Selasa , 22 Oktober 2019
Home / Daerah / Bengkulu Tengah / Pekerja Tetap Bertahan, Klaim Rugi Rp 520 M

Pekerja Tetap Bertahan, Klaim Rugi Rp 520 M

 

TENDA: Pekerja PT Bara Mega Quantum(BMQ) masih berada di areal tambang pascamenang di MA. (foto: fintah/rb)

BENTENG – Pemilik sah PT Bara Mega Quantum (BMQ) berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA), Nurul Awaliyah mengaku mengalami kerugian cukup besar akibat polemik klaim kepemilikan lahan pertambangan batu bara tersebut. Melalui Branc Manager PT BMQ Eka Nurdiyanti menyebutkan kerugian yang dialami mencapai Rp 520 miliar. Berasal dari aktivitas pertambangan yang dilakukan  oleh PT BMQ versi Dn selama 1,5 tahun belakangan. Dari hitungan mereka, produksi batu bara yang sudah diekspor senilai USD 43 juta.

“Untuk kerugian berdasarkan hitungan kami dari laporan royalty tambang di pusat, kegiatan yang dilakukan kubu Dn selama 1,5 tahun sudah mengekspor baru bara senilai USD 43 juta. Jika dirupiahkan senilai Rp 520 miliar,” terang Eka.

Kerugian yang dialami oleh PT BMQ ini, Eka memastikan akan menuntut ganti rugi. “termasuk menuntut kontraktor yang melakukan sub kegiatan pengambilan batu Bara di lokasi tambang ini,” kata Eka.

Eka menceritakan sebelumnya pernah melaporkan dugaan pemalsuan tandatangan Nurul Awaliyah di rapat perubahan akta perusahaan. Dengan terlapor Dn, Namun masalah itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sebab Dn mengajukan permohonan maaf. Namun kejadian serupa itu kembali terulang kedua kalinya, sehingga kembali dilaporkan ke Polda Bengkulu dan Mabes Polri. “Kali ini tidak ada ampunnya lagi,” terangnya.

Direktur Operasional PT BMQ yang mengelola lahan berdasarkan IUP PT BMQ, Indah Marvina menjelaskan mereka tetap terus mengelola. Karena sudah ada izin jelas dari beberapa instansi yang berwenang. Terkait putusan MA yang memenangkan Nurul Awaliyah sebagai pemilik PT BMQ mereka belum menghentikan aktivitas. Karena belum ada perintah penghentian produksi batu bara secara tertulis diterima pihaknya.

“Kalau ada negara menerbitkan perintah berhenti, kami akan berhenti produksi,” ujarnya.

Untuk nama yang mengelola pertambangan tersebut, Indah Marvina mengaku sesuai dengan legalitas perusahaan. “Kami tidak tidak pernah mengubah atau memalsukan dokumen apapun dalam perusahaan,” ujarnya.

Kemarin, pekerja dari PT BMQ versi Nurul Awaliyah masih berusaha mengamankan lokasi tambang dengan keluarnya putusan MA. Bahkan beberapa diantaranya mendirikan tenda untuk berjaga. Untuk menghindari potensi gesekan, TNI dan Polri berpakaian preman berjaga di lokasi tersebut. Mereka membaur bersama pekerja dari dua kubu yang bertikai. (vla)

Berita Lainnya

Badan Anggaran Dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah Mulai Bahas Kebijakan Umum Anggaran- Prioritas Plafon Anggaran Sementara

BENTENG – Badan Anggaran DPRD Benteng dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah, Selasa (22/10) mulai membahas ...

error: Content is protected !!