Minggu , 18 Agustus 2019
Home / Breaking News / Pilgub 2020, Pastikan Jangan Salah Pilih Wakil, Politik Kesukuan Masih Menentukan

Pilgub 2020, Pastikan Jangan Salah Pilih Wakil, Politik Kesukuan Masih Menentukan

BENGKULU – Politik kesukuan di Bengkulu masih sangat kental. Pengamat Politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jakarta, Adriadi Achmad mengatakan, sejak pemilihan kepala daerah (Pilkada)  di Bengkulu, tidak bisa dipungkiri asal suku dan perpaduan suku dari pasangan calon mempengaruhi kemenangan.

Seperti Pilkada tahun 2010 lalu, dimana Agusrin berasal dari Suku Serawai berdampingan dengan Junaidi Hamsyah tokoh agama bersuku Rejang. Mereka mampu mengungguli pasangan lainnya. Kemenangan serupa dalam Pilkada tahun 2015 lalu, dimana Ridwan Mukti yang disebut mempunyai irisan suku Rejang dan wakilnya Rohidin Mersyah dari Serawai juga menang. “Perpaduan suku Rejang dan suku Serawai ini sangat dahsyat. Apalagi kalau sumber daya manusia dan juga finansial calonnya cukup kuat. Sebab saat ini kecendurangan seorang pemilih, memilih seseorang dilihat dari suku yang sama, agama yang sama, ras yang sama dan domisili yang sama,” terangnya.

Di Provinsi Bengkulu suku terbesar ada dua, yakni suku Rejang yang mencapai 20 persen dari jumlah penduduk. Kemudian kedua suku Serawai yang memiliki selisih jumlah yang sedikit dari suku Rejang . Suku Rejang tersebar di Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Tengah dan Bengkulu Utara. Kemudian Suku Serawai mayoritas berdomisili di Kaur, Bengkulu Selatan, Seluma dan ada juga di Kota Bengkulu. “Sehingga perpaduan dua suku ini sangat dahsyat,” terang penulis buku Politik Kesukuan dalam Pilkada (Bengkulu) ini.

Adriadi Achmad memprediksi akan ada lima calon yang muncul dalam Pilgub 2020 nanti. Diantaranya adalah Rohidin Mersyah, Gubernur Bengkulu sekaligus Ketua DPD Golkar Provinsi Bengkulu yang berasal dari suku Serawai.

Kemudian Helmi Hasan Ketua DPD PAN Provinsi Bengkulu yang juga Walikota Bengkulu. Helmi Hasan merupakan perantauan asal Lampung, namun memiliki istri suku Serawai. Kemudian ada Ferry Ramli, Bupati Benteng dua periode, Ketua DPW NasDem Provinsi Bengkulu asal suku Rejang. Kemudian ada Rosjonsyah Bupati lebong dua periode yang secara kepartian bergabung dengan PDI Perjuangan bersuku Rejang.  “Tapi Ahmad Hijazi ini saya nilai sulit untuk maju karena akan terganjal partai atau perahu. Paling banyak ada lima calon pasangan kalau itupun perahu partai mencukupi,” terangnya.

Namun informasi yang diperoleh RB, salah satu kandidat lagi yang diprediksi bakal bertarung. Yakni mantan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin yang belum genap dua periode memimpin Provinsi Bengkulu. Adriandi memprediksi asal kesukuan para calon gubernur ini tentu akan menjadikan pertimbangan mereka memilih wakil gubernur. Rohidin Mersyah tentu akan memilih wakilnya dari suku Rejang. Selain suku Rejang, ada faktor lain yang akan menentukan dia memilih suku Rejang ini. Pastinya adalah tokoh Rejang yang bisa mendongkrak elektabilitas dia. Yakni calon yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang baik dan juga memiliki finansial yang bagus.

