Kamis , 21 Februari 2019
Home / Borgol / Saksi Sidang Korupsi Proyek Jalan Nanti Agung-Dusun Baru Ungkap Peran Mantan Ketua DPRD Seluma, Husni Thamrin

Saksi Sidang Korupsi Proyek Jalan Nanti Agung-Dusun Baru Ungkap Peran Mantan Ketua DPRD Seluma, Husni Thamrin

 

BERI KETERANGAN: Sidang dugaan korupsi proyek jalan Nanti Agung dilanjutkan dengan menghadirkan 3 saksi, salah satunya mantan Kadis PU Kota Bengkulu. (foto : eki/rb)

 

BENGKULU – Tiga saksi dihadirkan dalam persidangan kasus dugaan korupsi proyek jalan Nanti Agung-Dusun Baru, Kabupaten Seluma di Pengadilan Tipidkor Bengkulu, kemarin (8/1). Dua saksi diantaranya keluarga mantan terdakwa Sinandar (sudah vonis) masing-masing Sidurahman ayah kandungnya dan Angga adik kandung Sinandar.

Sedangkan 1 saksi lagi, mantan Kadis Pekerjaan Umum (PU) Kota Bengkulu, Dharmawansyah. Berdasarkan keterangan saksi Sidurahman dan Angga bahwa Sinandar yang juga dijadikan terdakwa dalam kasus ini hanya disuruh oleh terdakwa Husni Thamrin (Ketua DPRD Kabupaten Seluma nonaktif) untuk mengendalikan proyek jalan Nanti Agung.

Dimana Husni yang memposisikan Sinandar sebagai Direktur CV EB Group menggantikan direktur sebelumnya, Erlan sebagai perusahaan pemenang lelang. Padahal, menurut keterangan Sidurahman bahwa anaknya itu (Sinandar) hanya tamat SMA dan tidak punya pengalaman apapun dalam proyek.

“Anak saya ikut Husni Thamrin. Kata Husni dia mengajak anak saya untuk mencari masa depan. Pertama dia ikut Husni sebagai LSM. Kemudian Husni mau mencalon sebagai anggota DPRD. Nah waktu itu anak saya diajak bekerja di proyek. Tapi setahu saya anak saya tidak punya keahlian. Pernah anak saya cerita katanya diajak Husni kerja jadi kontraktor menggantikan direkturnya Erlan,” beber Sidurahman.

Kemudian, Sidurahman mengaku pernah mengingatkan anaknya itu agar jangan mau kalau disuruh Husni tanda tangan. “Saya sudah ingatkan kalau disuruh tanda tangan tidak usah nanti kalau ada masalah kamu terlibat. Tapi ternyata tetap dia tanda tangan. Saya bilang ya sudah risiko, tanggung sendiri,” kata Sidurahman.

JPU, Dodi, SH kembali bertanya apakah saat proyek berjalan Husni pernah ke rumah saksi? Dijawab Sidurahman bahwa Husni sering ke rumahnya. Bahkan pernah pesan nasi ke istrinya untuk makan para tukang yang bekerja di proyek dan uangnya langsung dibayar Rp 500 ribu oleh Husni.

‘’Sering dia ke rumah. Ngobrol soal proyek, soal masa depan anak saya sambil ngopi. Pernah juga nyuruh istri saya menyediakan makan minum untuk tukang, kalau tidak salah selama 3 hari berturut-turut. Uangnya diberikan cash langsung dari Husni ke istri saya Rp 500 ribu,” paparnya.

Kemudian, masih keterangan Sidurahman pada saat proyek mulai bermasalah, Husni pernah menelpon saksi agar memberangkatkan Sinandar ke Jakarta karena kondisi sedang panas. “Dia bilang situasi lagi panas. Husni bilang proyek itu bermasalah. Saya tidak tahu masalahnya apa. Saat itu Sinandar tidak ada dan saya tidak tahu dimana. Tahu-tahu setelah itu dia sudah berada di Jakarta,” terang Sidurahman.

Dodi melanjutkan pertanyaannya apakah saksi pernah kasih modal untuk Sinandar? Sidurahman menjawab tidak pernah. “Satu rupiah pun saya tidak pernah kasih dia (Sinandar) uang. Dan saya tidak pernah dikasih imbalan apapun dari Husni cuma anak saya pernah dikasih Rp 10 juta oleh Husni setelah proyek selesai,” ungkapnya.

Untuk saksi Angga, ia menyebutkan bahwa pernah disuruh Sinandar (kakak kandungnya) mengambil uang ke rumah Husni untuk biaya makan dan bayar kontrakan Sinandar selama 9 bulan. “Saya disuruh 9 kali ke rumah Husni mengambil uang untuk bayar kosan. Kadang dititip dengan Satpol di rumahnya kadang diberikan oleh istrinya Rp 1 juta,” cerita Angga.

Selama proyek masih berjalan, lanjut Angga, Sinandar juga sering tinggal di rumah Husni. Kemudian setelah proyek selesai disuruh ngontrak selama 9 bulan oleh Husni dan biaya kontrakan ditanggungnya.

Saksi berikutnya yang ditanya oleh hakim, JPU dan penasihat hukum (PH) adalah mantan Kadis PU Kota Bengkulu Dharmawansyah. Apa kaitannya Dharmansyah dengan kasus proyek jalan nanti Agung di Kabupaten Seluma? Ia menjelaskan bahwa salah satu stafnya di PU Kota, yakni Emrald Balaputra (terdakwa) dalam proyek itu ikut dilibatkan menjadi panitia lelang.

“Saya pernah dipanggil penyidik Polres Seluma waktu itu berkaitan dengan proyek di Seluma. Waktu itu saya kadis PU Kota sedangkan pak Emrald staf saya di PU. Pak walikota pernah nanya juga apakah saya pernah memberikan izin kepada Emrald untuk menjadi penitia lelang dalam proyek di Seluma. Saya bilang saya tidak pernh menyuruh staf saya itu untuk memperbantukan proyek di luar kota,” terang Dharmansyah.

Ia juga menyatakan setelah ditelusuri ternyata yang menyuruh Emrald jadi panitia lelang proyek di Seluma adalah mantan Kadis PU Seluma Herawansyah yang juga sudah dijadikan tersangka dan divonis dalam kasus ini. “Jadi kesimpulannya Herawansyah dengan seenaknya membawa Emrald ke Seluma. Kok Emrald yang merupakan pegawai di kota jadi panitia lelang di Seluma,” celetuk Hakim Slamet yang kemudian menutup sidang dan akan dilanjutkan Minggu depan.(tew)

Berita Lainnya

Tiduri Anak SD, Juragan Kontrakan Diamankan Warga

CURUP –  UP (40) yang berstatus bujangan warga Kelurahan Pelabuhan Baru Kecamatan Curup Tengah, Rabu ...