Rabu , 23 Oktober 2019
Home / Metropolis / 30 Tahun Tekuni Usaha, Omzet Rp 7-8 Juta Sebulan

30 Tahun Tekuni Usaha, Omzet Rp 7-8 Juta Sebulan

PELUANG BISNIS: Setti Pauli (70) menekuni usaha ternak jangkrik selama 30 tahun. Peluang bisnis ini di Kota Bengkulu masih cukup menjanjikan. (foto: bayu/mg/rb)

Usia senja tak menghalangi semangat Setti Pauli (70) untuk menekuni bisnis. Menariknya, bisnis yang ditekuninya bukanlah bisnis yang biasa dijalankan wanita pada umumnya. Ia memilih bisnis ternak jangkrik. Tidak seperti wanita lain yang merasa geli dan jorok untuk bersentuhan langsung dengan jangkrik, ia malah menjadikan hewan jangkrik ini sebagai ladang bisnis untuk membiayai kebutuhan keluarga.

BAYU ADI PUTRA WIJAYA, Bengkulu

BERKAT tekad yang kuat, kini ia sukses menjadi salah satu pengusaha jangkrik terbesar di Kota Bengkulu. Tante Setti (sapaan akrabnya), merintis usaha ternak jangkrik tersebut pada tahun 1980an di rumahnya yang pada awalnya terletak di Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu.

Bermula saat ia berlibur di Kota Jakarta. Saat itu ia pergi berkunjung ke rumah temannya yang di kawasan Kebon Jeruk yang ternyata memiliki bisnis peternakan jangkrik. Berawal dari hanya sekedar melihat ia pun tertarik dengan usaha temannya itu.

Awalnya Setti iseng membawa 1 kilogram telur jangkrik untuk dibawa dan dicoba dibudidayakan di Bengkulu, ternyata setelah 1 bulan telur itu menetas sebagian. “Saat itu bingung, saya hanya punya baskom untuk menampung jangkrik yang menetas,” jelasnya saat berbincang dengan RB, kemarin (4/3).

Naluri bisnisnya muncul, dari yang hanya sekedar iseng ternyata ia melihat itu sebagai peluang bisnis baru. Ia pun terus berkonsultasi dengan temannya yang ada di Jakarta, akhirnya ia bisa membesarkan jangkrik yang baru menetas tadi hingga siap untuk dijual.

Awal 3 tahun dalam beternak, Setti hanya memiliki 6 kotak kecil dangan ukuran 50 Cm X 80 Cm untuk menampung jangkrik. Tetapi semakin bertambahnya pencinta burung kicauan, ternyata semakin memberikan keuntungan tersendiri baginya. Hingga akhirnya ia memperbanyak kotak jangkrik hingga mencapai 50-an kotak berukuran kecil.

“Dulu saat permintaan semakin besar, hasil ternak belum bisa mencukupinya. Saya pun meminta bantuan teman yang di Jakarta untuk bisa membantu mengirim beberapa kilogram jangkrik,” terangnya.

Setti mengatakan, dulu saat tahun 1980-an harga jangkrik 1 ons bisa mencapai Rp 100 ribu, dan dalam 1 bulan ia bisa menjualnya hingga 30 Kg. Jadi bisa dibayangkan berapa hasil yang didapat dari penjualan pada saat itu.

Perlu diketahui saat ini jangkrik yang ia jual dibanderol dengan harga Rp 65 ribu per Kg, dan dalam 1 bulan ia bisa menjual hingga 120 Kg. Dalam sebulan omzet yang didapat bisa mencapai Rp 7-8 juta.

“Walaupun keuntungannya tidak seperti dulu, tapi ya saat ini masih bisa dikatakan tetap ada untungnya,” ungkapnya.

Diceritakan Setti, masa panen jangkrik itu saat umur 40 hari terhitung dari pertama kali ia menetas. Jadi sebisa mungkin jangkrik harus segera dikirim ke pelanggan. Jika tidak, jangkrik akan bersayap yang membuat orang tidak tertarik lagi untuk membelinya. Karena jika jangkrik yang sudah bersayap maka akan menyebabkan resiko terganggunya pita suara terhadap burung jika dipaksakan untuk dijadikan pakan.

Ternyata, perjalanan panjang bisnis Setti tidaklah selancar yang dibayangkan. Ia juga pernah merasakan gagal panen yang membuatnya sempat berhenti memasok jangkrik kepada pelanggannya. “Saat itu banyak telur yang tidak menetas karena cuaca yang panas, selain itu hama seperti cicak dan semut datang begitu banyak masuk ke dalam kotak-kotak jangkrik,” terangnya.

Berkat pengalaman gagal itu, lantas tidak membuat ibu dari 4 orang anak ini menyerah dan berhenti begitu saja. Bahkan saat tahun 2000, Setti yang sempat berpindah rumah ke Jl. Merawan 20 Kelurahan Sawah Lebar, semakin bersemangat dan jauh lebih  menguasai ilmu dalam beternak jangkrik. Bahkan dari hasil usahanya itu ia bisa selalu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sekarang, Setti tinggal berdua bersama dengan anak bungsunya yang bernama Ucok (34). Karena 3 orang anaknya yang lain telah berumah tangga dan tinggal di luar Kota Bengkulu bersama keluarganya masing-masing. Berkat konsistensinya selama lebih dari 30 tahun, sekarang usahanya menjadi salah satu peternakan jangkrik terbesar yang masih tetap bertahan hingga saat ini. (**)

Berita Lainnya

Pemerintah Kota Bagi-bagi Ambulance dan Mobnas

BENGKULU – Jelang tutup tahun anggaran 2019 yang tinggal dua bulan lagi, Pemerintah Kota (Pemkot) ...

error: Content is protected !!