Senin , 27 Mei 2019
Home / Daerah / Bengkulu Utara / Pemkab Dukung Pembukaan Tambang Batu Sungai

Pemkab Dukung Pembukaan Tambang Batu Sungai

EKSPOSE: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bengkulu Utara (BU) melakukan ekspose soal tambang yang ditolak petani Kecamatan Tanjung Agung Palik, tanpa dihadiri petani, kemarin (1/2).

ARGA MAKMUR – Jika sebelumnya Pemkab Bengkulu Utara (BU) terutama Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP), menolak keberadaan tambang batu sungai Desa Sengkuang yang dilakukan PT Ferto Rejang dan PT Pulau Batu Intan (PBI), kini sepertinya Pemkab berbalik arah mendukung keberadaan tambang yang diprotes petani.

Bahkan,  kemarin (1/2) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) BU menggelar pertemuan dan ekspose dengan penambang bersama Dinas TPHP beserta jajaran OPD terkait. Anehnya, Kelompok Tani (Poktan) yang menolak keberadaan tambang dan melakukan demo justru tidak diundang dalam acara tersebut.

Kepala TPHP BU, Kuasa Barus, SP menerangkan jika dari ekspose pengusaha tentang aktivitas tambang tidak akan ada dampak pada irigasi dan bendungan yang mengairi sawah petani. Meskipun sebelumnya ia mengungkapkan jika dampak pasti akan terjadi paling lama tiga tahun terhitung penambangan.

“Sebelumnya kita belum tahu, setelah ekpose ini kita baru tahu. Tidak akan ada dampak pada irigasi dan bendungan, hanya kurang komunikasi antara petani dan penambang yang menyebabkan ketakutan,” katanya.

Sementara itu, Kepala DLH BU, Ir. Alfian, MM menerangkan, sengaja tidak mengundang petani dalam pertemuan tersebut lantaran agendanya hanya ekspose antara perusahaan dengan Pemkab. Ia meminta kecamatan kembali melakukan ekspose yang sama dengan mengundang Dinas ESDM Provinsi.

“Nanti akan kita lakukan pertemuan dengan kelompok tani sehingga bisa dijelaskan,” ujarnya.

Sementara, Tim Teknis PT PBI, Hairam menerangkan, mereka hanya akan melakukan  penggalian dengan kedalaman 1 sampai 1,5 meter. Itupun dilakukan pola penimbunan setelah penggalian dilakukan.

Mereka juga menuturkan jika tidak mungkin menghentikan aktivitas terlalu lama seperti keinginan petani. Hal ini bisa menyebabkan kerugian perusahaan. “Kalau kami berhenti terlalu lama, maka kami merugi. Karena ada sewa alat dan biaya lainnya yang seharusnya dibayar dari biaya produksi,” jelas Hairam.

Sekadar mengingatkan, seminggu lalu 100 petani Desa Tanjung Agung, Sengkuang, Lubuk Pendam dan Alun Dua melakukan aksi demo di lokasi tambang. Hal ini lantaran tambang kembali beroperasi dan petani khawatir aktivitas itu merusak bendungan dan irigasi yang mengairi 280 hektare sawah petani. (qia)

Berita Lainnya

Pasar Murah LPG 3 Kg Sepi Peminat

ARGA MAKMUR – Berbeda dengan Operasi Pasar (OP) yang sebelumnya dilakukan di Bengkulu Utara (BU) ...

error: Content is protected !!