Jumat , 14 Desember 2018
Home / CURUP / Wujud dan Bukti Bebas Korupsi

Wujud dan Bukti Bebas Korupsi

MEMBUKTIKAN: Dua dari 125 siswa yang mengikuti Pendidikan Pembentukan Bintara Polri di SPN Bukit Kaba 2018, Akbar Mandiri dan Tiass Sholeh Saputro didampingi Kakorsis mereka AKP Eka Candra, SH, MH yang sudah membukti kalau penerimaan anggota Polri Bebas Korupsi.

Komitmen Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, PH.D untuk membuang citra negatif dan memastikan kepada masyarakat bahwa penerimaan anggota Polri bebas dari praktik korupsi bukan hanya hisapan jempol belaka. Termasuk juga yang terlaksana di Provinsi Bengkulu tahun 2018.

Hal ini dirasakan beberapa peserta Pendidikan Pembentukan Bintara Polri 2018 SPN Bukit Kaba Polda Bengkulu yang sempat diwawancarai RB kemarin saat kegiatan Upacara Pembukaan Pendidikan Pembentukan Bintara Polri 2018 SPN Bukit Kaba Polda Bengkulu. Bagaimana pengakuan mereka, berikut laporannya.

WANDA PEBRIANDA, Kabupaten Rejang Lebong

MESKIPUN waktu sudah menjelang siang saat seluruh rangkaian kegiatan Upacara Pembukaan Pendidikan Pembentukan Bintara Polri 2018 SPN Bukit Kaba Polda Bengkulu selesai, terlihat jelas wajah 125 peserta yang mengikuti pendidikan terlihat sangat bersemangat. Apalagi, mereka akan memulai berbagai kegiatan untuk mendapatkan bekal sebelum benar-benar menjadi seorang Bintara Polri yang lulus dalam seleksi di tahun 2018.

Wartawan RB awalnya meminta izin kepada Kepala Koordinator Siswa (kakorsis) SPN Bukit Kaba AKP Eka Candra, SH, MH untuk mewawancarai salah satu siswa yang informasinya merupakan seorang yatim piatu sejak kecil. Adalah Akbar Mandiri siswa asal Kota Bengkulu yang mengaku ketiga kalinya ikut seleksi baru bisa lulus menjadi bintara Polri untuk kuota Kota Bengkulu.

‘’Saya sudah tidak punya orang tua dari sejak kecil dan cita-cita saya memang mau menjadi polisi. Makanya saya tidak pernah putus asa, meskipun sudah dua kali ikut seleksi dan gagal, ditambah banyak yang bilang tidak akan lulus kalau tidak ada uang. Dan saya buktikan bahwa penerimaan bintara Polri tidak ada unsur korupsi dan alhamdulillah saat mengikuti seleksi ketiga kalinya ini bisa lulus dengan usaha serta kemampuan saya murni,’’ ungkap Akbar.

Dirinya, lanjut Akbar, mengucapkan ribuan terimakasih kepada Kapolri Tito yang sudah bisa meyakinkan masyarakat bahwa tidak ada lagi istilah suap atau sogok dalam penerimaan anggota Polri. ‘’Saya sudah membuktikan sendiri (penerimaan anggota polri, red) dan memang tidak ada korupsi. Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih kepada pak kapolri,’’ ucap Akbar.

Hal senada juga disampaikan Tiass Sholeh Saputro juga asal Kota Bengkulu yang mengaku hanya anak seorang buruh tani. Bahkan awalnya tidak menyangka akan lulus dalam seleksi penerimaan bintara polri di Bengkulu. Apalagi dirinya baru pertama ikut seleksi setelah tamat sekolah tingkat SLTA. ‘’Saya awalnya modal yakin bagaimanapun caranya harus bisa ikut seleksi. Bahkan kalau saya tidak lulus, niatnya ikut seleksi sampai batas umur saya tidak bisa lagi. Tapi alhamdulillah sekali ikut bisa langsung lulus. Terimakasih Pak Kapolri,’’ ucap Tiass.

Sementara itu, Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Drs. Coki Manurung, SH, M.Hum yang menyampaikan amanat Kapolri, saat ini Polri memang membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Ini untuk menjawab tantangan tugas yang akan di hadapi dalam memelihara keamanan dalam negeri yang akan semakin kompleks.

Bintara Polri, kata Coki, merupakan lapis terdepan dalam bertugas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sehingga kinerja, sikap dan perilaku Bintara Polri menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga citra Positif Polri Serta dalam membentuk kepercayaan masyarakat. ‘’Polisi bukan sekadar profesi, melainkan sebuah jalan untuk mengabdi,’’ ucap Coki menyampaikan pesan kapolri.

Sementara itu, Kepala SPN Bukit Kaba Polda Bengkulu AKBP Abdul Muis, S.IK kepada RB mengungkapkan, masyarakat harus yakin bahwa seleksi penerimaan personil Polri memang bebas korupsi. Dan hal ini sudah terbukti dengan berbagai program serta strategi penerimaan anggota polri setiap tahunnya.

Dicontohkan Muis, seperti adanya anak yatim piatu yang berhasil lulus setelah 3 tahun berturut-turut mengikuti seleksi. Anak buruh dan petani yang pertama ikut langsung lulus. Bahkan beberapa diantara dari 125 siswa yang mulai mengikuti pendidikan di SPN Bukit Kaba sudah lebih dua kali ikut seleksi baru bisa lulus.

‘’Ini artinya sebuah wujud dan bukti bahwa memang seleksi penerimaan anggota polri memang bebas dari praktek korupsi. Karena siswa lulus benar-benar murni karena usaha serta kemampuan yang memang dimiliki masing-masing siswa. Mudah-mudahan siswa SPN Bukit Kaba bisa menjadi abdi negara yang menjalankan tugas negara ditengah masyarakat dengan baik karena merupakan hasil dari sebuah proses yang baik juga,’’ demikian Muis.(**)

Baca Juga ...

Datangi DPRD RL, Hanya Bertemu Sekwan

CURUP – Anggota pansus DPRD Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), kemarin melaksanakan kegiatan kunjungan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.