Minggu , 23 Februari 2020
Home / Probis / 99 Fintech Sudah Kantongi Izin OJK

99 Fintech Sudah Kantongi Izin OJK

JAKARTA – Hingga saat ini terdapat 99 perusahaan financial technology (fintech) yang sudah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sedangkan 117 fintech masih menunggu izin. Namun kehadiran puluhan fintech tersebut belum mampu menekan efisiensi biaya transaksi.

Pihak OJK menjelaskan alasan masih belum menerbitkan izin terhadap ratusan fintech lantaran tim OJK masih melakukan proses verifikasi dengan detail agar nantinya tidak menimbulkan masalah, dan merugikan masyarakat. “Sampai saat ini sudah ada 99 fintech yang mendapatkan izin dari OJK. Sisanya sebanyak 117 platform lain masih diproses guna mendapatkan izin,” kata Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank, Riswandi.

Alasan utama kenapa OJK belum mengeluarkan rekomendasi izin terhadap ratusan fintech tersebut, yakni karena mereka tidak tergabung atau terdaftar sebagai anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersamaan Indonesia (AFPI).

“Salah satu persyaratan adalah perusahaan tempat platform fintech itu bernaung, harus terdaftar sebagai anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersamaan Indonesia (AFPI),” jelas Riswandi.

Lanjut Riswandi, persyaratan tersebut telah diatur dalam Peraturan OJK No. 77/POJK.01/2016 Bab XIII Pasal 48. “Karena itu kehadiran para platform fintech ini diharapkan mampu ikut berkontribusi dalam meningkatkan indeks inklusi keuangan,” tutur Riswandi.

Data OJK, hingga akhir Januari 2019 total jumlah penyaluran pinjaman fintech peer to peer lending atau pinjaman online (pinjol) telah mencapai sekitar Rp25,59 triliun.

Jumlah puluhan triliunan rupiah itu berasal dari kinerja 99 penyedia layanan yang terlah terdaftar di OJK. Adapun fintech tersebyt bergerak di sejumlah segmen pembiayaan, seperti produktif, multiguna-konsumtif, dan syariah.

Sementara dari sisi lender, hingga saat ini 267.496 entitas yang juga turut memberikan pinjaman. Tercatat, hingg akhir Februari 2019 transkasi sebesar 123,3 miliar dolar AS. Mengalami kenaikan dibanding januari 2019120,1 miliar dolar AS atau naik sekitar 3,2 miliar dolar AS.

Sementara peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus mengatakan kehadiran fintech di Indonesia jangan mematikan perbankan konvensional. Dalam hal ini pemerintah harus mengatur dengan hati-hati terhadap berjamurnya fintech di Indonesia. “Fintech seharusnya bisa menjadi objek yang terintegrasi dan bersinergi dengan perbankan,” terang Heri.

Kehadiran fintech di Tanah Ari, kata Heri, juga belum menggembirakan karena meski dibilang dapat menghemat biaya transkasi, dan biaya-biaya lain karena menggunakan digital, namun faktanya masih belum sesuai harapan. “Diharapkan hadirnya fintech bisa meningkatkan efisiensi, tapi malah yang terjadi belum seperti itu,” nilai Heri.(din/fin)

Berita Lainnya

Pesta Durian Lebong

BENGKULU – Kabupaten Lebong termasuk salah satu daerah penghasil durian terbesar di Provinsi Bengkulu. Bahkan …