“Orang Rejang yang berpotensi menjadi calon wakil gubernurnya adalah Muhammad Saleh. Bisa jadi Rohidin memilih Muhammad Saleh, itupun kalau dia mau jadi wakil Rohidin. Dia sangat cocok mewakili Suku Rejang dan Jawa. Sebab Ibunya Rejang Taba Penanjung dan bapaknya dari Jawa. Ini dahsyat perpaduannya. Siapapun yang bisa merangkul Muhammad Saleh akan dahsyat. Sebab perpaduan tiga suku besar,” terangnya.

Kemudian Helmi Hasan  akan memilih suku Rejang atau suku Serawai, sebab dia pendatang. Mengapa Helmi Hasan bisa terpilih menjadi Walikota padahal dia orang Lampung. Karena di Kota Bengkulu pemilihnya sudah rasional dan sudah plural. “Seperti Bang Kanedi dia orang Padang- Bengkulu-Serawai. Helmi Hasan tidak bisa klaim menang di Bengkulu bisa menang di Gebernur. Suku Rejang dan Serawai sangat cocok mendampingi Helmi Hasan,” katanya.

Ferry Ramli dan Rosjonsyah dari suku Rejang akan memilih suku Serawai. Calon lain seperti Eni Khairani perpaduan suku jawa dan serawai, cocok dengan calon gubernur dari Rejang. Ada juga Dewi Coryati Petahana DPR RI juga cocok mendampingi gubernur dari Rejang. Eni memiliki perahi dari PAN. Incumbent cukup lama di DPR RI. Kemudian dia berasal dari suku serawai, bisa saja Rosjonsyah dan Ferry Ramli memilihnya sebagai wakil.

“Di Rejang Lebong Dewi Coryati cukup terkenal. Ini bisa dilirik oleh Rosjonsyah dan Ferry,” terangnya.

Nama Rektor Unib Ridwan Nurrazi dari suku Rejang juga berpotensi menjadi wakil Gubernur. Dia bisa disandingkan dengan Rohidin. Selain itu juga ada nama Riri Damayanti senator muda asal suku Rejang yang bisa dilirik oleh suku Serawai. “Namun karir Riri jika mencoba masuk bursa Pilwagub akan ditentukan dalam pemilihan DPD nanti. Jika dia tidak terpilih lagi tentu tidak akan tamat,” terangnya

“Kalau saya lihat dan saya amati sejak tahun 2005 Pilkada perdana di Provinsi Bengkulu sampai Pilkada selanjutnya 2015 kemarin, saya lihat tidak pernah lepas dari politik kesukuan. Ini salah satu faktor pertama yang menentukan di Pilkada Bengkulu,” tambahnya.

Setelah reformasi 1998, dimana efek reformasi ini muncul otonomi daerah. Sehingga perubahan pola sentralitsik menjadi desentralistik. Pada tahun 1999-2004 MPR membuat amandemen undang-undang. Salah satu amandemen ini pemilihan presiden dan wakil presiden dan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah dilakukan secara langsung. Sehingga Pilkada langsung 2005 digulirkan.

“Di Pilkada Bengkulu 2005 salah satu factor munculnya beberapa calon, dari empat calon di 2005 ada empat calon gubernur yang berasal dari suku Serawai. Kemudian ada dua calon dari Suku Rejang. Jadi kedua kekuatan politik suku ini sangat menentukan. Calon berkeyakinan sukunya akan memilihnya tanpa harus bejanji berbuat apa,” terangnya.

Sejak 2005 suku Serawai tidak pernah absen dalam Pilkada Bengkulu. Kecuali tahun 2005 ada 6 calon di putaran pertama 4 calon berasal dari suku Serawai. Pertama Agusrin dari Serawai berpasangan HM Samlan. Kemudian, Muslihan DS dari suku Sunda berpasangan dari Patrice Rio Capela dari suku Rejang. Sudirman Ail dari suku Serawai berpasangan dengan Syahril AB, kemudian calon lainnya Salman Rupni dari suku Serawai. Kemudian ada ada Az. Rajawali orang Serawai. “Dari Suku Rejang juga ada Kurnia utama,” katanya

Tahun 2010 juga memunculkan beberapa calon seperti Agusrin dan Junaidi Hamsyah Serawai –Rejang BU. Saat itu Agusrin mulai memainkan perpaduan Serawai dan Rejang hasilnya sangat dahsyat. Sehingga dia memilih Junaidi, selain berlatar belakang ustad dia bersuku Rejang.

