Sabtu , 21 September 2019
Home / Opini / Mengurai Potensi Tingkat Partisipasi Pemilu 2019

Mengurai Potensi Tingkat Partisipasi Pemilu 2019

 

*Oleh :Sumargiono, SKom., M.Sos.

Memasuki tahun 2019, dinamika politik semakin memanas. Kedua kubu saling menunjukkan strategi politik dalam meraih simpati publik. Gerakan kampanye turun ke jalanpun semakin terlihat, dibungkus dengan pencitraan politik saling menyerang satu sama lain demi meraih dukungan menuju akhir pertarungan hajat demokrasi 17 April 2019 mendatang. Situasi politik di tingkat grassroot terbelah kedalam kedua kubu. Pendukung Capres-Cawapres, Joko Widodo-Ma’ruf Amin bersama Tim Kampanye Nasional (TKN) dengan Nomor Urut 01 dan Capres/Cawapres, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersama Badan Pemenangan Nasional (BPN) dengan Nomor Urut 02. Pertarungan opini sangat terasa kontras terjadi baik di media mainstream maupun di media sosial. Argumentasi yang saling menyerang seakan tidak kunjung selesai.
Kondisi dinamika politik tersebut telah mempengaruhi partisipasi publik dalam proses demokrasi, baik secara aktif maupun tidak demi menggiring kepentingan dukungan politik. Hal tersebut telah membentuk militansi partisipan politik dalam mendukung salah satu calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2019. Secara terminologi partisipasi berasal dari bahasa latin, namun dalam bahasa bahasa inggris, partisipate atau participation berarti mengambil bagian atau peranan. Jadi partisipasi berarti mengambilperanan dalam aktivitas atau kegiatan politik negara.
Keikutsertaan masyarakat dalam proses politik tidaklah hanya berarti mendukung keputusan atau kebijakan yang telah digariskan oleh para pemimpinnya, karena kalau ini yang terjadi maka istilah yang tepat adalah mobilisasi politik. Partisipasi politik adalah keterlibatan warga dalam segala tahapan kebijakan, mulai dari sejak pembuatan keputusan sampai dengan penilaian keputusan, termasuk juga peluang untuk ikut serta dalam pelaksanaan keputusan.
Mengutip istilah dari Charles Andrian–James Smith, partisipasi politik dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama partisipasi aktif, yaitu orang-orang yang memilki minat terhadap politik. kelompok tersebut memandang politik sebagai sesuatu yang penting dan sering melakukan diskusi politik dengan komunitasnya, namun tidak terlibat atau tidak aktif dalam organisasi sosial. Kedua, partisipasi aktif, adalah orang-orang yang aktif dalam organisasi sosial. Sementara kelompok ketiga, adalah orang-orang yang ikut dalam demonstrasi, menandatangani petisi, atau melakukan boikot.
Dari ketiga kelompok tersebut dapat dilihat bahwa seberapa besar partisipasi politik masyarakat dalam Pemilu dapat dijadikan indikator seberapa berhasil penyelenggara Pemilu dalam melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam demokrasi hal tersebut menunjukkan indikator keberhasilam dalam penyelenggaraan Pemilu.
Secara historis partisipasi politik masyarakat dalam Pemilu menunjukkan angka fluktuatif dari periode ke periode. Periode orde lama, baru sampai kepada orde reformasi. Pasca-reformasi, Pemilu 1999 tingkat partisipasi memilih 92,6 persen dan jumlah Golput 7,3 persen. Angka partisipasi yang memprihatinkan terjadi pada Pemilu 2004, yakni turun hingga 84,1 persen dan jumlah golput meningkat hingga 15,9 persen. Pada Pemilu Legislatif tahun 2009 tingkat partisipasi politik pemilih semakin menurun yaitu hanya mencapai 70,9 persen dan jumlah golput semakin meningkat yaitu 29,1 persen. Pemilu tahun 2014 tingkat partisipasi pemilih 75,2 persen. Sementara yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 24,8 persen.
Data lainnya, dikutip dari Kumparan.com angka golput menunjukkan peningkatan yang signifikan pasca reformasi. Tepatnya sejak Pemilu langsung dilaksanakan dalam kurun waktu tahun 1999-2015, angka statistik golput menyentuh angka 20-30 persen.

Masih tingginya angka golput tersebut menunjukkan indikasi tingkat partisipasi masyarakat terhadap proses demokrasi cenderung apatis terhadap proses politik. Faktor lainnya, tingginya angka golput juga dilatarbelakangi oleh rasa kekecewaan publik. Seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin bahwa salah satu faktor yang dapat membuat pemilih tidak menggunakan suaranya adalah rasa kecewa kepada kandidat yang ada dan lain sebagainya. Pemilu 2019 mendatang jumlah kelompok golput berpotensi terus meningkat. Tren tersebut dapat terjadi seperti pada kasus Pilpres 2014. Data menunjukkan jumlah golput dari 48,3 juta orang pada Pilpres 2009 naik menjadi 58,9 juta orang di pilpres 2014.Golput sebagai wujud apatisme politik merupakan tindakan seseorang memilih untuk tidak memilih hanya karena tidak peduli pada situasi politik. Hal ini tentu sangat merugikan proses demokrasi.
Target KPU di Pemilu 2019 seperti yang dikatakan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman, tingkat partisipasi pemilih sebesar 77,5 persen. Angka tersebut masih realistis, namun masih tersisa sebanyak 22,5 persen artinya seperempat keseluruhan penduduk Indonesia berpotensi golput atau tidak menggunakan hak pilih suara. Hal ini lah yang harus diantispasi semua elemen mayarakat berkepentingan.
Meskipun memilih adalah hak, hak tersebut dapat menjadi kewajiban jika dibutuhkan untuk mewujudkan kebaikan bersama dalam masyarakat demokratis. Artinya pilihan politik justru merupakan bagian penting dalam menentukan arah kebijakan politik, karena setiap individu-individu pemilih berkontribusi dalam menentukan arah kebijakan politik dalam satu periode kedepan. Sumbangsih suara kita berarti telah memberikan kontribusi hak pilih suara dalam menentukan perbaikan bangsa yang dipercayakan kepada pemimpin pada masa mendatang. Semoga Pemilu 2019 partisapasi masyarakat pemilih melebihi yang ditargetkan KPU untuk terpilihnya keterwakilan anggota DPR D TK I, DPRD TK II, DPRI, DPD RI dan pemimpin nasional yang bisa bersinergi dalam mensejahterakan rakyat dalam 5 tahun kedepan. (**)

Berita Lainnya

Formula Efektif Dana Kelurahan Bagi Pemberdayaan Masyarakat  

Dr. Fitriani Badar, AP. M.Si* I PENDAHULUAN Konsep pemberdayaan mencerminkan paradigma pembangunan yang bersifat people ...

error: Content is protected !!