Kamis , 13 Desember 2018
Home / BERITA UTAMA / Bengkulu Utara (8) 12 Tahun Berkubang Lumpur

Bengkulu Utara (8) 12 Tahun Berkubang Lumpur

Guru bukan hanya pekerjaan, namun juga soal pengabdian. Begitulah kata-kata yang pernah diungkapkan Bupati Bengkulu Utara (BU) Ir. Mian. Ungkapan itu terpotret dari pengalaman guru-guru di SDN 26 Ketahun persisnya di Desa Limas yang menjadi salah satu desa terpencil di Kecamatan Ketahun.

Hujan gerimis yang mengguyur Kecamatan  Giri Mulya –  Ketahun sejak pukul 05.30 WIB kemarin (28/11) tak membuat para guru SDN 26 Ketahun memilih menarik selimut dan meninggalkan kewajiban mengajar. Bila itu dilakukan, maka ada 245 siswa yang sudah menunggu di sekolah bakal terlantar. Meskipun, medan menuju sekolah sangat miris untuk dilalui,  namun guru-guru tetap berangkat ke sekolah.

Masuk wilayah Ketahun, untuk menuju sekolah sebenarnya lebih cepat melalui Desa Renah Jaya Kecamatan Giri Mulya atau pernah disebut Padang Bano. Menuju Renah Jaya membutuhkan waktu 1,5 jam dari Kota Arga Makmur di perbatasan Kabupaten Lebong. Di sanalah mayoritas guru PNS SDN 26 Ketahun tinggal.

Perjuangan dimulai. Masuk pasar Renah Jaya menuju sekolah bukan perkara mudah. Sepanjang 12 KM jalan tanah berlumpur dan licin harus dilalui para guru setiap hari. Jika hujan seperti kemarin, tentunya butuh konsentrasi dan kehati-hatian tinggi.

Melintas juga Kepala Sekolah Edi Surisno, M.Tpd beserta istrinya Sri Puji Astuti yang juga PNS di sekolah yang sama. Saat mulai lepas dari jalur lintas Lebong – BU, ia berhenti dan keduanya turun. Namun bukan untuk menghela nafas.

Dari bawa jok motornya Edi menarik rantai yang yang sudah nampak berlumur tanah  kering berwarna merah. Untungnya, RB menggunakan motor khusus hingga bisa mengikuti jalur pasutri ini. “Kita mulai mas, kalau kami sudah biasa main ski. Bentar lagi kita meluncur,” kata Sri.

Setelah mengikat rantai di roda belakang, motor melaju. Jika tangan Sri memeluk erat suaminya dari belakang, kaki Edi justru terus menapak menghindari motor tergelincir. Bahkan sesekali Sri harus turun lantaran medan lumpur yang sangat berbahaya. “Sudah 12 tahun kami berdinas di sini, setiap hari ini yang kami hadapi. Sudah terbiasa, tidak takut lagi,” kata Sri.

Tak seperti guru di kota, hampir seluruh guru SDN 26 Ketahun datang ke sekolah dengan berkeringat dan nampak letih. Sepatu hitam yang digunakan sudah berubah menjadi kuning.

Bagimana suasana di sekolah? SD ini memiliki 245 siswa dan ada 6 gedung permanen. Sisanya, satu gedung semi permanen dengan dinding setengah buatan komite. Satu garasi yang ditempel papan untuk kelas 3 dan satu rumah dinas yang dijadikan kelas untuk kelas 1.

“Alhamdulillah, tahun ini kita mendapatkan bantuan rehab satu ruangan. Kita sangat berterimkaasih dengan perhatian Pemkab. Kita tahu Pemkab sebenarnya ingin membangun kelas baru, namun terkendala anggaran akhir tahun,” kata Edi.

RB sempat masuk ke ruang kelas 3. Di dalam, mereka hanya duduk di kursi yang nampak sudah lusuh. Kekurangan kursi dan meja ditunjukkan dengan siswa yang terpaksa duduk bertiga saling berbagi kursi dan meja. Uniknya, wajah semangat tetap terlihat pada para murid.

Lantai hanya terbuat dari semen kasar, bukan keramik. Namun nampak murid belajar dengan kaki telanjang, ada beberapa diantara mereka yang menggunakan kaos kaki penahan dingin lantai yang lembab.

Mereka melepas sepatu bukan karena lantai sekolah keramik, namun karena sepatu mereka penuh dengan tanah merah. Tentunya lantai kotor semakin menguning.           “Pokoknya kami belajar om, kami semangat belajar,” ujar salah satu murid lelaki dengan semangat.

Untungnya hujan reda saat belajar dimulai, jika tidak mereka harus berkumpul di sudut dinding  lantaran menghindari percikan air hujan. Ruang kelas hanya berdinding papan yang renggang seperti berlubang. Renggangan antar papan bida mencapai 20 Cm yang berarti air dengan bebas masuk ke kelas.

“Saya bangga dengan semangat murid kami, mereka belajar terus. Bagi kami prestasi nomor dua. Kami hanya ingin mereka ingin sekolah dan belajar meskipun tinggal di desa dengan fasilitas yang minim,” kata Edi.

Namun kini para guru kembali bersemangat. Niat baik pemerintah dalam membangun infrastruktur memberikan harapan baru. Sedikit ia meminta, Pemkab langsung mengucurkan dana untuk rehab sekolah. Kedepannya tentu harapan kelas baru akan terwujud.

“Kami hanya punya dua harapan, tambahan kelas baru dan jalan. Tidak usah Hotmix, cukup pengerasan jalan. Yang jelas kami dan murid tidak lagi terhalang hujan,” ujar Edi sangat berharap.(*)

 

 

Data dan Fakta

Jumlah Siswa       :         245 Siswa

Guru PNS   : 5 Orang

Honorer      : 9 Orang

Jumlah kelas Permanen : 3

Kekurangan Guru

1 Guru Agama

1 Guru Olahraga

2 Guru Kelas

Baca Juga ...

Hujan Sebentar, Kota “Terkepung” Banjir

BENGKULU- Hujan deras yang mengguyur Kota Bengkulu, sejak Rabu (12/12) sore kemarin  kembali membuat sejumlah ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.