Selasa , 25 Juni 2019
Home / Berita utama / Wanita Malam dan Miras di Karaoke Family

Wanita Malam dan Miras di Karaoke Family

Tim investigasi RB mencoba melusuri laporan masyarakat terkait desas-desus adanya karaoke family menyediakan wanita panggilan dan minuman keras untuk tamunya. Sebagaimana namanya, karaoke family adalah tempat karaoke yang “ramah” untuk keluarga atau rekan. Berikut laporannya.

Malam pekan lalu sekitar pukul 00.00 WIB RB mencoba mendatangi sebuah tempat karaoke keluarga yang ada di kawasan Penurunan Kota Bengkulu, AT (Inisial). Saat tim RB tiba di lokasi tersebut, parkiran karaoke itu terlihat penuh dengan kendaraan. Ini menandakan kalau sedang banyak tamu datang.  Aktivitas di dalam karaoke itu juga masih terlihat ramai oleh para pengunjung.

Setibanya RB di AT dan memarkirkan kendaraan RB, kemudian langsung menghampiri pos security yang berada di sisi kanan gedung. “Bang ada PL (pendamping lagu),” tanya RB pada pria berpakaian safari lengan panjang berwarna gelap tersebut.

Tak canggung-canggung, security itu langsung mengiyakan permintaan RB. “PL. Abang pesan room (nomor,red) berapa. Nanti kalau abang sudah pesan room nanti kita bantu cari (PL),” terangnya.

Setelah mendapatkan keterangan tersebut, RB kemudian langsung menuju ke meja resepsionis. Untuk memasan room karoake. Setelah memastikan room masih tersedia, RB kemudian memastikan kembali pada respsionis apakah menyediakan PL untuk mendampingi bernyanyi. “Kalau kami tidak menyediakan PL. Tapi kalau mau kita akan bantu cari. Satu jamnya Rp 100 ribu,” terang resepsionis itu.

Dia menjelaskan, kalau PL tidak bisa memilih, karena mereka hanya dipanggil saja. Dalam artian tidak bekerja di AT. Kalau ada tamu memesan kemudian mereka dipanggil. “Ya tidak tahu dari mana. Nanti mereka langsung masuk,” katanya.

Setelah memesan room, kemudian RB langsung diantar menuju room yang sudah disepakati. “Mbak kalau di sini ada jual minuman alkohol,” tanya RB.

Saat ditanya seperti itu resepsionis mengatakan kalau di AT hanya menyediakan minuman jenis bir saja. Bir Bintang dan Guinnes (alkohol 5-7,5 persen). “Kita hanya sediakan bir saja. Kalau tidak salah Rp 50 per botolnya,” terangnya.

Memang benar, setelah tak berapa lama RB berada di room karaoke tersebut, kemudian masuk seorang wanita pendamping lagu. Menggunakan pakaian dress namun memiliki atasan yang sedikit terbuka. Selang tak berapa lama kemudian datang empat wanita penamping lagu lainnya. Beberapa diantaranya menggunakan celana di atas lutut. Dia menjelaskan kalau tidak bekerja di AT. Hanya datang jika ada yang memesan. “Tidak bang tidak bekerja di sini,” terangnya.

Begitu juga dengan pesanan minuman bir, tak berapa lama juga tiba dibawakan oleh waitress. Satu botol minuman bir putih merek Bintang dengan kadar alkohol 5 persen dan bir hitam merek Guinnes dengan kadar alkohol 7,5 persen. Pada waitres, RB kemudian memancing lagi untuk memesan minuman yang memiliki kadar alkohol tinggi, seperti black label (BL). Waitres itu mengatakan tamu bisa memesan BL. Harga yang diberi untuk perbotol Black Label tersebut Rp 400 ribu. Minuman itu dipesan dari luar. Masuk ke room karaoke tidak dikenakan uang cass atau uang tambahan. “Tidak di cass lagi bang,” kata waiters ini.

Setelah dicek BL kosong. Ia pun menawarkan miras merek lain; Blanco Rum. Minuman keras pun tiba, namun yang tiba. Dengan kadar alkohol 40 persen. Per botol minuman ini Rp 500 ribu. Untuk memesan minuman ini waitress meminta uang di depan. Karena menurutnya BL di beli di luar. Setelah minuman ini tiba, kemudian datang waitress lainnya membawakan teko yang berisikan air sirup rasa melon. Waitress tersebut bertugas untuk meracik minuman Blanco Rum tersebut ke dalam teko yang sudah disediakan.

