Sabtu , 24 Agustus 2019
Home / Berita utama / Pembunuh Janda Toke Pisang Ngaku Nekat Ceraikan Istri Pertama

Pembunuh Janda Toke Pisang Ngaku Nekat Ceraikan Istri Pertama

KEPAHIANG – Jamhari Muslim (37) alias Ari, pelaku pembunuhan terhadap Hasnatul Laili (35) bersama dua orang putrinya Melan Miranda (16) dan Cika Ramadani (10), warga Simpang Suban Air Panas Kelurahan Talang Ulu Kecamatan Curup Timur, pada Sabtu (12/1) lalu, mengaku tidak ada pilihan untuk tidak membunuh korban. Pasalnya ia mengaku sangat sakit hati dengan korban, lantaran dirinya telah menceraikan istri tuanya demi memilih untuk bisa hidup bersama korban. Namun ia merasa pengorbanannya dikhianati korban, yang akhirnya menceraikannya di usia pernikahan mereka yang baru berusia 40 hari.

“Sakit hati saya, pak. Saya rela menceraikan istri tua saya demi memilih dia (korban, red). Setelah itu baru 40 hari kami menikah, dia malah minta cerai,” ujar pelaku ketika diwawancarai RB, Rabu (16/1).

Pelaku pun mengakui bahwa ia dan korban, sewaktu masih remaja pernah menjalin hubungan pacaran. Dan kemudian keduanya sempat putus, sampai akhirnya rasa itu kembali muncul ketika ia bekerja membantu usaha milik korban dan suami pertamanya.

“Dulu awalnya dia pacar saya waktu masih bujang gadis dulu. Saat itu kami masih pelajar, dan kemudian putus. Saya tak ada pilihan lain, saya terpaksa membunuh untuk membalas sakit hati ini,” jawab pelaku.

Kemudian ketika ditanya kenapa kedua putri korban pun menjadi sasaran kekejiannya, pelaku mengaku awalnya tidak berniat membunuh Melan dan Cika. Ia hanya berniat membunuh korban, namun saat itu korban berteriak memanggil anaknya, dan kemudian kedua putri korban pun bangun.

“Nggak ada niat untuk bunuh anaknya. Cuma begitu mau bunuh ibunya, ibunya manggil anaknya dan anaknya bangun. Kemudian ketiganya saya pukul pakai balok dan saya cekik dengan kabel,” terang pelaku.

Pelaku juga mengakui bahwa rencana pembunuhan tersebut sudah ia rencanakan sejak sebulan yang lalu. Setelah menurutnya persiapannya matang, ia pun memberanikan diri untuk menjalankan aksinya pada Sabtu (12/1) dini hari, dengan berjalan kaki dari rumahnya ke rumah korban yang berjarak 2 kilometer, dan masuk lewat pintu samping rumah korban.

“Saya datang sendiri membunuh korban. Kemudian saya pergi dengan membawa mobil korban. Bukan maksud untuk membawa lari mobil korban. Itu saya lakukan untuk mengelabui polisi,” jelasnya.

Jadi Orang Ketiga

Menariknya dari kisah percintaan antara pelaku dan korban, diketahui bahwa pelaku merupakan orang ketiga yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga antara korban dan mantan suami pertamanya. Hal ini diceritakan oleh Yudi Prayoga (37) mantan suami pertama korban.

Menurut Yoga, ia sangat mengenal pelaku karena pelaku adalah karyawannya. Bahkan di rumahnya sudah sama seperti rumah pelaku sendiri, dan ia tidak melarang pelaku saat itu untuk keluar masuk rumahnya. Namun kebebasan yang diberikan oleh Yoga tersebut, ternyata disia-siakan oleh pelaku. Pelaku ternyata bermain hati dengan istrinya (korban, red) saat Yoga sedang bekerja di luar rumah.

“Dia (pelaku, red) adalah orang ketiga penyebab perceraian kami. Bahkan dia yang membiayai percerian kami di pengadilan. Padahal dulu kami sangat dekat, dan saya selalu baik dengan dia. Ternyata tanpa sepengatahuan saya yang sering bekerja di luar, dia menjalin hubungan dengan istri saya (korban, red), yang akhirnya menghancurkan rumah tangga kami,” ungkap Yoga dengan nada geram.

