Home / BERITA UTAMA / Masih Ada Tudingan Miring, Begitu Kata Legislator Anarulita Tentang Bank Syariah

Masih Ada Tudingan Miring, Begitu Kata Legislator Anarulita Tentang Bank Syariah

KENANGAN : Anggota DPR RI Komisi XI Fraksi NasDem Dapil Bengkulu, dr. Anarulita Muchtar saat memberikan kenang-kenangan pada Pakar Ekonomi Syariah, Ahmad Ifham Solihin, dalam sosialisasi “Menjawab tudingan miring pada bank syariah.”

BENGKULU – Banyaknya tudingan dan pandangan miring terhadap perbankan syariah yang beredar, membuat masyarakat menjadi ragu pada bank syariah. Apalagi semenjak kemunculannya di Indonesia pada tahun 1991, perbankan syariah bisa dikatakan masih kontroversional di kalangan masyarakat. Padahal penduduk Indonesia mayoritas muslim, namun eksistensi bank syariah masih memprihatinkan.

Menjawab tudingan miring pada bank syariah tersebut, Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu bersama Anggota DPR RI Komisi XI Fraksi NasDem Dapil Bengkulu, dr. Anarulita Muchtar menggelar sosialisasi, Jumat (21/9) di Nala Sea Side Hotel. Kegiatan yang diikuti 118 peserta dari kalangan pelaku ekonomi syariah ini menghadirkan pemateri Pakar Ekonomi Syariah, Ahmad Ifham Solihin.

“Masih ada keraguan masyarakat dalam menggunakan perbankan syariah. Ini tantangan bagi pelaku ekonomi syariah. Inilah yang menjadi landasan digelarnya kegiatan ini,” ujar Anarulita.

Dikatakan Anarulita, Komisi XI DPR RI bermitra dengan OJK bekerja sama dalam berbagai hal. Salah satunya mengenai keuangan syariah. “Kita sangat perlu mengetahui prinsip ekonomi syariah. Ini sangat potensial untuk dikembangkan. Sementara pelaku ekonomi syariah kurang. Diharapkan dengan adanya sosialisasi ini geliat perbankan syariah meningkat. Ini upaya kami menggeliatkan ekonomi syariah di Bengkulu,” katanya.

Perbankan syariah ditandai dengan kemunculan Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991. Meski sudah 27 tahun berdiri namun market-share terhadap total perbankan nasional masih relatif rendah. Bank konvensional masih diminati. Masyarakat masih memendam keraguan pada bank syariah.

Alasannya beragam, bahkan sampai ada yang melontarkan tuduhan bahwa bank syariah tidaklah lepas dari riba. Bank syariah juga dituding sama saja dengan bank konvensional, hanya berbeda pada nama akadnya saja. Serta masih banyak tudingan miring lain yang beredar, sehingga membuat masyarakat ragu-ragu pada bank syariah.

Kepala OJK Provinsi Bengkulu, Yan Syafri mengakui masih sedikitnya minat masyarakat terhadap bank syariah di Bengkulu. Bahkan aset bank syariah masih relatif kecil, hanya di angka Rp 1 triliun. “Padahal mayoritas masyarakat muslim, tapi pertumbuhan bank syariah kecil,” bebernya.

Dia pun membandingkan pertumbuhan perbankan syariah di Malaysia yang juga mayoritas penduduknya muslim. Perbankan syariah di Malaysia dinilai tumbuh cukup baik. “Perbankan syariah di Indonesia dimulai dengan hadirnya Bank Muamalat. Bank Muamalat itu tadinya dibentuk dengan urunan. Dana dari masyarakat. Kalau di Malaysia dana dari pemerintah,” jelasnya. (adn/rls)

Baca Juga ...

Marquez Rengkuh Juara Dunia Ke-7

MOTEGI– Selepas sesi warm up menjelang balapan MotoGP Jepang kemarin, Presiden Honda Racing Corporation (HRC) ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.