Senin , 10 Desember 2018
Home / CURUP / Zonasi Belum Mampu Wujudkan Pemerataan Siswa

Zonasi Belum Mampu Wujudkan Pemerataan Siswa

CURUP – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA sudah selesai dilaksanakan. Dimana PPDB tahun ini dilaksanakan menggunakan sistem zonasi sama seperti tahun sebelumnya. Dengan sistem zonasi tersebut, sepertinya memang belum mampu mewujudkan pemerataan siswa, baik dalam hal jumlah, maupun potensi siswa berbakat dan bertalenta yang diterima disetiap sekolah.

Hal ini disampaikan Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Rejang Lebong (RL) Tuharlan Efendi, M.Pd kepada RB. Apalagi setiap aturan dan kebijakan tidak cukup dijalankan tanpa pengawalan dan kontrol sosial. Baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri ditambah organisasi kepentingan lainnya. Serta harus disertai pula dengan sosialisasi yang memadai agar masyarakat bisa memahami sistem yang diberlakukan.

‘’Karna karakter masyarakat kita belum siap untuk menjalankan dan mematuhi aturan dengan konsekuen dan konsistensinya. Diperlukan integritas baik penyelenggara PPDB maupun masyarakat itu sendiri agar aturan yang dibuat bisa dijalankan dan dipatuhi. Karna setiap aturan dan kebijakan tidak mungkin akan mampu mengakomodir semua kepentingan,’’ ungkap Tuharlan.

Apalagi, sambung Tuharlan, setiap aturan memang selalu ada celah untuk dicurangi dan dilanggar. Contohnya seperti sistem zonasi yang diberlakukan, orang tua peserta didik, rela memasukkan nama anaknya dalam Kartu Keluarga siapapun, demi untuk mengejar zonasi sekolah yang diinginkan. Dan ini bisa dikatakan sebuah kecurangan yang masif oleh orang tua peserta didik. ‘’Padahal menuntut ilmu sebenarnya tujuannya mulya, namun kalau seperti itu caranya, jelas terciderai oleh awal proses yang ditempuh dengan cara curang,’’ sambung Tuharlan.

Untuk itulah, lanjut Tuharlan, mereka berharap, setelah dua tahun sistem PPDB dengan Zonasi diberlakukan, harus ada evaluasi dari pemerintah. Terutama soal perlunya pembatasan daya tampung bagi sekolah yang berkategori maju atau paling favotit. Sekolah maju dan menjadi favorit harusnya berorientasi pada kualitas bukan kuantitas atau banyaknya jumlah siswa.

‘’Semoga hiruk pikuk PPDB di dua tahun terakhir ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Terutama pemangku kepentingan dan praktisi pendidikan untuk dapat membuat formulasi yang tepat agar proses pendidikan di Negeri ini lebih baik kedepan, termasuk di Kabupaten Rejang Lebong. Karna pendidikan menyangkut masa depan seluruh anak bangsa,’’ demikian Tuharlan.(dtk)

Baca Juga ...

573 Peserta Siap Bersaing dalam SKB

CURUP – Jika tidak ada kendala, sebanyak 573 peserta secara bertahap, hari ini mulai mengikuti ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.