Jumat , 28 Februari 2020
Home / Daerah / Bengkulu Tengah / Dibelit Kemiskinan, Jauh dari Jamsos

Dibelit Kemiskinan, Jauh dari Jamsos

MISKIN: Inilah rumah yang dihuni Sunaryo bersama istri dan dua anaknya. (foto: fintah/rb)

BENTENG –  Sunaryo (60) Warga Dusun III Desa Kembang Seri, Kecamatan Talang Empat hidup serba kekurangan bersama istrinya Maryanti (31).  Gubuk kecil, berdinding papan dan berlantai tanah jadi tempat tinggal sehari-hari. Dua buah hatinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut merasakan getirnya kehidupan.

Kondisi ekonomi Sunaryo tergolong memprihatinkan. Sebab dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Hanya bekerja serabutan, ketika ada tetangga yang membutuhkan tenaganya. Dengan kondisi seperti itu, desakan ekonomi kerap dirasakan keluarga tersebut.

Ditambah lagi, keluarga Sunaryo belum terjamah program jaminan sosial (jamsos) pemerintah. Otomatis tidak satu bantuanpun yang pernah didapatkan untuk membantu kehidupan keluarga ini. “Kami tidak tahu harus menyampaikan kemana,” terang Sunaryo saat berkunjung di kediamannya Kamis (28/2).

Sunaryo berharap dapat bantuan dari pemerintah seperti warga miskin lain membantu mereka bertahan. Sunaryo tahu pemerintah memiliki program keluarga harapan (PKH), kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan program bedah rumah untuk warga kurang mampu.

Seperti program bedah rumah tahun lalu, dia hanya bisa melihat saja rumah warga lain dibedah. Padahal, rumah tempat tinggal mereka ini sangat layak dibedah. Jika hujan, lantai tanah rumah itu basah oleh air hujan lantaran atap sudah banyak bocor. “Rumah yang saya huni di atas lahan sendiri,” kata Sunaryo.

Sunaryo menilai sangat butuh bantuan pemerintah. Termasuk bantuan biaya pendidikan dua anaknya. “Karena tidak punya uang sering terlambat bayar kebutuhan sekolah,” tuturnya.

Kadis Sosial Benteng, Lili Trianti S.Sos mengaku sudah dapat laporan kondisi Sunaryo dan keluarganya. “Semaksimal mungkin akan berupaya membantu,” katanya singkat.

Di tempat terpisah  Wakil Bupati Benteng Septi Peryadi, S.TP, mengatakan kondisi keluarga Sunaryo sangat memprihatinkan. Namun, penerima bantuan jaminan sosial diputuskan pemerintah pusat.

Diakui Septi, data penerima bantuan social masih menggunakan data tahun 2014 lalu. Inilah yang menimbulkan perdebatan mengenai penetapannya. Tak jarang menuai protes, kemudian pemkab yang disalahkan. Padahal, kewenangan penetapan warga penerima jaminan sosial, daerah tidak dilibatkan.

“Data lama mungkin saja sekitar 5 tahun lalu benar tergolong miskin. Dalam dua atau tiga tahun setelahnya ada banyak perubahan seperti yang mampu jadi miskin sebaliknya,” ujarnya.

Ini yang mungkin terjadi pada Sunaryo dan keluarganya. Sebab baru terdeteksi dalam 3 tahun terakhir. Ke depan, Septi mengaku siap membantu mengusulkan kembali warga yang berhak dapat bantuan sosial tersebut. “Data terbaru akan dimasukkan supaya bisa juga mendapatkan berbagai bantuan sosial,” demikian Septi.(vla)

Berita Lainnya

Sekolah Terdampak Bencana Diajukan Terima Bantuan

BENTENG – Kerusakan sejumlah mebeler di SMPN 16 Bengkulu Tengah, SDN 84 serta Pendidikan Anak …