Tuesday , 22 January 2019
Home / Breaking News / Tiga Pondasi Demokrasi Rusak, Revolusi Muncul

Tiga Pondasi Demokrasi Rusak, Revolusi Muncul

DISKUSI: Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva saat mengisi diskusi kebangsaan di aula Kampus IV UMB, Jumat (11/1). (foto : yunike/rb)

BENGKULU – Indonesia menganut sistem demokrasi Pancasila. Kendati Indonesia menganut paham anti kapitalisme, sayangnya kapitalisme di Indonesia justru malah berkembang. Hal ini dikatakan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI periode 2013-2015 Dr. Hamdan Zoelva, SH, MH saat menjadi pembicara diskusi kebangsaan di gelar KAHMI Bengkulu di Kampus IV UMB KAHMI , Jumat (11/1) kemarin.

Menurutnya ada 3 pondasi demokrasi harus dijaga, bila ketiganya rusak maka muncul revolusi rakyat. “Tambah sangat tinggi ketimpangan kaya dan miskin. Sebanyak 39 persen kekayaan nasional hanya dikuasai segelintir orang, 70 persen tanah dikuasai segelintir orang sekitar 1 persen, 1 persen orang menguasai 51 persen kesejahteraan,” beber Hamdan.

Maka peran akademisi dalam pusaran peradaban demokrasi modern, sambungnya, sebagai obor penerang untuk mengembalikan konsep awal demokrasi yang dianut oleh Indonesia. Menolak kebebasan, individualisme, kapitalisme, liberalisme karena akan melahirkan ketidakadilan. “Fondasi dari demokrasi itu sendiri,  1 tingkat kesejahteraan rakyat, 2 kecerdasan atau pendidikan dari rakyat dan ketiga tegaknya hukum. 1 dan 2 boleh rusak tapi yang 3 tidak boleh. Kalau ketiganya rusak tunggulah revolusi rakyat,” ketusnya.

Presidium Majelis Nasional (MN) KAHMI ini juga menerangkan bahwa demokrasi yang dianut di Indonesia berbeda dengan demokrasi di barat. Berasal dari pemikiran founding fathers bukan dari barat, dicetuskan oleh pendiri organisasi pertama di Indonesia Syarikat Islam yaitu Tjokroaminoto. Lalu menginspirasi sang murid Soekarno untuk mengeluarkan konsep demokrasi dengan azas Pancasila, sosialis yang berketuhanan pada sila 1 dan 5.

“Demokrasi Pancasila menurut saya bersumber dari nilai-nilai Islamyang dicetuskan oleh founding father. Maka apakah menerapkan sistem pemilihan langsung atau kerajaan tak masalah bagi saya yang penting nilai-nilai Islamnya,” kata Hamdan dihadapan ratusan mahasiswa dan akademisi kemarin.

Diskusi kebangsaan digelar KAHMI Bengkulu kemarin merupakan rangkaian kegiatan silahturahmi alumni HMI lintas generasi Diagendakan selama 2 hari, 11-12 Januari. Meliputi, yaitu kegiatan diskusi kebangsaan yang melibatkan civitas akademik pada 11 Januari di kampus IV UMB pukul 14.00 WIB.

Orasi Kebangsaan

Sementara itu, tadi malam usai mengisi diskusi di UMB, Hamdan Zoelva melanjutkan orasi kebangsaannya di Balai Raya Semarak Bengkulu sekitar pukul 19.30 WIB. Orasi kebangsaan ini melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dinas/instansi dan masyarakat umum. Rencananya pada 12 Januari digelar family gathering/silahturahmi/belunggak bersama pukul 08.00 WIB di lokasi Wahana Surya. Pada acara family gathering ini nantinya juga ikut serta keluarga dari anggota KAHMI. (key)

Berita Lainnya

Supratman, Putra Daerah Asal Seluma Pimpin Polda Bengkulu

BENGKULU – Pucuk pimpinan di Kepolisian Daerah Bengkulu kembali berganti. Berdasarkan surat telegram Kapolri nomor ...