Para wanita pendamping lagu ini juga tidak canggung-canggung bersikap di dalam ruangan itu. Mereka bernyanyi dan juga minum, minuman yang telah dipesan tersebut. Setelah selesai, para pendamping lagu ini meminta uang cass sebagai jasa sudah menemani bernyanyi. Per orangnya per jamnya Rp 100 ribu. Mereka meminta dibayarkan langsung pada mereka, tidak melalui kasir. Sedangkan biaya room karaoke dan minuman bir dibayar melalui kasir.

RB juga mencoba untuk membandingkan dengan salah satu karaoke keluarga yang ada di Kota Bengkulu yakni MP. Di sini RB mencoba untuk mengorek keterangan dan beberapa petugas parkir. Secara mengejutkan salah seorang petugas parkir yang biasa disapa Mami mengatakan kalau dia bisa mendatangi wanita PL untuk pelanggan. Harganya Rp 100 per jam untuk jasa satu orang PL. Mami itu pun kemudian menelpon beberapa nomor PL yang sudah tersimpan di handphonenya itu. “Nanti saya langsung antarkan ke room karaoke abang,” katanya. Ia juga menuturkan, bisa memfasilitasi membeli miras. Termasuk BL.

Dia kemudian mempersilahkan untuk RB memasan room terlebih dahulu. RB kemudian mendatangi resepsionis di karaoke tersebut. Kemudian memasan room untuk karaoke selama satu jam. RB juga mengorek ke resepsionis apakah menyediakan wanita PL dan alkohol. Namun resepsionis menjawab kalau mereka tidak menyediakan keduanya. “Kami tidak menyediakannya pak,” katanya.

Setelah masuk ke room karaoke dan bernyanyi sejenak, benar saja Mami kemudian membawakan dua orang pendamping lagu ke room karaoke yang dipesan RB. Mami meminta uang Rp 50 ribu untuk membayar ongkos ojek online yang digunakan PL tersebut datang. Namun, ternyata itu hanya modus mami saja minta uang pada tamu. Sebab PL tersebut membawa mobil sendiri.

Sementara itu Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Mitrul Ajemi mengatakan, di Kota Bengkulu tidak boleh menjual miras. Baik itu caffe karaoke dan sejenisnya, sudah ditegaskan dalam lembar tanda daftar usaha perdagangan (TDUP) kalau mereka tidak diperbolehkan menjual alkohol. “Yang namanya alkohol berapapun kadarnya tidak boleh dijual. Sebab kita tidak pernah mengeluarkan izin alkohol,” katanya.

Dia menjelaskan, yang boleh menjual alkohol itu hanya hotel berbintang saja. “Itu pun kalau mereka mendapatkan izin,” katanya.

Baik itu karaoke ataupun karaoke family tidak boleh menjual minuman berakohol karena Pemda Kota Bengkulu tidak mengeluarkan izin jual beli alkohol. “Ya tidak boleh,” terangnya.

Terkait dengan wanita pendamping lagu, boleh saja disediakan. Namun benar-benar mendampingi tamu untuk bernyanyi. Tidak boleh berbuat asusila. Tentu saja pakaiannya harus diatur yang sopan, tidak boleh menggunakan pakaian minim. “Jadi tidak boleh menggunakan pakaian yang minim,” terangnya.

Sebenarnya usaha karoake bisa benar, sepanjang manajemennya menaati aturan yang sudah diatur pemerintah. Ada dinas teknis yang mengaturnya. Artinya karoeke ini diawali Dinas Pariwisata mengeluarkan rekemondasi ke dinas perizinan dengan catatan-catatan tidak boleh menjual minuman keras dan menyediakan tempat asusila. “Kalau dilanggar kami sebagai penegak perda akan menindak,” terangnya.