Begitu juga di Pilkada 2015, Ridwan Mukti suku Rejang walaupun dua kali menjabat bupati Musi Rawas berpasangan dengan Rohidin Mersyah suku Serawai. “Dia pulang kampung Bengkulu membangun Bengkulu tampil dengan perahu dan kekuatan finansial, dia pilih Rohidin Mersyah sebagai wakil. Tokoh yang cukup di kenal masyarakat Serawai sebagai orang yang berpendidikan, birokrat bersih, Wabup Bengkulu Selatan yang memang banyak direbut orang. Sehingga dia bisa menang,” terangnya.

Ketua DPW PKB Provinsi Bengkulu, Herlidaro mengatakan politik kesukuan memang menentukan dalam pilgub. Dalam pemilihan calon akan dilihat sukunya. Penggabungan dua suku dari pasangan calon itu akan menjadi faktor yang mempengaruhi hasil.  Tentu saja yang dicari adalah suku terbesar yang ada di Bengkulu. “Pengaruh suku itu memang ada tapi tidak bisa dipastikan untuk penentu secara keseluruhan,” katanya.

Dia menganologikan, kalau dirinya maju Pilgub, dia berasal dari suku Rejang. Tentu dia akan mencari data suku mana yang terbanyak setelah Rejang. Jika suku Serawai terbanyak, maka dia akan mencari calon dari suku Serawai yang memiliki kompetensi yang bagus. “Begitu juga jika suku Jawa ternyata terbanyak maka akan memilih calon dari suku Jawa,” terangnya.

Selain suku, jumlah kursi partai politik di DPRD Provinsi juga akan dipertimbangkan.  Jika PKB memiliki 4 kursi, tentu akan memilih partai politik lain yang cukup signifikan. “Ini akan sangat mempengaruhi,” ujarnya.

Selain suku dan partai, yang menjadi penentu kemenangan lain adalah organisasi tempat calon tersebut dibesarkan. Misalnya, calon tersebut berasal dari organisasi Nahdatul Ulama atau Muhammadiyah. Ini juga akan mempengaruhi pilihan dari pemilih. “Visi dan misi tentu yang utama akan dilihat. Kemudian dia berasal dari kelompok-kelompok atau  paguyuban mana,” tutupnya.

Sementara itu Ketua DPC Gerindra Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi mengatakan, kesukuan menjadi penentu kemenangan dalam Pilgub tidak selalu benar. Sebab, tergantung dengan tingkat pendidikan dan pemahaman publik soal demokrasi. “Jadi itu tidak selalu benar,” terangnya.

Dia mengatakan hal pertama yang dilihat adalah track record atau jejak rekam dari pasangan calon. Kemudian publik akan melihat yang kedua yakni popularitas dari pasangan calon itu. “Baru lihat kesukuannya,” tutupnya.

Aktivis Wahana Muda Indonesia Rahmat Saputra juga memiliki pandangan yang sama dengan Dedy Wahyudi. Bahwa kesukuan tidak menentukan segalanya. Yang pertama dilihat adalah rekam jejak, kemampuan dan juga popularitas. Ketika rekam jejak calon itu menunjukkan trend yang baik, dibuktikan dengan prestasi yang sudah ditoreh, maka pemilih akan lebih condong padanya. “Yang pertama itu rekam jejaknya. Ketika dinilai bagus oleh masyarakat tentu akan menjadi pertimbangan warga untuk menjatuhkan pilihan,” terangnya.

Kemudian setelah itu baru dilihat kesukuannya. “Kesukuan memang mempengaruhi tapi tidak dalam efek yang besar,” tutupnya.(del)

Berita Lainnya

Kembalikan Rumah Fatmawati ke Asalnya (2)

LOKASI rumah asli Ibu Negara Pertama, Fatmawati istri Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekano disebutkan ...

error: Content is protected !!