruh PMKS, dan kesepakatan harga ini berlaku untuk kualitas buah sesuai dengan kriteria/standar buah yang ditentukan,” beber Gusnan.

Gusnan menambahkan, pemkab juga akan melaksanakan melaksanakan pengawasan penerapan harga TBS di lapangan. Termasuk perusahaan harus melaksanakan pengawasan pada tahapan penyortiran dan supplier (pemegang DO). Sedangkan petani sawit diharapkan membentuk kelompok tani untuk mempermudah pembinaan dan meningkatkan posisi tawar petani.

**Masih Dibawah Rp 1.200

Terpisah, petani di Kecamatan Kedurang Ilir masih mengeluhkan harga sawit yang masih anjlok meskipun sudah ada kesepakatan harga bersama. Kemarin saja, harga sawit di PT BSL di Desa Lubuk Ladung Kecamatan Kedurang Ilir Rp 1.050 perkilogram. Sementara di tingkat ram atau pengumpul masih Rp 750 perkilogram mengingat versi pemilik ram ada pemotongan sebesar 7 persen dari pihak pabrik.

“Meskipun harga dipabrik sudah Rp 1.000, tapi karena ada pemotongan 7 persen oleh pabrik membuat pemilik ram tidak menaikan harga beli dari petani,” keluh Ahmad warga Desa Lubuk Ladung.

Diakui Ahmad sejak harga anjlok, petani sawit khususnya di Kecamatan Kedurang Ilir enggan memanen sawitnya meskipun sudah memasuki masa panen. Ahmad sendiri sudah 2 kali tidak panen membuat sawit membusuk dan berjatuhan dari batang. Sehingga mengakibatkan petani mengalami kerugian hingga jutaan rupiah setiap kali panen pertonnya. Biasanya setiap kali panen dengan harga normal diatas Rp 1000, setiap tonnya petani bisa memperoleh Rp 1 juta. Namun sekarang ini hanya berkisar Rp 500 ribu-600 ribu, itupun jika panen dikerjakan sendiri tanpa mengupah orang lain.

“Banyak petani di Kedurang Ilir termasuk saya enggan panen karena harga ditingkat petani masih di bawah Rp 1000. Apalagi kalau kita mengupah orang untuk panen dan mengangkut, lebih besar biayanya daripada hasil didapat,” bebernya.

Untuk itu Ahmad berharap, pemkab bisa mengambil langkah tegas terhadap pabrik bila tidak mengikuti harga kesepakatan. Bahkan Ahmad menyarankan agar pemerintah memberikan sanksi kepada pabrik tersebut supaya pabrik mau mematuhi harga yang sudah disepakati. “Kalau pemerintah memang memikirkan nasib petani, ambil langkah tegas. Jika perlu sanksi pabriknya,” tandasnya.(key)

Baca Juga ...

Duit Rp 10 Juta Raib

PINO RAYA – Sial dialami warga Desa Pasar Pino Kecamatan Pino Raya Nadiarti (48). Uang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.