Jumat , 26 April 2019
Home / Daerah / Bengkulu Selatan / Serobot Tanah, Mantan Kades Dilapor ke Polisi

Serobot Tanah, Mantan Kades Dilapor ke Polisi

TUNJUKAN: Kades Jeranglah Tinggi Pindri bersama perangkat sedang menunjukan tanah yang diserobot oleh warganya, kemarin (18/1).

MANNA  – Sengketa masalah tanah kerab terjadi. Seperti terjadi di Desa Jeranglah Tinggi, Kecamatan Manna, lapangan sepakbola diserbot oleh warga. Tak terima lapangan mili desa diserobot, Kades Jeranglah Tinggi Pindri lapor polisi. Diduga yang menyerobot adalah mantan kades dua periode Jeranglah Tinggi, Rustam Effendi.

Dikatakan Pindri, lapangan bola yang berlokasi tepat di depan kantor desanya dengan luas lebih kurang 1 hektare, sepertiganya  diklaim oleh Rustam Effendi adalah miliknya.

Atas masalah ini, Pindri, selaku Kades tak terima lantaran tanah tersebut adalah milik seluruh warga desa Jeranglah Tinggi. Bukan milik pribadi perorangan. Termasuk Rustam Effendi yang ngotot dan telah memagar lapangan bola itu, Kamis kemarin (17/1).

“Sebelumnya kami pernah rapat bersama seluruh warga untuk membuat surat tanah atas nama desa. Dalam rapat itu tidak ada kompalain dari seluruh warga. Artinya mereka setuju. Tapi tiba-tiba usai rapat Rustam mengklaim sepertiga tanah itu miliknya,” terang Pindri.

Jadi Pindri akan musyawarahkan lagi bersama warganya untuk meminta pendapat. Bila seluruh masyarakatnya setuju sepertiga tanah direlakan untuk Rustam Effendi dan  bila tidak setuju, perkara ini akan dilaporkan ke pihak berwenang dengan tuduhan Rustam Effendi telah menyerobot tanah milik warga bersama.

“Tapi saya yakin seluruh warga kami tidak akan setuju diberikan pada Rustam sepertiga lapangan ini, karena bukti bahwa tanah itu miliknya tidak kuat,” ungkap Pindri.

Sementara Rustam Effendi saat dikonfirmasi di rumahnya,  mengatakan sepertiga lapangan sepakbola itu benar miliknya, yang dibeli dari salah seorang warga Jeranglah Tinggi yang bernama Rasim. Tetapi kini yang bersangkutan telah wafat.

“Tanah itu milik saya. Yang saya beli dari Rasim tahun 1986 dengan harga Rp 50 ribu. Dan bukti serah terimanya ada dengan saya walapun tidak terlalu lengkap,” tegasnya seraya menunjukan secarik kertas bukti pembelian tanah.

Ditambahkannya, sampai kapanpun ia tidak akan pernah rela tanahnya diatas namakan milik warga desa Jeranglah Tinggi. “Saya paham betul masalah tanah di desa ini sejak saya masih menjadi kepala desa tahun 1986 dulu,” bebernya.(tek)

Berita Lainnya

Gusnan: Penuhi Kebutuhan PAUD

KOTA MANNA – Dukungan pemerintah desa (Pemdes) sangat dibutuhkan dalam kualitas Pendidikan Anak Usia Dini ...

error: Content is protected !!