Kamis , 13 Desember 2018
Home / METROPOLIS / Melihat Suka Duka Pedagang Keliling

Melihat Suka Duka Pedagang Keliling

RAMAI: Sejumlah pedagang mulai meramaikan lokasi Festival Tabut 2018 ini.

Festival Tabut akan dilaksanakan hingga 20 September nanti. Event Tahunan di Kota Bengkulu itu, tetap menjadi magnet bagi pedagang keliling dari provinsi lain untuk  mengadu untung. Simak liputannnya.

 

IKSAN AGUS ABRAHAM, Kota Bengkulu

DENI (38) warga Kota Bandung, Jawa Barat mengaku sudah rutin berdagang di Festival Tabut sejak tahun 2010. Dia mengaku setia berdagang beraneka rupa bunga plastik ditambah dengan bermacam-macam guci berbagai ukuran. Tahun ini dia membawa modal hingga Rp 50 juta  yang merupakan hasil dari kegiatan Festival Pacu Jalur di Riau pada Awal September lalu.

Namun tahun ini pada Festival Tabut 2018 di Bengkulu, Deni mengaku kecewa dengan penataan tempat. “Saya perhatikan tahun ini penataan lokasi harus lebih ditata lagi, kurang rapi,” jelasnya kepada RB. Sambung dia, pengaturannya semrawut dan berantakan, tidak jelas mana lokasi untuk pedagang  kaki lima, mana untuk  lokasi yang menyewa tenda.

“Ini saja kadang-kadang saya sering dipindah-pindahkan padahal lapak saya bayar cukup mahal,” ulasnya. Padahal kalau melirik ke cara penataan di Riau, Festival Tabut di Bengkulu, bisa lebih besar karena festival ini tahun ke tahun selalu ramai didatangi masyarakat. “Mereka di Riau petugasnya tegas menata, misalnya mana lokasi parkir, mana lokasi berjualan dan mana lokasi untuk  pedagang kaki lebih jelas,” bebernya.

Meski begitu Deni tidak kapok, untuk  ke Bengkulu, alasanya berdagang di Tabut tempatnya aman, jumlah  pengunjung dan masyarakat yang datang serta event yang dihelat sangat besar skala nasional. “Masyarakat juga banyak suka barang-barang yang saya jual seperti Guci-guci ini,” jelasnya.

Berdagang musiman ini sebut dia, bermodal tekad dan semangat untuk  menafkahi anak dan istri. “Kalau mental dan semangat sudah dipersiapkan untuk  mengadu nasib, mencari rezki. Tak jarang Deni yang sudah berkeling Pulau Sumatera untuk berdagang di setiap keramaian ini kerap mendapat saudara baru, yang bertemu ditempat dagang. “Saat bertemu mereka (pedagang lain, red) waktu di Tabut jadi seperti saudara sendiri,” tukasnya.

Hal senada disampaikan Asep (43), yang mengaku tidak kapok berjualan di arena Festival Tabut di Bengkulu.  Meski tahun lalu dia rugi Rp 11 juta karena saat itu cuaca yang tak mendukung tetapi tahun ini dia tetap semangat ke Bengkulu. “Saya sudah menjadi pedagang keliling sejak tahun 1989 alias sudah sekitar 29 tahun. Usaha ini dulu dijalani bersama orangtua. Tapi saat ayah tahun 2010 meninggal kini hanya tinggal meneruskan,” jelasnya.

Bagi dia menjadi pedagang keliling, tetap menempuh risiko, lokasi berdagang yang terbuka, rentan barang dagangan dicuri orang lain. Belum lagi risiko kerugian saat musim hujan. “Kalau kehilangan barang dagangan itu biasa, namanya tempat ramai,” jelasnya. Pengalaman lain turut diceritakan Buyung (38) warga Provinsi Pekanbaru yang juga rutin ke Bengkulu sejak tahun 2010. Kondisi ekonomi yang masih lesu turut berimbas kepada jual beli yang masih sepi. (**)

Baca Juga ...

Tangkal Radikalisme

BENGKULU – Dalam pemberantasan ancaman radikalisme, Bhabinkamtibmas dan RT menjadi ujung tombak pendeteksi dini ancaman ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.