Jumat , 14 Desember 2018
Home / BERITA UTAMA / Rejang Lebong (9) Gaji Hanya Rp 200 Ribu per Bulan

Rejang Lebong (9) Gaji Hanya Rp 200 Ribu per Bulan

 

KENDATI Hanya dibayar Rp 200 ribu per bulan, Junaidi, SPdI, tetap setia menunaikan tugas sebagai wali kelas III di SDN 12 Desa Air Nau, Sindang Beliti Ulu, Kabupaten Rejang Lebong. Jalan tanah licin dan berlumpur ditempuhnya setiap hari. Bahkan, tak jarang sepeda motor yang dikendarainya harus jungkir balik saat mendaki tebing jalan tanah.

‘’Saya dan keluarga tinggal di Desa Tanjung Agung, SBU. Sedangkan saya mengajar di SDN 12 Desa Air Nau yang jaraknya sekitar 19 KM. Karena jalan menuju sekolah ada yang masih berupa jalan tanah. Maka, badan jalan menjadi berlumpur dan licin ketika hujan turun. Makanya, saya sering sampai di sekolah dengan pakaian basah dan kotor. Sebab, sepeda motor saya sering terjatuh ketika meniti jalan tanah mendaki  atau menuruni tebing,’’ kata Junaidi kepada RB, Senin, (21/11).

Ketika hujan turun, lanjut Junaidi, roda sepeda motor harus dililit dengan rantai. Jika tidak, roda sepeda motor tidak akan mampu melintasi jalan licin berlumpur. Setiap hari Junaidi berangkat dari rumah pukul 06.30 WIB. Jika hujan turun, Junaidi bukan hanya harus mengenakan jas hujan. Tapi, Junaidi juga harus memasang rantai di roda depan dan roda belakang sepeda motornya.

‘’Jumlah murid kelas III SDN 12 ini hanya 10 orang. Kalau hujan, paling banyak 5 murid yang sekolah. 5 murid lagi tidak sekolah karena kesulitan mencapai sekolah. Walaupun hanya 5 murid yang hadir, saya tetap menjalankan proses belajar mengajar,’’ ujar Junaidi.

Apakah honor Rp 200 ribu per bulan itu mampu memenuhi kebutuhan keluarga? ‘’Ya bisa dibayangkan sendiri bagaimana saya bersama istri dan 1 anak saya memanfaatkan honor Rp 200 ribu itu dalam sebulan. Tapi, saya masih memiliki kebun kopi yang dapat menopang kehidupan keluarga. Jadi, walaupun honor yang saya terima Rp 200 ribu sebulan, saya tetap setia melaksanakan tugas sebagai guru,’’ papar alumnus STAIN Curup tahun 2012 ini sambil melepas senyum.

Kondisi serupa juga dialami Kasumo, SPdI selaku Kepala SDN12 Desa Air Nau. ‘’Saya bertugas di SDN12 ini sudah 9 tahun. Yakni, 2008-2016. Saya juga tinggal di Desa Tanjung Agung sama dengan Pak Junaidi. Apa yang dialami Pak Junaidi juga saya rasakan selama bertugas di SDN12. Tapi, kami tidak pernah mengeluh,’’ kata Kasumo.

Dikatakan, jumlah murid kelas I – VI SDN12 mencapai 65 murid. Sedangkan guru yang mengajar hanya 8 orang. Terdiri dari 3 guru PNS. Yakni, Kasumo, SPdI, Ramayulis, MTPa dan Sapriana, SPdI. Ditambah 5 guru non PNS. Mereka adalah, Wasriah, SPd, Junaidi, SPdI, Dwi Pertiwi, Bambang Kusnadi dan Evi Tamalasari.

‘’Sekolah kita hanya mampu membayar honor guru non PNS itu sebesar Rp 200 ribu perbulan. Honor itu kita bayar melalui dana BOS yang kita terima sebesar Rp 13 juta per triwulan. Makanya, kita sangat mengharapkan tunjang khusus guru terpencil yang telah dibayarkan kepada guru yang bukan bertugas di sekolah khusus terpencil. Karena berdasarkan SK Bupati, sekolah khusus terpencil di Rejang Lebong ini ada 3. Yakni, SDN 10, SDN 11 dan SDN 12 di Kecamatan Sindang Beliti Ulu. Ternyata, tunjangan khusus guru terpencil itu diberikan kepada guru yang tidak bertugas di 3 sekolah terpencil. Ini yang sedang kita urus di Dinas Pendidikan,’’ kata Kasumo.

 

 

Plt Kadis Pendidikan Rejang Lebong, T.Samuji, SPd, menjelaskan, total guru SD, SMP, SMA dan SMK di Rejang Lebong tercatat sebanyak 3.709 guru.

‘’3.709 guru itu terdiri dari,  449 guru PNS dan non PNS yang bertugas di 17 SMA Negeri dan swasta, 348 guru yang tertugas di 12 SMK terdiri dari  209 guru PNS dan 139 guru non PNS. Ditambah, 888 guru SMP negeri dan swasta. Terdiri dari 538 guru PNS dan 350 non PNS yang bertugas di 55 SMP negeri dan swasta. Serta 2024 guru SD negeri dan swasta. Terdiri dari 1445 guru PNS dan 579 guru non PNS,’’ kata T Samuji, Senin, (21/11).

Dikatakan, dengan 3.709 tenaga guru yang ada, proses belajar mengajar di seluruh sekolah mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK sudah berjalan dengan lancar.  Termasuk proses pendidikan di 3 sekolah khusus terpencil. Yakni, SDN 10, SDN 11 dan SDN 12 di Kecamatan Sindang Beliti Ulu, Rejang Lebong.

‘’Selain itu kita juga terus berupaya membangun dan melengkapi sarana dan prasarana pendukung kelancaran proses belajar mengajar di seluruh sekolah. Tahun 2016 dan sebelumnya Dinas Pendidikan mendapat alokasi dana APBD Rejang Lebong berkisar antara Rp 20 miliar – Rp 21 miliar,’’ ujar Samuji.

Tapi, dalam RAPBD 2017 yang sedang dibahas DPRD Rejang Lebong, Dinas Pendidikan mendapat alokasi dana Rp 41 miliar atau naik 100 persen.

‘’Tingginya alokasi dana yang dituangkan dalam RAPBD 2017 ini diharapkan mampu mendukung peningkatkan kualitas pendidikan di Rejang Lebong. Karena sektor pendidikan merupakan salah prioritas program Pak Bupati kita. Yakni, menjadikan Rejang Lebong sebagai kota pendidikan,’’ tutur Samuji. (rhy)

 

 

Baca Juga ...

Berikut Logika Hukum Soal Kasus Dugaan Suap Fee Proyek Bupati Nonaktif Dirwan Mahmud

BENGKULU– Sidang perkara suap yang mendudukkan Bupati Bengkulu Selatan (Nonaktif) Dirwan Mahmud sebagai terdakwa kembali ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.