Tak Pernah ke Rumah Ortu Korban

Selain itu, selama menjadi suami korban, pelaku diketahui tidak berani untuk menginjakkan kaki ke rumah orang tua korban, yang kebetulan berada di seberang rumah korban. Hal ini lantaran awal pernikahannya dengan korban, disinyalir tidak disetujui oleh pihak keluarga korban. “Dak pernah dio kesini, takut dio. Kami sejak awal memang dak setuju, kareno tau sifat dio tuh dak bagus untuk jadi imam anak kami. Tapi apodayo, anak kami saat itu ndak nikah dengan dio,” keluh Suwardi (62), ayah korban.

Terkait firasat yang mungkin didapat oleh pihak keluarga sebelum kematian korban dan kedua putrinya, Suwardi mengaku seminggu sebelum kejadian dirinya pernah bermimpi sedang membaringkan 3 jenazah dalam sebuah suasana duka di lingkungannya.

“Pernah mimpi menidurkan 3 jenazah orang meninggal, tapi tidak tahu siapa yang meninggal. Awalnya saya pikir itu pertanda sebuah rejeki, sehingga saya pun giat bekerja di kebun. Tidak tahunya itu pertanda bahwa anak dan cucu saya meninggal dunia,” jelas Suwardi.

Sempat Kerja, Sebelum Kabur

Sementara itu, data terhimpun mengatakan bahwa setelah membunuh korban dan anaknya pada Sabtu (12/1) pagi, pelaku sempat masuk kerja di sebuah bengkel las tak jauh dari rumahnya. Bahkan pelaku pun sempat pulang ke rumah pada sore harinya, sebelum akhirnya tahu bahwa polisi sedang mencarinya, dan akhirnya pelaku memilih kabur.

Terungkapnya keberadaan pelaku, setelah pengungkapan yang dilakukan oleh Polres Rejang Lebong dibantu oleh Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Bengkulu, serta Satuan Reskrim Polres Bengkulu. Dan diketahui bahwa saat itu pelaku lari ke arah Kota Bengkulu dan menginap di salah satu hotel di Kelurahan Penurunan Kecamatan Ratu Samban.

Dari sana, aparat kemudian melakukan penelusuran, namun belum membuahkan hasil lantaran pelaku sudah kabur. Aparat kemudian melakukan penyelidikan, dan diketahui bahwa pelaku memiliki pacar yang tinggal di Kelurahan Kampung Bahari Kecamatan Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu. Dari pacar pelaku inilah akhir aparat mengetahui bahwa pelaku melarikan diri ke Kabupaten Bengkulu Selatan (BS).

Dari hasil penelusuran yang dilakukan tim gabungan Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Bengkulu dan Satuan Reskrim Polres Rejang Lebong tersebut, diketahui pelaku berada di Hotel Andea Kota Manna pada Minggu (17/1) malam.

Selanjutnya Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Bengkulu AKBP Max Mariners, S.IK langsung menginstruksikan Kasat Reskrim Polres BS untuk melakukan pengepungan di hotel tersebut, hingga akhirnya pelaku berhasil ditangkap saat masih tertidur di dalam musala hotel.

Kapolres Rejang Lebong Tegaskan Tidak Ada Pemerkosaan

Selanjutnya menanggapi informasi yang beredar bahwa sebelum dibunuh oleh pelaku, korban dan anaknya terlebih dahulu diperkosa, dibantah oleh Kapolres RL AKBP Jeki Rahmat Mustika, S.IK. menurutnya dari hasil visum yang dilakukan pasca kejadian, tidak ditemukan tanda-tanda bekas sperma di tubuh korban.

“Tidak ada tanda-tanda korban diperkosa sebelum dibunuh, hal itu sesuai hasil visum yang sudah kita lakukan. Selain itu juga korban saat itu sedang dalam keadaan menstruasi, yang dibuktikan juga dari hasil pemeriksaan pada jenazahnya,” tegas Kapolres.

Lebih lanjut Kapolres mengatakan, pelaku terancam disangkakan dengan pasal berlapis, yakni pasal 365, 340, 338, 351 ayat 3 dan Undang-undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

“Namun sementara ini kita masih kenakan pasal 365 KUHP yakni tentang pencurian dengan pemberatan (Curat), karena mobil korban sempat dibawa kabur pelaku. Untuk pasal lain kemungkinan besar akan menyusul karena saat ini kita masih lakukan pemeriksaan intensif,” demikian Kapolres. (sly)

Berita Lainnya

Pelantikan Dewan Baru Kepahiang Diwarnai Insiden Mati Lampu

KEPAHIANG – Rapat Paripurna Istimewa Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Kepahiang Periode 2019-2024 digelar Sabtu (23/8) ...

error: Content is protected !!