Sementara itu Ketua Badan Legislasi DPRD Kota Bengkulu Kusmito Gunawan, MH mengatakan untuk minuman keras atau minuman berakohol sudah ada Perda yang mengaturnya. Yakni Perda Nomor 03 tahun 2016 tentang Pengendalian  minuman beralkohol (Mihol). Isinya bahwa minuman keras ini berdasarkan peraturan Menteri Perdagangan harus diatur peredarannya. Sehingga pada prinsipnya dibuat dalam 4 golongan A sampai D sesuai dengan kadar alkohol. Penggolongan ini juga disesuaikan dimana bisa membeli dan siapa yang bisa membeli.

Kemudian contohnya minuman berakhol tingkat tinggi 30-40 persen ke atas hanya boleh dijual di restoran berbintang. Dengan kriteria yang membeli harus tamu di tempat. Intinya tidak boleh lagi dijual di tempatt-tempat umum. Kalau di tempat karaoke sepanjang karaoke ini mendapatkan izin minuman berakhol dan minuman berakholo ini ditentukan perda ini sendiri. “Pelaksanaan di perda ini kan umum, ini tinggal pelaksanaan di tingkat Perwalnya dan disonding dengan Dinas Pendapatan,” katanya.

Kalau di karaoke keluarga atau family ini tidak boleh menjual bir atau minuman berakohol. Katagori keluarga itu tidak boleh menjual minuman berakohol itu. Salah satu yang diperbolehkan itu tempat hiburan yang memiliki mini bar. Kalau yang di karoake keluarga tidak boleh menjual miras. “Intinya pengendalian ini dalam rangka untuk tidak dijual bebas. Tidak siapa saja bisa beli. Tidak warung apa saja bisa jual itu. Ini tidak boleh sehingga dikendalikan,” katanya.

Pelanggaran atas ini, ada sanksi secara administrasi yakni pencabutan izin. Kemudian ada denda Rp 50 juta bagi pelanggarannya. “Yang jelas sanksinya itu ada pencabutan izin operasi. Atau seandainya akibat pelanggaran itu menimbulkan unsur pidana seperti pembunuhan, ini ada sanksinya,” tutupnya.

Kemarin (27/1) RB juga menyambangi lokasi karaoke AT untuk bertemu dengan owner atau asisten manager di sana sekitar pukul 16.15 WIB. Namun kedua-duanya sama-sama tidak berada di lokasi. Salah satu karyawan perempuan di kasir mengatakan kalau asisten manager sedang sakit sedangkan owner sedang keluar. Sayangnya tidak ada karyawan yang bersedia memberikan nomor handphone pimpinan di sana yang bisa dikonfirmasi.

“Kami tidak punya nomor atasan mas, lagi pula walaupun ada kami tidak berani memberikan nomornya kepada orang lain. Begini saja, saya catat nomor mas, nanti kalau atasan kami datang kami sampaikan dan berikan nomor handphone mas kepadanya,” ujar karyawan itu sembari mencatat nomor RB. Hingga tadi malam belum ada pihak Karaoke AT yang memberikan konfirmasi.

Ditanya mengenai aturan membawa miras dan PL di karaoke AT, karyawan tersebut tersenyum sembari mengatakan bahwa sudah ada kertas yang bertuliskan aturan bahwa pengunjung tidak boleh membawa miras dan perusahaan tidak menyediakan miras termasuk PL.

“Lihat saja pengumuman di luar itu mas, baca sendiri. Disana sudah tertulis tidak boleh membawa miras, wanita PL. Kami juga tidak menyediakan itu. Selain itu juga dilarang membaca senjata tajam, senjata api, narkoba,” jelasnya yang kemudian sibuk melayani pengunjung tamu yang datang untuk karaoke.

Selanjutnya RB mencoba untuk menemui owner atau asisten manager di lokasi karaoke MP dengan mendatangi lokasi sekitar pukul 13.30 WIB untuk konfirmasi. Namun sayangnya asisten manager dan owner sedang tidak berada di tempat.

Salah satu petugas security mengatakan kepada RB bahwa “bos” sedang keluar dan tidak tahu jam berapa akan kembali. “Biasanya sore-sore begini bos datang. Tapi yang jelas sekarang beliau tidak ada di sini. Kalau mau menunggu silakan,” ujar security berpakaian hitam tersebut.(tim)

Berita Lainnya

13 Jembatan Butuh Perbaikan

BENGKULU –  Bencana banjir dan longsor beberapa waktu lalu masih menyisakan persoalan di Kaur dan ...

error: Content is protected !!