Jumat , 20 September 2019
Home / Berita utama / Pasal Handphone Pakai Kata Sandi, Suami Nekat Bunuh Istri Saat Hamil

Pasal Handphone Pakai Kata Sandi, Suami Nekat Bunuh Istri Saat Hamil

PEMBUNUH : Inilah Romi (30), suami bejat yang tega membacok leher istri yang sedang hamil tua sekaligus membelah perutnya.(foto : ekky/rb)

BENGKULU – Romi Sepriawan (30) pedagang cabai yang tinggal di Jalan Irian Gang Lambau III RT 4 RW 1 Kelurahan Tanjung Jaya Jumat (22/2) meceritakan langsung latar belakang penyebab dirinya sampai membunuh sang istri yang sedang hamil tua. Dia merasa ada yang mempengaruhi dan mengendalikan dirinya di saat emosi sedang memuncak.

Sebagaimana dilansir sebelumnya bahwa tersangka kasus pembunuhan ini menghabisi nyawa istrinya Erni Susanti (29) yang sedang hamil tua (usia 9 bulan). Ia membacok leher dan membelah perut istrinya mengeluarkan bayi di dalamnya. “Kami sejak 4 bulan terakhir memang sering ribut, dia (korban) setiap saya ngomel tidak pernah peduli. Langsung masuk kemar. Itu yang bikin saya emosi,” ujar tersangka.

Tersangka tidak menampik kalau puncak kejadian berdarah tersebut diawali masalah handphone. Sebab handphone korban sering berbunyi. Saat tersangka ingin melihat handphone tersebut, korban tidak mau. Lagipula, handphone tersebut menggunakan kode yang hanya korban sendiri yang bisa membukanya.

“Jadi HP dia itu pakai kode. Saya bilang kenapa HP nya bunyi terus. Dan kenapa harus pakai kode. Dia jawab tidak ada apa-apa. Kadang setiap saya tanya jawabannya selalu memancing emosi. Tapi bagaimanapun, kalau sudah seperti ini sayalah yang bersalah. Entah cakmano, payahlah menjelaskannya, seperti ada yang mempengaruhi dan mengendalikan,” tutur tersangka.

Masih keterangan tersangka, bahwa dirinya membelah perut korban semata-mata untuk menyelamatkan anaknya (bayi) di dalamnya yang merupakan darah dagingnya sendiri. Ia baru sadar kalau istrinya sedang mengandung anaknya setelah sebilah parang merobek leher sang istri. Saat itu pun, sang istri (korban) masih sempat mengingatkan dengan memberikan kode.

Saat itu, korban dengan sisa-sisa tenaga dengan lirikan matanya mengisyaratkan atau memberi kode ke arah perut. Tersangka langsung membelah perut korban dan mengeluarkan bayi laki-laki yang berlumuran darah. Dengan parang itu juga, tersangka langsung memutuskan tali pusar si bayi. Kemudian bayi tersebut digendongnya dan diletakkan di dekat jendela dalam kondisi menangis.

“Setelah saya potong lehernya pakai parang, dia kasih kode anak sambil matanya melihat kearah perut. Saya belah saya keluarin anak saya,” kata tersangka.

Sementara itu Kapolres Bengkulu AKBP. Prianggodo Heru Kun Prasetyo, S.IK Jumat (22/2) menggelar konfrensi pers terkait kasus pembunuhan itu. “Jadi setelah menggorok leher korban, tersangka menyayat perut korban mengeluarkan bayi. Kemudian tersangka memotong tali pusarnya dan menggendong bayi memindahkannya ke ruangan lain dekat jendela. Untuk tersangka ini akan kita periksakan juga kejiwaannya,” terang Heru.

Untuk diketahui bahwa korban telah dimakamkan di TPU kelurahan Sawah Lebar Ujung oleh orangtuanya yang tinggal di Jalan Meranti 1 RT 9 RW 2 Kelurahan Sawah Lebar. Kemarin RB menyambangi kediaman rumah orangtua korban. Tampak Ketua RTY 9, Zainal Suud sedang berbincang dengan pihak keluarga korban. Menurut keterangan Zainal, korban (Erni) dan pelaku (Romi) sering berkunjung ke rumah ibu korban atau mertua pelaku, bahkan pernah menginap. Namun selama ini, kata Zainal bahwa tersangka bersikap sopan, ramah dan baik.

“Kalau setahu saya, beberapa kali dia (tersangka) ke sini sikapnya santun dan ramah. Makanya kami tidak menyangka, di balik kesantunannya itu ternyata…,” ujar Zainal sembari mengatakan bahwa Erni dan Romi dulu melangsungkan acara pesta pernikahan di rumah orangtua korban yakni Sarno (60) dan Rafia (55).

Sementara itu, paman korban bernama Amran (42) berharap tersangka mendapatkan hukuman yang setimpal. “Kalau maunya saya, dihukum mati saja. Nyawa dibayar nyawa. Paling tidak hukuman seumur hidup,” kata Amran yang dari wajahnya masih tampak kesedihan.

Dikatakan Amran, keponakannya itu (korban) menikah dengan tersangka 5 tahun yang lalu. tersangka sendiri sebenarnya waktu itu berstatus duda karena sudah pernah menikah. “Sebelum menikahi keponakan saya, dia sudah pernah menikah dan kabarnya istri pertamanya meninggal saat melahirkan,” kata Amran.

Ia melanjutkan bahwa sebelum kejadian itu, korban sering cerita kalau dirinya sering dianiaya oleh suaminya (tersangka) seperti sering dipukul bahkan pernah diinjak-injak saat sedang jualan cabai di Pasar Minggu. “Saya sudah berapa kali mendamaikan mereka. Sering dia ngaku dipukul oleh si Romi itu. Keponakan saya pernah diinjak-injak oleh dia di pasar,” demikian Amran.(tew)

Berita Lainnya

Tiga Kali Imam Nahrawi Mangkir dari Panggilan KPK

JAKARTA – KPK kembali melayangkan surat panggilan ke Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi ...

error: Content is protected !!